TERJERAT Kasus Korupsi NTT FAIR, YA dan DT, Cs Ditahan Kejati NTT

Foto Illustrasi YULIA Afra, Mantan Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Permukiman ((Perakim) Provinsi NTT saat diwawancarai awak Citra News di ruang kerjanya, Agustus 2017. Doc. CNC/marthen radja.

Dugaan kasus korupsi pembangunan Gedung NTT Fair di Kota Kupang, pihak Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur (Kejati NTT) telah memeriksa 25 orang saksi. Termasuk Frans Lebu Raya (mantan Gubernur NTT dua periode) dan Sekretaris Daerah (Sekda) NTT, Benediktus Polo Maing. Hampir pasti penyelidikan Kejati NTT masih terus berlanjut. Dikabarkan akan bertambah jumlah saksi dan tersangka. Asal saja Kejati NTT secara nurani membongkarnya tanpa ada muatan kepentingan, bukan?

Citra-News.com, KUPANG – KEPALA Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur (Kajati NTT), FEBRIE Ardiansyah, melalui Kepala Seksi Penyidikan(Kasi Dik), Wijaya mengatakan, ada 6 (enam) orang telah ditetapkan sebagai tersangka pada 10 Juni 2019.

Masing-masing, sebut Wijaya berinisial YA, DT, HP, LL, BY dan FP. Dari keenam tersangka tersebut, DT merupakan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan YA selaku Pengguna Anggaran (PA). Sedangkan HP dan LL sebagai Kontraktor dan BY dan FB sebagai Konsultan Pengawas.

Foto Illustrasi YULIA Afra, saat diwawancarai awak citra-news.com terkait pembangunan Gedung NTT FAIR di Bimoku dan Monumen Pancasila di Tenau Kota Kupang-Timor NTT, Juni 2018. Doc. CNC/marthen radja

“Kami sudah tetapkan enam orang ini sebagai tersangka. Hari ini keenam tersangka tersebut langsung kami tahan. Masing-masing, sebut Wijaya berinisial YA, DT, HP, LL, BY dan FP. Dari keenam tersangka tersebut DT merupakan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan YA selaku  Pengguna Anggaran (PA). Sedangkan HP dan LL sebagai Kontraktor dan BY dan FB sebagai Konsultan Pengawas”beber Wijaya.

Menjawab peningkatan status Saksi ke Tersangka dalam pengembangan kasus oleh  Tipidsus Kejati NTT, Wijaya menyatakan,pihaknya telah menyelidiki dugaan kasus korupsi pembangunan Gedung NTT Fair di NTT. Sudah sebanyak 25 orang saksi telah diperiksa, termasuk Frans Lebu Raya (mantan Gubernur NTT) dan Sekretaris Daerah (Sekda) NTT, Benediktus Polo Maing.,”ungkap Wijaya seperti dikutip awak Kompas.com, Sigiranus Marutho Bere di Kupang, Kamis 13 Juni 2019.

Menurut Kasi Dik Kejati NTT itu, Gedung NTT Fair dibangun mulai Mei 2018 dengan anggaran Rp 31 miliar. Namun, hingga batas waktu yang ditentukan yakni Desember 2018, proyek belum rampung. Kemudian, proyek diperpanjang selama 50 hari kemudian ditambah lagi 40 hari. Tapi kontraktor tidak juga mampu merampungkan pekerjaan itu.

“Progres pembangunan gedung per 31 Maret 2019 hanya mencapai 54,8 persen. Sementara itu, anggaran pembangunan gedung ternyata sudah cair 100 persen”, tambah Wijaya.

Dikatakannya, Tim penyidik Kejati NTT telah menetapkan enam orang sebagai tersangka. Mereka adalah DT, YA, HP, LL, BY dan FP. Salah satu tersangka berinisial LL ditangkap di Jakara.

 

Foto Linda Liudianto alias LL digiring dengan kursi roda (alasan sakit) oleh petugas saat tiba di Bandara El Tari Kupang, Kamis 13 Juni 2019. Doc, CNC/Web.

Tersangka LL ditangkap karena tidak kooperatif dengan jaksa. Selain itu, LL juga diketahui memiliki 10 nomor telepon genggam untuk melakukan komunikasi, ujarnya.

Menjawab soal kerugian negara, Wijaya menyebutkan kerugian negara akibat korupsi dalam kasus itu mencapai miliaran Rupiah.

“Berdasarkan hitungan dari ahli, negara mengalami kerugian sebanyak Rp 6 miliar,” ungkap Wijaya.

Dia menambahkan, Kejati NTT masih terus melakukan pengembangan terhadap kasus itu, dengan meminta masukan dari tim ahli dan juga saksi. Salah satunya dengan memeriksa dan meminta keterangan dari mantan Gubernur NTT Frans Lebu Raya dan Sekretaris Daerah NTT Benediktus Polo Maing.

Secuil Fakta Dibalik  Mangkrak Proyek Dinas PERAKIM

Diketahui, Tersangka LL alias Linda Liudianto ditangkap di Jakarta. Penangkapan dilakukan karena LL beberapa kali mangkir dari panggilan sidang. LL diterbangkan dengan pesawat Batik Air dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta dan tiba di Bandara El Tari Kupang, pada Kamis 13 Juni 2019 sekira  pukul 12.30 Wita.

Sebelumnya LL banyak kali mangkir dari panggilan Kejati NTT. Dikabarkan juga LL sering gonta ganti nomor handphone (ada 10 nomor). Tim penyidik khusus (Tipidsus) Kejati NTT juga manusia yang punya batas kesabaran.

Meski puluhan nomor atau dengan intrik alibi lainnya itu, jutru meletup gairah Tipidsus Kejati NTT untuk terus mencari untuk mendapatkan. Dan mendapatkan untuk mencari lagi. Ibarat sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh ke kubangan lumpur jua, Tersangka LL Cs harus menelan pil pahit. Akibatnya Para tersangka lainnya yang mungkin masih ada kesempatan untuk diperiksa lagi, terpaksa ditahan bersamaan dg Tersangka LL pada jam dan hari yang sama.

“Tersangka Linda Liudianto alias LL adalah kontraktor pelaksana proyek pembangunan Gedung NTT Fair. Tersangka LL sudah berulang kali mangkir dari panggilan K ejati NTT untuk diperiksa sebagai saksi. Tapi akhirnya juga LL ditangkap Tipidsus Kejati NTT lantaran ingin melarikan diri ke luar negeri”,ungkap Wijaya, Kepala Seksi Penyidik (Kasie Dik) Kejati NTT, kepada wartawan melalui pesan Whatsapp-nya.

Mendaras pada kasus Gedung NTT FAIR, yang saat itu merupakan  salah satu item proyek di Dinas Perumahan Rakyat (PERA) Provinsi Nusa Tenggara Timur. Maka peran DT (Dona Fabiola Toh) merupakan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan YA (Yuli Afra) selaku Pengguna Anggaran (PA).

Foto Illustrasi DONA Fabiola Toh, saat diwawancarai awak tabloid Citra News terkait program PNPM-MP (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan) Juli 2014. Doc. CNC/marthen radja

Selain proyek Gedung NTT Fair, kala itu Dinas PERAKIM juga membangun Monumen PANCASILA di kawasan Tenau – Blok Kota Kupang. Bangunan diatas tanah hibah milik pengusaha Theo Widodo itu hingga kini sedang mangkrak. Sama halnya dengan Gedung NTT Fair juga mangkrak.

Mirisnya, pembangunan pagar dan taman di Gedung SASANDO Kantor Gubernur NTT, disinyalir satu paket dengan salah satu atau dua dari megaproyek tersebut diatas. Pantauan awak citra- news.com diduga ada kait mengait didalamnya.  Jika ditarik benang merah kekuasaan maka pejabat yang menangani proyek pembangunan gedung Sasando oleh PT Waskita Karya di era Gubernur dan Sekda NTT, Frans Lebu Raya dan Frans Salem itu adalah Zacharias Moruk.

Diketahui, proyek pertamanan dan pagar keliling Gedung Sasando, dikerjakan hingga awal kepemimpinan Viktor Bungtilu Laiskodat dan Josef A. Nae Soi (Gubernur dan Wakil Gubernur NTT). Tidak diketahui kontraktor mana yang mengerjakan karena tidak ada papan proyek.

Terkait hal itu awak citra-news.com sudah berulangkali berusaha mewawancarai Zacharias Moruk sejak menjadi Kepala Biro Umum hingga sekarang jadi Kepala Badan Keuangan Setda NTT.  Tapi belum jua berhasil karena sang kepala beralasan sibuk.

Soal sosok  Dona Fabiola Toh alias DT, saat Dinas Pera NTT belum direformasi juga berulangkali minta waktu untuk diwawancarai, ada-ada saja alasannya.

“Pekerjan Gedung NTT Fair memang dinas ini (Perakim) yang melaksanakan. Sebetulnya pekerjaan ini oleh Dinas Pariwisata Prov.NTT. Tapi karena terkait infrastruktrur permukiman/perumahan menjadi Tusi (tugas dan fungsi) dinas kami. Perlu dipahami kami dinas baru karena sebelumnya hanya salah satu bidang dari Dinas PU yakni Bidang Cipta Karya. Nanti teknisnya tentang Gedung NTT Fair bisa ditanya ke ibu Dona”, ucap Yuli saat diemui d ruang kerjanya Juni 2018.

Usai Yuli diwawancarai, saat itu citra-news.com menuju lantai 2 gedung dinas yang terletak di bilangan WJ Lalamentik Kota Kupang. “Sudah ketemu ibu Kadis ko? Nanti lain kali sa beta ada sibuk na”, ucap Dona. +++ citra-news.com/kompas.com/mediapurnapolri.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *