Bupati EPY Wajibkan ASN MENGHIJAUKAN Lahan Kosong

Bupati TTS, EGUSEM Pieter (EPY) Tahun, ST, MM (tengah). Doc. CNC/jors tefa-Citra News

Gerakan memasyarakatkan tanaman bermanfaat alias ‘Gemas Mama’ patut digelorakan oleh semua elemen masyarakat. Bahwa pada setiap jengkal tanah perlu ditanami berbagai jenis tanaman kayu dan non kayu. Apa manfaatnya?

Citra-News.Com, SOE – BUPATI Timor Tengah Selatan (TTS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), EGUSEM Pieter (EPY) Tahun, ST.MM, mewajibkan aparatur sipil negara (ASN) menanam sayuran dan tanaman holtikulutra lainnya di lingkungan perkantoran masing-masing.

“Jangan membiarkan lahan kosong. Manfaatkan setiap jengkal tanah kosong itu dengan menanam jenis tanaman apa saja. Dengan tanaman yang ada dapat memberikan manfaat ganda (multiplier effect) bagi masyarakat dan lingkungan sekitar,”demikian Bupati Epy saat ditemui awak citra- news.com di SoE, Selasa 05 November 2019.

Hari itu tampaknya Bupati Epy memfokuskan diri ‘membedah’ perilaku ASN yang konon lebih banyak menyibukkan diri dengan bermain gadget (handphone). Dengan mendapat ‘tugas baru’ dari sang bupati agar ASN wajib menanam, merawat, dan menciptakan relasi pasar.

“Setelah ada hasilnya maka sayuran dan buah-buahan yang ada selain memenuhi kebutuhan kantor manakala ada hajatan, juga bisa disumbangkan ke panti asuhan. Atau diberikan kepada masyarakat yang mengalami musibah atau bencana kelaparan,”jelas Epy yang saat itu ddampingi Kepala Dinas P dan K Kabupaten TTS, Drs.SEPERINUS E.Sipa, M.Si

Bupati EPY Tahun didampingi Kadis P dan K, SEPERINUS E. Sipa. Doc.CNC/jors tefa-Citra News

Tugas tambahan yang diberikan oleh sang Bupati ini bukan hanya ASN di lingkungan Kantor Bupati dan kantor DPRD. Tapi semua ASN yang berada di lingkungan kerjanya masing-masing. Karena upaya untuk pelestarian alam dan lingkungan hidup merupakan tanggung jawab semua elemen masyarakat.

Mewajibkan ASN untuk juga memiliki jiwa wirausaha (entrepreneurship) ini sekaligus mengedukasi masyarakat sipil untuk memanfaatkan pekarangan rumah menjadi Taman Gizi keluarga. Antara ASN dan masyarakat eksistensinya tidak jauh berbeda, bila memandang kantor sebagai ‘rumah kedua’. Sehingga menata halaman kantor sama manfaanya dengan menata halaman rumah tinggal.

“Saya contohkan seperti halaman rumah jabatan bupati yang saya tempati saat ini, semua lahan kosong ditanami tanaman holtikultura (sayuran dan buah-buahan,red). Sehingga kalau ada masyarakat yang datang berkunjung kesana maka pasti pulang diberi sayuran sebagai oleh-oleh. Ini hal sederhana tapi memberikan kesan ganda tapi sekaligus juga memotvasi (mendorong) untuk juga berusaha yang sama,”tuturnya.

Menanam Pohon Sama Dengan Menanam Air

Menjawab keterbatasan air, Bupati Epy mengatakan dimana-mana di musim kemarau seperti sekarang ini, orang mengeluh kesulitan air bersih. Tapi tidak lantas terus mengeluh tanpa ada upaya-upaya nyata. Kita harus berdaya upaya untuk terus menanam dan menanam terus  dengan tanaman apa saja di setiap jengkal tanah kosong. Dengan begitu maka lama kelamaan akan ada mata air.

Dia mengatakan, untuk menyiram tanaman di halaman kantor bupati sebelumnya hanya ada satu sumur bor. Sekarang sudah bertambah satu unit sumur bor lagi dan disuplay melalui mobil tanki. Sehingga untuk kebutuhan air bagi tanaman yang ada disuplay dari prasarana yang ada.

“Kita punya dua sumur bor yang akan mampu mensuplay air bersih. Yang nantinya dimanfaatkan untuk kebutuhan kantor juga melayani kebutuhan masyarakat. Satu sumur bor tambahan ini dipastikan bulan Desember nanti sudah bisa beroperasi,”pungkasnya.

 

Menyoal pelestarian lingkungan hidup, pada kesempatan terpisah Ir. FERDY J.Kapitan, M.Si menuturkan, pemanfaatan lahan kosong dengan menanami pepohonan (kayu-kayuan) dan non kayu, memiliki fungsi ganda.

Menurut dia, pembangunan lingkungan hidup saat ini lebih mengedepankan pelestarian dan rehabilitasi hutan dan lahan.  Dengan menanam tanaman kayu-kayuan seperti jati, mahoni, gamelin, dan jenis kayu lainnya. Juga tanaman non kayu seperti kelor, kemiri, pinang, cendana, gaharu dan lainnya. Termasuk tanaman holtikultura (sayuran dan buah-buahan) sebagai tanaman pekarangan.

“Pepohonan dan tanaman yang ada ini bukan hanya berfungsi untuk penutupan lahan. Tapi terutama berfungsi untuk menahan dan menyimpan air hujan agar tidak terbuang percuma ke laut. Ini yang terus kami lakukan sosialiasi dan mengedukasi masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran, pembabatan dan penggundulan hutan yang ada,”tegas Ferdy di Kupang, Jumat 01 November 2019.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTT ini menjelaskan, wilayah NTT umumnya dengan kondisi curah hujan yang sangat sedikit. Fakta ini mestinya ada kesadaran masyarakat untuk terus melestarikan lingkungan alam ini dengan aneka jenis tanaman. Karena semakin banyak kita menanam pepohonan berarti juga kita menanam air.

Ir. FERDY J. Kapitan, M.Si (kanan) ketika ditemui di Kupang, Jumat 01 November 2019. Doc. CNC/marthen radja-Citra News

Ditengarai ada 1,7 juta hektar luasan lahan di Provinsi NTT. Tapi baru dimanfaatkan sekitar `15-16 persen dari luasan yang ada. Belum termasuk lahan lahan kosong di area perkantoran yang jika diakumulaskan luasannya bisa mencapai puluhan hektar.

“Iya lahan kosong di perkantoran ini dimanfaatkan dengan tanaman holtikultura. Bila melakukan pembabatan hutan untuk lahan pertanian maka digantikan dengan tanaman lain yang sesuai dengan kondisi wilayah. Kami dari dinas dan UPTD menyiapkan bibit tanaman dan akan dbagikan ke pihak manapun yang membutuhkan,”kata Ferdy

Mengaplikasi program pemerintah ‘NTT Bangkit Menuju Sejahtera’, pada tahun 2020 Dinas LHK Provinsi NTT membangun Arboretum sebagai catchmen area pengembangan tanaman-tanaman endemic. Adanya Arboretum, kata Ferdy, sekaligus juga mengedukasi masyarakat untuk juga bangkit dan terus melakukan rehabilitas hutan dan lahan (RHL) dengan menanam berbagai jenis tanaman.

Arboretum yang segera dibangun tahun 2020 tersebar di beberapa kabupaten. Yakni Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Alor, Manggarai Barat, Manggarai Timur, Sumba Barat, dan Kota Kupang. Ditargetkan selama 5 tahun berbagai jenis pepohonan yang ditanami itu sudah bisa produksi air tanah. +++ jofan-marthen/citra-news.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *