DIPERTANYAKAN, Dua RKB Habiskan Anggaran 347 Juta

Hunce Lapa : Bangunan dua ruang kelas baru (RKB) system ‘suntik’ di SMKN 5 Kota Kupang menghabiskan uang negara (APBN) sebesar Rp 347 juta. Itu untuk bangunan lantai duanya saja. Sedangkan bangunan lantai satunya bersumber dari Dana Komite.

Kupang, citra-news.com – KEPALA Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur (P dan K Prov.NTT), Drs. BENYAMIN Lola, M.Pd berjanji akan membentuk tim untuk menelisik penatalaksanaan sekolah-sekolah tingkat SMA/SMK se-Provinsi NTT. Khususnya di SMKN 5 Kota Kupang yang disinyalir tidak seusia aturan dalam urusan penatalaksanaan sekolah.

“Setahu saya ada dana pembangunan sarana prasarana (Sarpras) yang bersumber dari APBN. Atau yang disebut dengan Dana Banper (Bantuan pemerintah) dari pemerintah pusat. Jika benar ada sinyalemen membangun itu gedung atau ruang kelas di SMKN 5 Kupang tidak sesuai aturan, maka dari dinas akan turun ke lokasi,”ucap Benyamin saat ditemui citra-news.com di ruang kerjanya belum lama ini.

Terkait pembangunan Sarpras di SMKN tersebut, Hunce Lapa, S.Pd, membenarkannya kalau ruang kelas baru (RKB) tersebut dibangun dengan system suntik. Ini karena bangunan ini dirancang dua lantai. Dan mengingat sudah tidak ada ruang lagi untuk membangunnya maka ruang kelas yang ada direnovasi ke bangunan dua lantai.

“Awalnya kan direncanakan bangun satu lantai saja. Akan tetapi ada dana komite yang dipungut dari masing-masing siswa makanya kita bangun dua lantai. Dana talangan dari Komite Sekolah kita bangun untuk lantai satunya. Sedangkan untuk lantai duanya kita bangun dengan sumber dana dari APBN atau Banper tahun 2018. Dengan besaran dana untuk membangun lantai duanya ini sekitar Rp 347 juta,”jelas Hunce ketika ditemui awak media citra-news.com dan mediapurnapolri.net di Gedung SMKN 5 Kupang, Kamis 9 Mei 2019.

Menurut Hunce, bangunan gedung dengan system suntik itu dibangun sejak tahun 2018 dengan cara Swakelola. Artinya dari pihak sekolah membentuk panitia pembangunannya. Sehingga dalam hal perencanaan, pelaksanaan, juga pengawasannya dilakukan oleh panitia yang ada. Kan Timwas (tim pengawasan)-nya kan dari sekolah 2 orang. Dan pelaporannya langsung ke Kementerian Pendidikan Nasional melalui Dinas P dan K Provinsi NTT.

 

Bahkan Hunce membantah kalau dirinya dikatakan Pimpro (Pimpinan Proyek) gedung berlantai dua itu. “Bukan Pimpro ju (juga) pak. Betong (kami/saya) kan sebagai ketua panitia swakelola. Gedung inikan posisinya kan sudah selesai. Tapi belum bisa dipakai. Inikan kendalanya begini…Itu hari kan saya sudah jelaskan juga bahwa bagian bawah (lantai satu) ini kan dibangun dengan dana Komite. Jadi kita tidak bisa memaksakan supaya kalau bagian dibawahnya kan belum selesai. Kan ada dana komite yang juga tidak mencukupi… Dan sekarang kan kita fokuskan gaji honor guru pegawai dong (mereka). Pengeluaran tiap bulan kan dari dana Komite tokh. Kita menyesuaikanlah kalau ada dana lebih kita menyesuaikan untuk selesaikan,”jelas Hunce seadanya.

Kan beberapa waktu lalu pak Asa (Plt kepala sekolahKasek) mengatakan, sudah dipakai untuk UNBK, tohok wartawan. “Yang…yang bagian bawah? Eh belom (belum). Yang dibawah itu yang hari kitong (kita)  pakai untuk rapat sa (saja). Rapat deng (dengan) orangtua murid dong  didalam. UNBK kan kita pakai tiga Lab. Tapi ahun pelajaran ini sudah bisa digunakan,”tepis Hunce.

Satu Gedung Tapi Dua Sumber Dana

Menjawab soal sumber dana, lagi-lagi Hunce menjelaskan, pembangunan gedung dua lantai tersebut dibangun dari dua sumber dana yang berbeda. Untuk bangun lantai satu dibangun menggunakan sharing komite. Dan bagian lantai duanya dibangun dengan dana yang bersumber dari APBN Murni 2018 (dana Banper pusat).

“Untuk bangunan fisik lantai duanya dari dana Banper Pusat sebesar Rp 347 juta. Kan dua ruangan juga lantai satu ada dua ruangan, atau totalnya 4 (empat) ruang kelas. Karena inikan swakelola nanti laporanya langsung ke Kementerian mengetahui Dinas P dan K Provinsi NTT. Sedangkan untuk Tim Pengawas (Timwas) oleh pihak sekolah sebanyak 2 orang,”jelas dia.

Soal kelebihan material bangunan yang disinyalir dibawa kabur oleh beberapa oknum guru, Hunce membantahnya. “Bukan kita bawa pulang itu material yang sisa. Bukan juga diperjualbelikan ke pihak gereja. Kan kita ganti uangnya. Kan kita butuh bahan lain, misalkan butuh pasir tapi yang ada cuma kerikil. Maka ada kawan guru yang ambil berapa ret itu batu kerikil nanti dia yang bayar kembali untuk kita beli pasir. Atau kita beli bahan bangunan lainnya seperti keramik atau kebutuhan lainnya. Iya namanya kita kerja itu tambah kurang itu wajar tokh, pak. Kan kita masih butuh barang lain. Contohnya semen juga kita masih butuh. Pasir juga untuk plester dan lain-lain,”beber Hunce.

Pada kesempatan terpisah, oknum guru di SMKN 5 Kupang yang meminta namanya tidak dipublikasi mengatakan, pada tahun 2018 ada beberapa pembangunan baru. Selain RKB dengan konstruksi dua lantai juga dibangun satu unit gedung Lab (Laboratorium).

Menurut sumber itu, Hunce Lapa selaku Waka (Wakil Kepala Sekolah) Bidang Prasarana di SMKN 5 Kupang, mengetahui persis darimana sumber dana untuk membangun dua unit gedung ini. Karena Hunce juga sebagai ketua panitia pembangunan.

Gedung yang dua lantai itu, beber dia, awalnya Banper itu hanya membangun dua ruang kelas saja. Jadi tidak harus membangun lantai dua. Tapi kebijakan untuk membangun gedung dua lantai itu setelah rapat tertutup dari beberapa oknum guru yang terlibat sebagai panitia pembangunan. Dengan tawaran agar dibangun dua lantai karena keterbatasan lahan.

Tapi karena tidak dipasang papan proyek untuk diketahui public. Seberapa besarnya dana pembangunan gedung dua lantai. Mana bangunan dengan dana Banper (APBN Murni tahun 2018) dan mana bangunan dengan dana sharing komite. Sebab ada bangunan yang menggunakan dana Komite yakni uang yang dipungut dari setiap siswa sebesar Rp 250.000. Demikian juga berapa besar dana untuk membangun satu unit gedung laboratorium. Ini semua harus diumumkan secara transparan. +++ marthen/citra-news.com

Gambar : Hunce Lapa, S.Pd saat ditemui di ruang Kepala Sekolah SMKN 5 Kota Kupang, Senin 25 Pebruari 2019.

Foto : Doc. CNC/marthen radja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *