SMPN 6 Nekamese Terapkan Pembelajaran LURING

YULIANTI Pulungtana, S.Pd Kepala SMPN 6 Nekamese Kabupaten Kupang-Timor NTT. Doc. marthen radja/citra-news.com

Pandemi Covid-19 telah ‘meracuni’ suasana pembelajaran pada sekolah di semua tingkatan. Di sekolah formal antara guru dan murid (siswa) tidak saling tatap muka. Dimana-mana keluh kesah orangtua dengan nada minor yang sama. Ini salah siapa? Begini strategi yang diterapkan pemerintah…

Citra-News.Com, KUPANG – MEMPEDOMANI aturan protocol Covid yang diterapkan pemerintah, setiap sekolah melaksanakan pembelajaran dengan menempuh cara-cara cerdas. Salah satu strateginya adalah metode pembelajaran Luar Jaring (Luring) dan Dalam Jaring (Daring).

Terkait metode pembelajaran Luring dan Daring, Kepala SMPN 6 Nekamese, Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tengara Timur (NTT),  YULIANTI Pulungtana, S.Pd mengatakan, pelaksanaan strategi Luring dan Daring ini sesuai dengan situasi dan kondisi regional. Karena tidak semua provinsi di Indonesia berada pada Zona Hijau alias bebas Covid. Kondisi di kabupaten/kota di dalam satu wilayah provinsi pun variatif. Bahkan di setiap kelurahan dan desa di dalam kabupaten/kota juga berbeda-beda satu sama lainnya.

Khususnya pembelajaran di SMPN 6 Nekamese, jelas Yanti, sejak Maret hingga Juni 2020 tidak pernah dilakukan tatap muka. “Mulai dari ujian sekolah hingga ujian akhir nasional atau ujian semester siswa tidak belajar di sekolah. Guru dari sekolah harus turun mengunjungi rumah orangtua siswa dan memberikan penugasan-penugasan,”tegasnya.

Jadi selama beberapa bulan itu, sambung dia, guru yang pro aktif. Kondisi ini berlangsung hingga masa New Normal atau sekitar pertengahan Juli 2020. Kami di SMPN 6 Nekamese pada awal tahun ajaran baru ahany sekitar tiga hari siswa masuk sekolah. Tapi ada surat edaran dari Dinas Pendidikan agar siswa dirumahkan lagi. Karena ada kejadian warga Kabupaten Kupang yang terdeteksi positif Covid.

“Pada tanggal 17 Juli 2020 sekolah kami melakukan  rapat bersama orangtua siswa. Dalam rapat itu memutuskan dalam satu minggu tatap muka 3 (tiga) hari). Tapi menggunakan sistem sift. Namun keputusan itu dimentahkan lagi setelah ada surat edaran dari pemerintah sehingga kita lakukan sistem Luring  sampai saat ini,”tutur Yanti.

Menjawab strategi sistem Luring ini, beber Yanti, kendala yang paling utamanya karena tidak semua orangtua apalagi siswa tidak miliki handphone  anroid. Kalaupun memiliki tidak tahu mengoperasikannya, jika kita mau terapkan sistem Daring. Oleh karena itu kami guru sepakat untuk melakukan Luring dengan ketentuan setiap kelompok dibagi 3 (tiga) siswa yang berdomisilinya berdekatan.

Siswa yang terbentuk dalam kelompok-kelompok kecil ini diberikan buku paket soal dari 10 mata pelajaran yang ada. Kemudian waktunya dibatasi dan juga tugas-tugas dengan soal dibatasi. Hanya sekitar 3-5 soal saja dengan melengkapi jawaban. Jadi bukan berupa soal-soal pemahaman. Sedangkan guru setiap satu pekan turun mengambil tugas siswa yang dikerjakan siswa dalam lembaran tugas itu. +++ marthen/citra-news.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *