SAMA Si Kaya dan Si Miskin Dikepung BANJIR Meratapi Nasib

Banjir yang menggenangi beberapa wilayah Jakarta dan Bekasi yang penuh sampah dan endapan lumpur. Doc.CNC/tirto.id

Banjir datang menerpa siapa saja: si kaya dan miskin. Banjir memang menimpa siapa saja, tapi orang miskin tetap saja yang paling menderita. Situasi ekonomi yang bikin beda cara menanganinya.

Citra-News.Com, JAKARTA – TAWA dan TANGIS kadang hanya terpisah beberapa meter—secara harfiah. Demikian kata kalimat pertama caption sebuah foto viral awal tahun baru 2020 ini. Di foto itu kita bisa melihat salah satu sudut Hotel Shangri-La Jakarta—yang rimbun ditutupi tanaman, lengkap dengan kolam berenang yang berisi beberapa orang—langsung bertabrakan dengan banjir di luar pagarnya. Tepat di sudut simpang jalanan itu, Tim SAR sedang mengevakuasi korban banjir dengan perahu karet.

“Di sisi atas foto, anak-anak renang di hotel. Di bawah, anak-anak diselamatkan Tim Sar dari banjir,” lanjut caption-nya. Warna biru cerah kolam renang di Shangri-La dan warna air banjir yang cokelat jadi kontras di foto itu. Beberapa orang di kolom komentar lalu menyamakan foto itu seperti film Parasite karya sutradara Korea Selatan Bong Joon-ho. “Macam Parasite,” kata sebuah sumber.

Yang Menderita Karena Banjir Malam pergantian tahun kemarin membawa cerita sedih bagi kebanyakan orang Jabodetabek. Intensitas hujan yang tinggi menggantikan semarak kembang api yang biasa menghiasi malam 31 Desember. Sejak 1 Januari dini hari, alih-alih pesta kembang api, media sosial justru diramaikan foto-foto banjir.

BMKG mencatat curah hujan pada hari pertama 2020 kemarin adalah yang tertinggi selama 154 tahun terakhir. Kepala Pusat Data Informasi BNPB Agus Wibowo menginformasikan kepada jurnalis setidaknya sudah ada 23 titik yang terendam banjir di Bekasi, dua titik di Bogor dan 17 titik di DKI Jakarta.

Terlepas dari itu, di sebagian tempat Jabodetabek, banjir memang sudah jadi realitas tahunan yang rutin dihadapi. Salah satunya RT05/RW01 Kelurahan Serdang, Kemayoran, Jakarta. Rumah padat penduduk yang dekat dengan aliran Kali Sunter ini memang rutin disambangi banjir saban tahun, tapi baru kali ini memakan korban meninggal.

BNPB—sampai 6 Januari kemarin—menyebut setidaknya 60 orang meninggal akibat banjir di Jabodetabek. Penyebab kematiannya macam-macam: tersengat listrik, terseret arus, hipotermia, dan terimbun tanah longsor.

“Banjir emang bisa kena ke siapa aja, tapi pengalaman gue, yang lebih menderita pasti orang miskin lah,” kata Ananda. +++ tim CNC

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *