KPA dan PPK Saling ‘Pingpong’ Dugaan Skandal Pengadaan Bibit Cengkeh

 Ir. JOHANIS Octovianus, MM. Doc.CNC/marthen radja-Citra News.

Musim kemarau lebih lama dari musim penghujan menjadikan wilayah NTT masuk dalam peta kerawanan kronis. Namun belum dikategorikan rawan pangan. Karena masih ada spot-spot di banyak wilayah kabupaten ada sumber air tanah yang bisa dimanfaatkan untuk tanaman pertanian dan perkebunan.

Citra-News.Com, KUPANG – KEPALA DINAS Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Ir. JOHANIS Octovianus, MM mengatakan kondisi NTT yang mengalami musim kemarau lebih lama dari musim penghujan menjadikan NTT masuk dalam peta kerawanan kronis. Meski demikian namun NTT belum dikategorikan rawan pangan. Karena pada spot-spot di banyak wilayah kabupaten masih ada sumber air tanah yang bisa dimanfaatkan untuk tanaman pertanian dan perkebunan.

“Mulai Oktober sesungguhnya NTT memasuki musim penghujan. Tapi belum juga hujan turun. Tapi di beberapa wilayah masih ada spot-spot yang masih tersedia sumber air tanah. Sehingga dari sumber yang ada ini bisa dimanfaatkan untuk tanaman pertanian dan perkebunan,”kata Octo ketika ditemui di Kupang, Kamis 17 Oktober 2019.

Memasuki musim tanam (MT) biasanya ada semacam gerakan mengolah lahan, tuturnya. Para petani mulai membersihkan dan mengolah lahan garapannya untuk ditanami berbagai jenis tanaman pertanian. Termasuk proses pengadaan benih atau bibit tanaman perkebunan. Sehingga para penangkar benih juga mulai menjalin relasi bisnis dengan para pengusaha (rekanan) yang bergerak di bidang pengadaan (tender proyek). Bahkan penangkar benih tanaman perkebunan dengan memanfatkan air tanah yang ada mampu melakukan proses pembibitan

“Memasuki bulan Oktober keatas masyarakat petani kita mulai mengolah lahan. Termasuk dilakukan proses pengadaan benih atau bibit tanaman. Sehingga tidak heran kalau para rekanan mulai turun mengecek penangkar-penangkar benih yang nantinya menjadi partner bisnis pengadaan bibit,”katanya

Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) di dinas itu menambahkan, untuk bibit padi dan jagung sudah menjadi hal lazim dan biasanya jelang musim tanam para penangkar benih mulai melepas varietas-varietas unggul. Demikian juga bibit tanaman perkebunan seperti cengkeh, kopi, kakao, vanili, jambu mete, juga tanaman umur panjang lainnya.

“Khusus untuk pengadaan bibit cengkeh  tahun 2018 saya juga dengar kalau ada masalah. Tapi waktu itu saya belum disini. Setelah dua bulan saya menjabat sebagai kepala dinas, saya sendiri turun cek ke lapangan. Dan benar ada masalah antara rekanan dengan penangkar bibit cengkeh. Tapi sebaiknya ditanyakan ke ibu AFIA selaku PPKnya,”jelas Octo seadanya.

Hasil pengecekan lapangan menurut Octo, rekanan pengadaan bibit cengkeh di Kabupaten Manggarai Timur, Flores NTT belum membayar kewajibannya ke pihak penangkar.

“Atas informasi itu saya minta pertanggungjawaban dari rekanan. Dan dia bersedia untuk membayarnya. Rekanan itu berjanji kalau di bulan Oktober ini dia akan bayar. Kalau dia lalai maka saya akan coret dia dari kepesertaannya mengkuti pelelangan di dinas ini,”tegasnya.

Ir. JOHANIS Octovianus, MM. Doc. CNC/marthen radja-Citra News

Sembari menambahkan, soal rekanan mana dan berapa luasan lahan dan jumlah bibit (anakan) cengkeh yang menjadi piutangnya itu, lebih jelasnya ada di pihak PPK. Karena mereka yang lebih tahu daripada saya (Octo, Red).

Informasi yang diterima citra-news.com menyebutkan, pengadaan bibit (anakan) cengkeh tahun 2018  disinyalir adalah rekanan yang sama yang menang tender proyek yang sama tahun 2019. Ada beberapa kejanggalan ketika proses tender terjadi.

Dikabarkan, saat proses tender di ULP Biro Pengadaan Barang dan Jasa Setda Provinsi NTT pihak kontraktor (rekanan) diminta pembuktian dukungan para penangkar bibit cengkeh di Manggarai Timur. Anehnya, surat dukungan tersebut baru tiba dua hari kemudian setelah sang rekanan dinyatakan sebagai Pemenang proyek pengadaan bibit cengkeh di Manggarai Timur.

Afia : Nanti Kami Cek Apakah CV Robinson

Pada kesempatan terpisah, AFIA Salama, STP mengaku belum mengecek lebih jauh terhadap CV Robinson selaku pemenang di tender proyek pengadaan bibit cengkeh di Kabupaten Manggarai Timur tahun 2019.

“Kalau soal prosesnya di ULP kami tidak tahu. Kewajiban kami hanya membayar nilai proyek setelah syarat-syaratnya dipenuhi oleh rekanan (kontraktor). Setelah rekanan menyerahkan bukti dokumen (Berita Acara) bahwa bibit cengkeh tersebut telah diserahkan ke petani. Termasuk hasil foto lapangan. Kami juga tidak berhubungan dengan penangkar. Itu kewenangan rekanan dia mau memilih penangkar yang mana itu urusan dia,”beber Afia.

Menjawab bahwa CV Robinson diduga adalah rekanan yang sama di pengadaan tahun 2018, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek pengadaan bibit cengkeh ini mengatakan, pihaknya belum mengeceknya lebih jauh.

“Nanti kami cek apakah pengadaan bibit cengkeh tahun 2018 itu juga CV Robinson yang kerja? Untuk pengadaan tahun 2019 ini memang CV Robinson lah pemenangnya. Ini dokumennya,”ungkap Afia sembari menunjukan dokumen CV Robinson ke awak citra-news.com. Namun ketika hendak memotret dokumen tersebut tapi Afia menolaknya.

Lebih jauh Afia menjelaskan, jumlah anakan sesuai tertuang dalam dokumen sebanyak 18.000 anakan cengkeh. Dan sejumlah anakan itu akan siap dibagikan ke petani di Manggarai Timur sampai tanggal 10 Desember 2019. Untuk ditanami petani diatas lahan seluas 300 hektar yang tersebar di 5 kecamatan. Itu artinya satu hektar jumlah anakan yang ditanam sebanyak 60 pohon

“Jadi total luasan lahan yang siap ditanami anakan cengkeh hasil pelelangan tahun 2019 adalah 300 hektar yang tersebar di 5 (lima) kecamatan di Kabupaten Manggarai Timur. Jumlah desa di masing-masing kecamatan antara 2 sampai 3 desa. Dan nilai kontraknya sebesar Rp 255.600.000,00-Sejumlah dana ini akan kami bayarkan setelah pihak CV Robinson menunjukkan bukti dokumen berupa berita acara penerimaan petani cengkeh yang ada,”tegasya.

Kelima kecamatan dimaksud, tambah Afia, adalah Kecamatan Ranamese, Langke Rembong, Kotakomba, Sambi Rampas, dan Kecamatan Lambaleda. +++ marthen/citra-news.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *