JALA Program Smart Gubernur/Wagub VIKTOR – JOSEF

Ternyata keluhan pejabat pemerintah soal minimnya dana APBN dan atau APBD dalam membiayai pembangunan untuk kemaslahatan rakyat, hanyalah tameng semata.  Padahal masih ada celah lain untuk bisa menutupi kekurangan dana tersebut melalui Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).  

Maumere, citra-news.com – UNTUK meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan rakyat di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Gubernur VIKTOR Bungtilu Laiskodat dan Wakil Gubernur (Wagub) JOSEF A. Nae Soi meluncurkan program smart ‘JALA’ – Jalan, Listrik, dan Air.

Wagub Josef mengatakan, tiga infrastruktur dasar jalan, listrik, dan air selalu saja menjadi keluhan masyarakat kita. Terlebih warga masyarakat di desa pedalaman yang memiliki komoditi unggulan. Hasil produksi masyarakat sulit dipasarkan lantaran tidak ada akses jalan.

“Oleh karena itu saya dan pak Viktor berkomitmen untuk membangun infrastruktur dasar bagi masyarakat. Ini program unggulan kami dengan target selama tiga tahun membangun jalan akses secara masif. Semua ruas jalan di NTT ini yang masih pengerasan atau Lapen (lapisan penetrasi) kita aspal semua,” kata Wagub Josef kepada wartawan di Maumere, Sabtu 8 September 2018.

Tentu menjadi pertanyaan, lanjut Josef, darimana dana untuk membangunnya sementara anggaran negara terbatas. Nah ini yang kerapkali menjadi keluhan pejabat pemerintah soal keterbatasan anggaran (dana) untuk membangun sarana prasarana yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat ini.

“Sesungguhnya ada celah lain untuk mendapatkan dana jika saja anggaran negara terbatas. Ada PINA – Program Insfrastruktur Non APBN/APBD. Diantaranya melalui dana CSR yang merupakan hasil Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU),”jelas dia.

Menjawab wartawan soal dana ABPD Provinsi untuk  membangun jalan, Wagub Josef mengakui pihaknya belum mengetahui besaran anggaran dimaksud. “Kami belum tahu berapa dana yang disediakan untuk membangun jalan. Tapi yang pasti saya dan pak Viktor akan melakukan terobosan melalui dana KPBU senilai Rp 4,5 triliun itu,”tandasnya.

Wagub Josef berjanji, tahun depan (2019) akan menyelesaikan pekerjaan jalan di Amfoang Kabupaten Kupang dan jalan di Elar Kabupaten Manggarai Timur. Juga beberapa ruas jalan kabupaten kita naikkan statusnya ke jalan provinsi, demikian juga jalan provinsi ke jalan negara. Dengan membangun dua jalur sehingga aksesibilitas perekonomian masyarakat menjadi lancar.

Soal TKI dan Tambang Hingga Mobil Fortuner

Tugas lain yang menjadi tanggung jawab Gubernur Viktor dan Wagub Josef adalah masalah TKI asal NTT. Bahwa terdapat ratusan TKI asal NTT yang bekerja di luar negeri, kata Josef.

Menurutnya, para TKI asal NTT yang berada di luar negeri punya ketrampilan yang cukup di sektor pertanian. Ini sebaiknya kita bawa kembali mereka ke NTT. Daripada mereka bekerja disana dibawa tekanan, kita moratorium saja.

“Dua minggu ke depan saya ke Malaysia. Saya minta para TKI yang ada agar meka semua kembali saja ke NTT. Kalau instansi pemerintah yang ada tidak punya modal untuk bisa membiayai mereka, saya dan pak Viktor akan membiayainya.  Bahwa ada dana CSR (Civil Society Responsibility) kita didik dan melatih mereka untuk lebih terampil. Jadi kita moratorium saja soal TKI. Sehingga dana CSR itu tidak dikorupsi lagi oleh dinas intansi yang berwenang mengurus TKI,”tegas Josef.

Terkait tambang, Wagub Josef menegaskan, “Soal tambang no way. Pak Viktor dan saya tidak akan mentolerir. Karena wajah NTT yang indah mempesona ini jangan dibuat bopeng. Iya bikinlah pariwisata”.

Terhadap perusahaan tambang, lanjut dia, kita stopkan saja. Termasuk yang sudah ada ijin kita stopkan. Karena wajah NTT  dengan luas daratan yang lebih kecil ini dengan adanya tambang akan merusak lingkungan alam. Berbeda dengan Kalimantan, Sumatera, atau Irian  yang memiliki wilayah yang luas.

“Dengan moratorium tambang ini para pengusaha tidak suka dengan kami, tidak peduli itu. Asal rakyat NTT suka pak Viktor dengan saya,”kata Josef.

Hal lain menyangkut kasus Rabies (anjing gila) yang selalu terjadi di wilayah Flores dan Lembata, menurut Josef, adalah kasus bencana. “Ketika saya jadi Wakil Ketua Panitia Khusus (Pansus) bencana di DPR RI, masalah rabies menjadi program utama kita. Namun penananggalangannya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Karena terkait dengan pengadaan vaksin atau serum rabies yang didatangkan dari luar negeri,”tandasnya.

Terkait pemberian satu unit mobil Fortuner untuk kebutuhan operasional Keuskupan Maumere, Wagub Josep menegaskan, tidak ada hubungannya dengan jabatan sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur NTT.

“Mobil ini kami berdua beli dengan uang pribadi kami jauh hari sebelum kami terpilih jadi Gubernur dan Wakil Gubernur NTT. Ini sebagai bentuk ucapan terima kasih pak Viktor dan saya setelah kami minta didoakan bapak Uskup Maumere waktu kami datang kampanye. Kami berdua sudah sepakat kami jadi atau tidak jadi Gubernur dan Wagub pun kami harus berterima kasih kepada bapak Uskup yang sudah mendoakan kami. Dan puji Tuhan sekarang kami sudah jadi Gubernur dan Wagub NTT,”jelas Josef kepada wartawan.

Dia mengatakan, setelah kampanye tempo hari kami (Viktor dan Josef) kembali ke Jakarta, kami singgah di Surabaya pesan mobil Toyota Fortuner. Kami langsung pesan plat Nomor Polisi  dengan kode L 276 VJ. Ini artinya, jelas Josef, L kode plat kendaraan Surabaya, tanggal 27 bulan 6 (Juni 2018) berlangsungnya Pilkada Serentak dan VJ itu Viktor Josef.  Terserah pihak Keuskupan Maumere mau ganti plat nomor silahkan saja.

“Satu hal yang pak Viktor sangat terkesan waktu itu adalah doa dan tumpangan tangan bapak Uskup Maumere ke bahu kami berdua. Setelah bapak Uskup berdoa lalu saya bisik pak Viktor, ade kita menang. Doa dan tumpangan tangan bapak Uskup inilah membuat pak Viktor dan saya tergerak hati untuk memberikan sesuatu dengan ihklas. Bahwa pemberian ini semata-mata dari pribadi kami berdua. Karena dari tangan kasih bapak Uskup jualah menjadikan kami berdua saat ini Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, ”ungkap Josef. +++ amor/cnc

Penulis : Armando WS/CNC

Editor : marthen radja

Gambar :  Wakil Gubernur NTT, JOSEF A. Nae Soi mencium tangan Uskup Maumere Mgr. Gerulfus Kherubim Parera, SVD disaksikan Uskup yang baru Mgr. Edwaldus Martinus Sedu di Rumah Bispu Maumere,  Sabtu 8 September 2018.

Foto : doc. CNC/armando WS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *