Tallo : 38 PKL DIRELOKASI Bukan DIGUSUR

Drs. KIRENIUS Tallo saat ditemui awak citra-news.com di ruang kerjanya, Rabu 28 Agustus 2019. Doc. Foto CNC/marthen radja

Pemerintah telah memberikan ruang bagi para pedagang kaki lima (PKL) untuk berusaha. Namun perlu penataan yang baik  agar wajah perkotaan terlihat bersih, indah dan rapi.

Citra-News.Com, KUPANG – KEPALA DINAS Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Nusa Tenggara Timur (Perindag Prov. NTT), M. NAZIR Abdullah melalui Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan, Drs. KIRENIUS Tallo menyatakan, para pedagang kaki lima (PKL) di bilangan Jalan Polisi Militer Kota Kupang telah direlokasi ke lokasi baru.

“Jadi para PKL yang ada ini pemerintah provinsi NTT merelokasi bukan menggusur. Kami dari OPD terkait diperintahkan bapak Gubernur Viktor untuk melakukan penertiban terhadap PKL yang berjualan di sepanjang Jalan Polisi Militer. Kami lakukan pendekatan by persona (orang perorang) dan mereka setuju untuk dipindahkan atau direlokasi,”ungkap Tallo saat ditemui citra-news.com  di ruang kerjanya, Rabu 28 Agustus 2019.

Tallo mengakui, dirinyalah yang berupaya menempatkan PKL untuk berjualan di Jalan Polisi Militer Kota Kupang. Awalnya ada bantuan 100 unit tenda dari kementerian Perdagangan RI untujk PKL di Kota Kupang. Saat itu saya melakukan survey di beberapa tempat di wilayah Kota Kupang. Terakhir mendapat lokasi di belakang Kanrtor Gubernur NTT itu, setelah mendapat ijin dari Gubernur TT saat itu Frans Lebu Raya. Saya (Tallo, red) komunikasikan dengan Wali Kota dan meminta Dinas  Perindag Kota untuk mendatanya.

“Saya ini adalah pelaku yang menempatkan para PKL yang ada itu. Kalau yang datang berdemo di Komisi V DPRD NTT itu besar kemungkinan bukanlah yang terdata di  Dinas Perindag Kota Kupang. Apalagi PKL yang awal mendapat bantuan tenda itu saat ini sudah tidak ada lagi. Ada juga yang menjual tyendanya ke PKL yang lain. Jadi secara data mestinya di pemerintahan Kota Kupang. Tugas kami hanya merelokasi artinya mencarikan lokasi alternative. Kalau PKL kemarin mereka berdemo menyatakan mereka digusur itu keliru,”kata Tallo diamini Kepala Bidang Perlindungan Konsumen dan tertib Niaga, GABRIEL Pakaenoni.

GABRIEL Pakaenoni (gambar kiri) dan gambar kanan OKTOVIANUS Kase, penjual kelapa muda saat ditemui awak citra-news.com di bilangan Hotel cendana Kota Kupang, Rabu 28 Agustus 2019. Doc. Foto CNC/marthen radja

Beberapa PKL yang datang berdemo di DPRD Provinsi NTT sebelumnya sudah teken pernyataan ketika Camat Oebobo menggelar rapat. Setelah buat pernyataan bukannya membangun lapak untuk mulai berjualan di belakang Hotel Cendana tapi datang berdemo meminta supaya tetap berjualan di Jalan Polisi Militer.

“Padahal beberapa PKL lainya sudah berjualan di lokasi baru itu. Saya ini sudah berkunjung ke lapak-lapak mereka. Siapa bilang tidak laku. Awal-awal memang pengunjung masih kurang karena belum banyak konsumen yang tahu. Tapi semakin hari semakin tersosialisasi pasti akan laris manis jualan para PKL,” ungkap Tallo.

Tidak Mau Diajak Berdemo

Ditemui secara terpisah, OKTOVIANUS Kase mengakui dirinya adalah salah satu PKL yang berjualan kelapa muda di Jalan Polisi Militer. Namun karena dia mengikuti aturan pemerintah saat ini harus berjualan di lokasi baru.

“Kita masyarakat ini harus taat terhadap pemerintah. Apa yang dilakukan pemerintah adalah untuk kebaikan bersama. Kalau masyarakat mau keras hati tidak bisa mau sampai dimanapun. DPR boleh omong tapi mereka tidak kasih bantuan untuk PKL. Kalau pemerintah bantu kasih tempat juga ada bantuan tenda,”kata Okto.

Dikatakan Okto, ada sekitar 13 PKL berdemo ke DPRD Provinsi. Sebelumnya melakukan demonstrasi ke DPRD Kota Kupang. Mereka yang kemarin (Senin, 26 Agustus 2019, red) berdemo ke DPRD Provinsi ajak juga kami beberapa PKL disini. Tapi kami tidak mau. Karena sudah ada pernyataan bersama saat rapat di Kantor Camat Oebobo.

‘Waktu rapat itu dari Dinas Perindag Provinsi NTT pak Kiremius Tallo. Juga dari Pemerintah kota yang hadir ibu Leni. Ada juga Pol PP provinsi dan  Lurah Oebobo. Kami PKL yang dari Jalan Polisi Militer sudah sepakat untuk dipindahkan. Itu mereka yang berdemo itu juga buat pernyataan. Tapi koq bikin bodok diri begitu,”ucap Okto.

PKL pertama berjualan setelah direlokasi dari Jalan Polisi Militer Kota Kupang. Tampak tanah putih tempat jualan Oktovianus Kase menata tempat jualannya. Doc. Foto CNC/marthen radja.

Setelah mereka dari DPRD Provinsi datang kesini cerita ke teman-teman PKL yang kalau anggota DPR Provinsi mau supaya PKL tetap berjualan di Jalan Polisi Militer. Bahkan ada yang mengatakan anggota DPR provinsi usir keluar Dinas Perindag dan Pol PP Provinsi NTT. Nanti dua mingu tidak ada perkembangan maka tetap berjualan di Jalan Polisi Militer.

“Saya disini sudah hampr sebulan. Ini saya dengan penjual Salome kami orang pertama membuka lapak di lokasi baru ini. Kalau mereka yang lain termasuk yang pergi demo itu juga disiapkan lokasinya. Tapi mereka tidak datang berjualan,”kata Okto.

Orangtua setengah baya dan mengaku asal dari Kabuoaten TTS itu menambahkan kalau dirinya berjualan kelapa muda sejak tahun 1991. Ketika itu lokasi jualnya di depan Polda NTT. Setelah ditertibkan ia pindah ke Jalan Polisi Militer dan saat ini direlokasi ke belakang Hotel Cendana Kupang.

“Tidak apa-apa karena kita ini diatur oleh pemerintah. Bukan kita balik atur pemerintah. Namanya rejeki Tuhan kasih asal kita berusaha yang baik. Memang awal-awal belum banyak laku. Tapi pak Tallo bilang nanti temple papan di depan Jalan El Tari kalau disini pusat berjualan kepala muda di Kota Kupang,”tandasnya. +++marthen/citra-news.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *