LEBU RAYA Mengaku TIDAK TAHU Apa Isi Amplop Itu

Mantan Gubernur NTT, Drs. FRANS Lebu Raya (duduk kemeja putih) ketika sidang korupsi proyek NTT Fair di Pengadilan TIPIKOR Kupang, Senin 11 November 2019. Doc. CNC/marthen radja-Citra News

Sidang kasus korupsi pembangunan gedung NTT Fair dilakukan secara maraton di Pengadilan TIPIKOR Kupang Provisi NTT.  Meski baru sebatas Saksi kasus ini menyeret mantan Gubernur NTT dua periode, Drs. Frans Lebu Raya dan Sekda NTT, Ir. Benediktus Polo Maing. Heboh…

Citra-News.Com, KUPANG –TIDAK TAHU…kata ini sering diucap Frans Lebu Raya saat bersaksi di hadapan majelis hakim dalam sidang yang digelar, Senin 11 November 2019 di Pengadilan TIPIKOR Kupang, Timor Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Boleh dibilang Frans Lebu Raya Bantah terhadap semua keterangan para saksi yang dituangkan dalam berita acara pemerinsaan (BAP) dan keterangan di hadapan Majelis Hakim. Dalam sidang yang dipimpin langsung Hakim Ketua, Dju Johnson Mira Mangi ini menghadirkan para Saksi Kunci. Diantaranya bernama Boby, Yanto, dan Ben Polo Maing  termasuk Frans Lebu Raya.

Sidang korupsi proyek pembangunan gedung pameran NTT Fair kali ini menghadirkan 4 orang saksi sekaligus. “Ingat katakan iya atau tidak. Jangan panjang lebar karena apa yang saudara katakan semuanya sudah ada di dalam buku besar ini,”ucap Mira Mangi ditujukan ke Frans Lebu Raya sembari memperlihatkan buku setebal ribuan halaman itu.

Dalam persidangan yang dipimpin oleh didampingi  Ari Prabowo dan Ali Muhtarom sebagai hakim anggota, Lebu Raya membantah seluruh pertanyaan yang dilontarkan oleh majelis hakim perihal keterlibatan dirinya dalam menerima uang atau fee proyek kasus proyek NTT Fair. Pada awal persidangan Lebu Raya menceritakan perihal proyek NTT Fair yang telah disetujui bersama DPRD NTT ketika dirinya masih sebagai Gubernur.

Tujuan dibangunnya NTT Fair, beber Lebu Raya, adalah untuk menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi yang baru di Kota Kupang. Menurut saksi Lebu Raya setiap tiga bulan dirinya memberikan pengarahan kepada semua Kepala Dinas soal kinerja di lapangan.

“Ketika saya bertemu dengan Kepala Dinas Permukiman soal proyek NTT Fair, saya memberikan arahan bahwa semua harus dilakukan sesuai aturan dan rekruit kontraktor yang berkualitas. Sehingga pekerjaannya berkualitas dan selesai tepat waktu,”ungkap Lebu Raya.
Saat ditanya oleh Majelis Hakim Mira Mangi mengenai kedekatan dirinya dengan kontraktor dalam hal ini Linda Liudianto (Kuasa Direktur PT Cipta Eka Puri, red) Frans Lebu Raya kembali membantahnya.

Pasalnya, dalm sidang sebelumnya ada pengakuan saksi, kalau Linda Liudianto mengaku  dirinya masih keluarga dengan Frans Lebu Raya.

Pertanyaan majelis hakim pun berlanjut mengenai fee 5 persen dari proyek pembangunan NTT Fair. Saat ditanya apakah pernah meminta fee 5 persen, mantan Gubernur NTT inipun langsung membantahnya. “Saya tidak tahu”.

Begitupun saat ditanya apakah dirinya pernah menerima sesuatu dari terdakwa Yulia Afra (Kepala Dinas Pemrukiman Provinsi NTT, red) melalui ajudannya bernama Yanto?  Lagi-lagi Lebu Raya mengatakan, “Saya tidak tahu bapa hakim yang mulia”.

Para Saksi (duduk dari kiri ke kanan : Boby, Yanto, Ben Polo Maing,dan  Frans Lebu Raya) saat sidang Senin 11 November 2019. Doc. CNC/marthen radja-Citra News

Dikatakan,  saksi Lebu Raya ke  majelis hakim   kalau ada staf yang datang membawa sesuatu dan saya sedang sibuk kerja, maka saya hanya instruksikan untuk disimpan saja di meja kerja  tanpa melihat apa isinya.

Mendengar jawaban Saksi Lebu Raya, saat itu juga majelis hakim menerangkan, fakta persidangan lain yang menyebutkan bahwa ajudan Yanto pernah menghantar uang kepada saksi Lebu Raya sebanyak dua kali.

Namun Saksi Lebu Raya mengatakan dirinya tidak tahu dan tidak pernah menerima uang yang dihantar itu. “Saya tidak pernah diberitahu bahwa ini ada titipan uang dari siapa-siapa. Tetapi setiap hari ada amplop dokumen yang selalu saya selaku gubernur terima”.

Mantan ajudan Lebu Raya bernama lengkap Aryanto Rondak atau biasa disapa Yanto yang dihadirkan dalam persidangan tersebut mengaku, sebanyak dua kali menerima titipan dari Yulia Afra. “Amplop yang saya terima dari Thobias Lanoe (staf Yulia Afra) itu diserahkan kepada gubernur di ruang kerjanya,”ucap Yanto.

Ketika dikonfrontir kesaksian Yanto, Saksi Lebu Raya tetap membantah dan mengaku tidak tahu dan tidak pernah menerima apapun dari kepala dinas Yulia Afra. “Saya tidak tahu  apa isi amlop itu. Apalagi tentang uang sebanyak itu”.

Tersangka YULIA Afra saat sidang Senin 11 November 2019. Doc. CNC/marthen radja-Citra News

Majelis Hakim lainnya menambah dengan sejumlah pertanyaan. Diantaranya, apakah Saksi Lebu Raya pernah membisikan (menyampaikan) sesuatu ke Yulia Afra saat kegiatan ground breaking. Saksi Lebu Raya  sontak mengatakan, tidak pernah.

Terhadap jawaban itu Yulia Afra menyatakan bahwa benar dirinya mendapat bisikan dari Lebu Raya, Salah satunya adalah soal pelaksaaan proyek NTT Fair. “Saya mau tambahkan bahwa benar waktu itu Gubernur Frans Lebu Raya membisikan agar pekerjaan dilaksanakan secara baik. Juga ada hal-hal lain menyangkut fee proyek”.

Usai memberikan keterangan sidang ditutup Ketua Majelis Hakim seraya menyampaikan kalau dilakukan sidang berikutnya pada Senin 18 November 2019.  +++ marthen/citra-news.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *