DANA KOMITE Bukan Pungutan Tapi SUMBANGAN

Drs. BENYAMIN Lola, M.Pd. Doc.foto CNC/marthen radja.

Dugaan penyalahgunaan dana pendidikan oleh pihak sekolah menjadi kecemasan tersendiri bagi orangtua siswa. Menjawab kecemasan ini Kadis Pendidikan Provinsi NTT, Drs. Benyamin Lola, M.Pd angkat bicara. Berikut nukilannya…

Citra-News.Com, KUPANG – MASALAH KLASIK yang senantiasa dialami pihak sekolah, terutama sekolah negeri adalah sumbangan pendidikan. Ini berangkat dari pemahaman orangtua bahwa sekolah negeri itu MURAH bila tidak dikatakan gratis. Ditambah lagi dengan besaran pengenaan dana pendidikan yang berbeda-beda antara satu sekolah dengan sekolah yang lain. Hal ini memberi ruang bagi orangtua untuk mengadu ke berbagai pihak. Diantaranya mengadu ke pihak Ombudsman.

Terkait hal ini Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Drs. BENYAMIN Lola, M.Pd menyatakan, dana komite atau apapun namanya yang berasal dari orangtua siswa adalah bagian dari tanggung jawab bersama dalam memajukan pendidikan. “Pada prinsipnya pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara orangtua, masyarakat, dan guru. Para pihak ini adalah para pemangku kepentingan pendidikan. Yang bertanggungjawab penuh terhadap maju mundurnya sekolah atau tinggi rendahnya mutu pendidikan,”kata Benyamin saat ditemui sejumlah awak media  di Kupang, Selasa, 27 Agusus 2019.

 Drs. BENYAMIN Lola, M.Pd di ruang kerjanya, Selasa 27 Agustus 2019. Doc. CNC/marthen radja.

Menurutnya, pengenaan dana komite sekolah untuk setiap siswa adalah bentuk dari tanggung jawab orangtua terhadap lembaga pendidikan (sekolah). Jadi dana komite itu sumbangan orangtua siswa bukan pungutan. Karena dana komite ini, tegas dia, ada dasar hukumnya. Yakni berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Permendikbud RI) Nomor 75 Tahun 2016 tentang Dana Komite.

“Ada berbagai sebutan terkait sumbangan pendidikan dari orangtua siswa dimaksud. Ada sekolah yang menyebutnya dana komite. Juga ada sekolah yang menyebutnya SPP (Sumbangan Pembangunan Pendidikan). Ini kalau dulu orang bilang uang sekolah yang dibayarkan orangtua siswa namanya SPP,”ucap Benyamin.

Pemanfaatan Harus Transparansi

Manfaat dana komite dari sumbangan orangtua ini, lanjut dia, adalah solusi untuk menambah beban biaya yang ditanggung dari Dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Yang adalah kewajiban dari pemerintah  memberikan sumbangan kepada semua sekolah negeri. Meski demikian namun dana BOS ini juga dalam jumlah yang terbatas.

Orangtua dan siswa baru saat pendaftaran ulang di SMKN 5 Kupang. Doc. CNC/marthen radja.

“Memang dana komite ini tidak wajib. Akan tetapi melalui musayawarah dan mufakat antara sekolah dengan pengurus komite. Jika sekolah membutuhkan pengembangan sarana prasarana namun dana BOS tidak mencukupi maka dana komite ini yang dimanfaatkan. Atau untuk kebutuhan siswa yang tidak mampu dijangkau oleh dana BOS iya, dana komite solusinya,”ungkap Benyamin.

Pengenaan dan pemanfaatan dana komite, tegasnya berulang, ini semua dibicarakan bersama saat musyawarah antara kepala sekolah beserta staf komite dengan Ketua komite dan jajarannya. Nah, besaran pengenaan dana komite di setiap sekolah berbeda-beda jumlahnya. Demikian halnya kebutuhan sekolah juga berbeda-beda

Gedung RKB dua lantai di SMKN 5 Kupang. Doc. CNC/marthen radja.

Saya contohkan, sebut Benyamin, di SMAN 5 Kota Kupang membangun satu unit gedung laboratorium IT (Informasi dan Teknologi). Di SMAN 1 Fatuleu Kabupaten Kupang, mereka membangun 6 ruang kelas baru (RKB). Sementara di SMAN 1 Kalabahi Alor membangun gedung utama dua lantai. Juga di SMKN 5 Kota Kupang membangun RKB dua lantai, ditopang oleh dana sumbangan dari komite sekolah.

“Jadi sumbangan dana pendidikan entah berupa dana BOS atau Dana Komite, semuanya bermuara untuk kebutuhan lembaga pendidikan. Lebih dari itu merupakan bentuk tanggung jawab bersama dalam memajukan pendidikan di tanah air. Namun dibalik itu harus ada transparansi dan pertanggungjawaban yang jelas dari pemangku kepentingan yang ada. Ini untuk meminimalisir adanya dugaan-dugaan,”kata Benyamin. +++ marthen/citra-news.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *