MINIM SARPRAS Jadi FOKUS Perhatian PEMERINTAH

Yohanna : Yang menjadi focus perhatian pemerintah daerah adalah kearah non fisik. Atau berkaitan dengan kualifikasi dan kompetensi tenaga pendidik/guru. Sedangkan menyangkut sarana prasarana (Sarpras) menjadi kewenangan pemerintah pusat.

Kupang, citra-news.com – KEPALA Dinas Pendidikan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), YOHANNA Lisapali, SH mengakui beberapa bangunan sekolah negeri di NTT dalam kondisi ‘kritis’. Artinya minim ketersediaan sarana prasarana (Sarpras) serta minimnya fasilitas yang dibutuhkan untuk kegiatan belajar mengajar (KBM).

Kepada citra-news.com di ruang kerjanya, Kamis 20 September 2018, Yohanna menjelaskan, terkit dengan minimnya Sarpras dan fasilitas baik untuk sekolah regular maupun                                                                                      sekolah luar biasa (SLB), pihaknya mau mengarahkan semua satuan pendidikan itu standar. Baik sarana prasarana dan juga fasilitas yang menjadi kebutuhan.

“Untuk kekurangan Sarpras kita seang mengarahkan semua satuan pendidikan itu standar. Akan tetapiuntuk menjawabnya diharapkan pihak sekolah adalah prestasi. Prestasi inilah yang memberikan motivasi bagi pemerintah untuk memperhatikan hal-hal yang menjadi kebutuhan. Iya bentuk perhatiannya macam-macamlah.  Salah satunya adalah membangun Sarpras,”kata Yohanna.

Lebih jauh Yohanna mengatakan, Untuk mengatasi minimnya Sarpras di beberapa jenjang/tingkat satuan pendidikan entah tingkat SD, SMP, SMA/SMK termasuk SLB di semua jenjang, pemerintah pusat mengatasinya melalui dana alokasi khusus (DAK). Selain memerlukan peran serta dari masyarakat untuk bisa membenahi kekurangan yang ada.

“Dari pemerintah daerah pihak stressing focus lebih ke arah non fisiknya. Karena ini berkaitan dengan mutu. Nah, kalau mutu maka erat kaitannya dengan kualifikasi dan kompetensi. Ini yang menjadi focus kita. Itu tidak berarti yang lainnya kita abaikan. Karena untuk mencapai sebuah satuan pendidikan yang standar itu yang menjadi kewajiban pemerintah,” jelas dia.

Dari DAK akan mampu mengatasi minimnya Sarpras, tegasnya berulang, karena akan diambilalih oleh pusat melalui dana alokasi khusus (DAK). Sedangkan APBD Provinsi kita stressing pada standar yang lain yakni soal mutu pendidikan. Baik untuk kualifikasi dan komptensi maupun budaya literasi.

Menjawab citra-news.com akan minimnya Sarpras juga tenaga pendidik khusunya di SLB, tegas Yohanna, untuk tenaga pendidik/guru bagi anak berkebutuhan khusus ini di NTT belum ada. Oleh karena itu pihaknya berupaya dengan membuat usulan ke pemerintah pusat agar juga mengalokasikan tenaga pendidikan bagi sekolah luar biasa (SLB) di semua satuan pendidikan.

“Iya puji Tuhan untuk Formasi CPNS kali ini sebanyak 500 orang guru untuk SMA/SMK dan SLB. Sehingga bisa menjawablah kekurangan tenaga pendidikan yang ada. Tapi sebelum-sebelumnya pemerintah juga mengalokasikan sejumlah anggaran untuk melatih tenaga pendidik bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus. Karena tidak mudah mendidik anak-anak yang abnormal seperti ini. Tapi sangat luar biasa walau dengan keterbatasan tapi anak-anak NTT mendapatkan prestasi di tingkat nasional,”jelas Yohanna.

Siswa SLB NTT Juara Umum Tingkat Nasional

Patut kita beri apresiasi atas torehan prestasi para siswa/siswi dari Sekolah luar Biasa (SLB) Provinsi NTT. Dalam keikutsertaan di Lomba O2SN- Olimpiade Olahraga Siswa Nasional- para siswa SLB menyabet Juara Umum IITingkat Nasional setelah Jawa Tengah.

“Perolehan juara lomba tingkat nasional ini Provinsi NTT di posisi Juara Kedua setelah Jawa Tengah dari 34 Provinsi di Indonesia. Memang kalau pendidikan khusus itu paling sering mendapat medali. Kali ini luar biasa Lomba O2SN tingkat Nasional tahun 2018 bagi anak berkebutuhan khusus,”tegas Yohanna.

Kegiatan lomba O2SN yang terpusat di Yogyakarta mengikutsertakan Anak Berkebutuhan Khusus. Kegiatan ini dibiayai oleh Pemenrintah pusat. Dan para peserta yang ada adalah hasil seleksi tingkat provinsi yang dibiayai APBD Provinsi, setelah terseleksi siswa berprestasi dari tingkat kabupaten di NTT.

Kepala Seksi Kesiswaan Bidang PKLK (Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus) Dinas Pndidikan Provinsi NTT, GORIS Bahi menjelaskan, ada 4 (Empat) siswa dari 9 (Sembilan) siswa yang berlomba mendapat thropi (piala) untuk juara I , Piagam Penghargaan, dan sejumlah uang.

Keempat siswa tersebut masing-masing atas nama (1) FEBRIANTI Noenbanu dari SLBN Nunumeu SoE Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) maraih Juara I lomba LARI 80 Meter Puteri tingkat SDLB; (2) ANTON Foeh juga dari SLBN Nunumeu meraih Juara III untuk lomba CATUR tingkat SDLB/SMPLB/SMALB; (3) FEBI Bansoma dari SLBN Manekat Niki Niki TTS Juara I lomba LARI  100 Meter Puteri SMPLB; (4) DESI Asnat Lenamah dari SLBN Manekat Niki Niki meraih  Juara Harapan I untuk lomba Lari 100 Meter Puteri tingkat SMALB.

Peserta lainnya atas nama Yovita Yanti Tahan dari SLBN Benpasi Kefamenanu untuk Boce Putri SDLB. Aleksander Lende dari SLBN Waikabubak untuk cabang balap Kursi Roda Tuna Netra Putra SMPLB; Aleksander Ina Nina Hajon dari SLBN Weri Larantuka untuk cabang Boce Putri SMALB. Dan Aprilia J. Klau dari SLBN Pembina Kupang juga Lomba Boce Putri SMPLB.

“Kepada siswa yang juara kita tingkatkan pembinaannya dan yang belum berhasil tahun depan kita ikutkan lagi. Siswa SLB pasti bisa memberikan yang terbaik untuk NTT. Beryukur tahun ini hasil Lomba O2SN dari NTT bisa meraih 2 Emas dan 1 Perak dan 1 Perunggu,”ucap Goris.

Dia menambahkan, perolehan hadiah bagi sang juara selain piagam dan medali juga dalam bentuk uang. Bagi juara I (medali emas) dengan nilai uang sekitar Rp 9 juta-an, Juara II dan III (medali perak) dengan uang sekitar Rp 7 jutaan, dan Perunggu sebesar Rp 5 jutaan.

Pada kesempatan itu beberapa pelatih/guru mengeluhkan soal fasilitas yang dibutuhkan untuk kegiatan lomba. Diantaranya kursi roda dan perbedaan penerapan media lomba untuk Boce. Dalam mana antara media pasir dan rumput.

Sementara Godlief Tefbana, Guru SLBN Nunumeu SoE TTS menyampaikan bangga karena siswa yang menyabet juara semuanya dari Kabupaten TTS. “Kami sangat berbangga terhadap siswa yang meskipun terbatas fisik dan mental namun bisa ikut serta di ajang lomba tingkat nasional. Ke depan mudah-mudahan pemerintah NTT lebih peduli lagi dalam mennjawabi kebutuhan baik Sarpas dan fasilitas pendidikan yang dibutuhkan. Terutama tenaga pendidik ataupelatih perlu ditambahkan,”pinta Tefbana. +++ cnc1

Gambar : Kepala dan Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi NTT, Yohanna Lisapali, SH dan Drs. Aloysius Min didampingi Goris Bahi foto bersama siswa O2SN dan para guru pembimbing, di Gedung I.H Doko Kupang, Kamis 20 September 2018

Foto : doc.CNC/marthen radja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *