Kemana ‘Rimba’ BBM Jadi LANGKA di Daerah Perbatasan NTT

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Tapal Batas NKRI menggayung masalah. Terutama masalah kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di wilayah perbatasan darat dan wilayah laut/perairan NTT Indonesia. Entah kemana rimbanya hingga jutaan liter BBM jatah Pertamina ke NTT ini menjadi langka.

Kupang, citra-news.com – PASCA Provinsi Timor Timur terpisah dari Indonesia tahun 1999 dan membentuk negara sendiri dengan nama Negara Republic Democratic Timor Leste (RDTL), telah ‘menggayung’ seabrek permasalahan. Diantaranya masalah pertahanan dan keamanan juga terutama masalah perekonomian di tanah air.

“Provinsi NTT yang berbatasan langsung darat dan laut dengan Negara RDTL dan Negara Australia, selama ini tidak luput dari masalah illegal logging dan kelangkaan BBM. Kita tidak tahu kemana rimbanya ini BBM. Dan akibat kelangkaan BBM menjadi pemicu keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas),”ungkap Antonius Kolo Bunga.

Kepada citra-news.com, Jumat, 28 Juni 2018 di Kupang mengatakan harga BBM di Kabupaten Sabu Raijua rata-rata antara Rp 25.000 sampai Rp 75.000 per liter. Tergantung apa jenis BBM. Dan biasanya yang akrab dengan kebutuhan masyarakat kita adalah bensin (premium), solar, dan minyak tanah, tuturnya.

“Bayangkan harga bensin satu botol aqua ukuran 1500 mili liter/ml itu seharga Rp 25-35 ribu. Itupun tidak penuh. Apalagi minyak tanah yang sangat dibutuhkan masyarakat kita, semuanya sudah jauh dari harga normalnya. Padahal para aparatur keamanan kawal saat BBM tiba. Tapi tidak kita ketahui pengawasan dan pengawalan yang mereka lakukan. Menjadi pertanyaan kemana rimbanya sehingga BBM jadi langka di daerah perbatasan Provinsi NTT. Akibatnya harga BBM di Sabu dan di Kupang berbeda jauh,”kata Kolo Bunga yang mengaku staf di salah satu kontraktor yang saat ini sedang bekerja proyek di Sabu Raijua.

Kalau harga satu liter minyak tanah di Kupang Rp 4000, kata dia, di Sabu Raijua seharga Rp 10.000. Harga bensin satu botol aqua ukuran 1500ml itu rata-rata Rp 8-9 ribu maka di Sabu Raijua seharga Rp 25.000 dan kalau sudah ke pedesaan seharga Rp 35.000. Ini yang membuat masyarakat keluhkan kenapa Sabu Raijua selalu menjadi sasaran kelangkaan BBM. Selain di Kabupaten Rote Ndao  yang juga kabupaten kepulauan seperti Sabu Raijua.

Ditanyakan ada tidaknya SPBU, kata Kolo Bunga, sudah ada akan tetapi penjatahannya masih bergantung pihak Pertamina di Kupang. Biasanya BBM diangkut ke Sabu dan Rote menggunakan kapal laut. Akan tetapi kebanyakan mengggunakan kapal feri.

“Jadi saya kira selain ketergantungan soal angkutan/transportasi dengan memakan waktu berhari-hari ditambah lagi dengan ‘permainan-permainan’ bisnis antarpihak. Makanya tidak heran kalau harga BBM melonjak tajam. Meski demikian masyarakat terpaksa beli karena BBM itu kebutuhan utama,”ucap Kolo Bunga.

Dengan permasalahan kelangkaan BBM yang terus berulang tahun ini, dia berharap aparat keamanan TNI dan Kepolisian tidak ikut bermain di air keruh, ungkapnya. Sebab akan menjadi pemicu terjadinya masalah Kamtibmas. Apalagi jelang tahun politik 2019 Pemilu Presiden dan Pemilu Legislatif. +++ cnc1

 

Gambar : Antrian BBM di Kabupaten Sabu Raijua. Doc. CNC/kolo bunga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *