TJPS, Instrumen Cerdas Menggandakan Usaha Ekonomi Petani

LUCKY F. Koli, saat diwawancarai di Kantor Distanbun Provinsi NTT, di bilangan Jalan. Polisi Militer Kupang-Timor, Senin 21 September 2020. Doc. marthen radja/citra-news.com

Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) adalah program pertanian yang terintegrasi. Dengan model pertanian yang sudah lazim dirubah menjadi tidak lazim. Dan bahkan dari hal yang tidak lazim ini akan bisa melipatgandakan hasil. Caranya? Berikut, penjelasan LUCKY F. Koli…

Citra-News.Com, KUPANG –SAAT INI Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (Pemprov NTT) sedang menggalakan instrumen program pertanian bernama, Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS).

Demikian Kepala Dinas (Kadis) Pertanian dan Perkebunan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), LUCKY F. Koli, saat diwawancarai awak citra-news.com di Kupang, Senin 21 September 2020.

Menurut dia, Program TJPS saat ini sedang digalakkan di seluruh kabupaten/kota se-Provinsi NTT. Untuk tahap awal ini kita prioritaskan untuk wilayah Sumba dan Timor, yang menjadi penyumbang terbesar kemiskinan di NTT.

“TJPS ini instrumen pertanian cerdas karena akan mampu meningkatkan usaha ekonomi para petani di musim kemarau. Kan petani kita punya kebiasaan (lazimnya, red) menanam jagung pada awal musim hujan. Tapi program TJPS ini dimana area-area pilihan atau yang menjadi lokasi sasaran program TJPS, para petani akan tanam jagung di awal musim kemarau,”tegas Lucky.

Diketahui, jelas Lucky, wilayah NTT pada pada run off (ketinggian) lebih dari 1000 mter diatas permukaan laut. Maka praktis pada musim penghujan air hujan akan lebih banyak terbuang percuma ke laut. Untuk itu pemerintah punya strategi jitu agar air hujan ini bisa tertahan dengan membangun jebakan-jebakan atau empangan-empangan.

Nah, dengan adanya jebakan-jebakan air ini diharapkan bisa memberikan kehidupan bagi tanaman pertanian di sekitar area jebakan air.  Dan tanaman yang dimaksudkan ini adalah tanaman jagung pada satu siklus kehidupan.

“Untuk kondisi NTT biasanya bulan Maret hujan sudah berkurang. Diakhir musim hujan ini pada area yang ada ditanami jagung. Sekitar Juni sudah dipanen. Berarti satu siklus kehidupan tanaman jagung ini sudah bisa berproduksi. Siklus berikutnya ditanami lagi berarti sekitar September atau Oktober sudah panen. Jika itu ditanami dengan tanaman yang sama, jagung. Tapi kalau diganti dengan kacang-kacangan atau sayuran dan buah-buahan maka hasilnya akan berlipatganda. Dan petani berpeluang punya penghasilan yang signifikan,”beber Lucky.

Menurut Lucky, penerapan program TJPS sekaligus juga merubah mindsheet sekaligus memberikan pengetahuanj petani kita. Karena masyarakat petani akan bertani pada musim hujan saja. Pada musim kemarau seperti sekarang ini mereka jedah atau istirahat. Ini sangat tidak produktif.

“Berbeda dengan petani di Flores yang sudah paham pada musim hujan merekam tanam apa dan di musim kemarau mereka tanam apa. Tapi umumnya petani kita di Timor dan Sumba lebih berpasrah pada keadaan. Hanya pada lahan basah saja yang mereka garap pada musim kemarau. Nah fakta ini yang kita mau rubah melalui program TJPS ini,”tandasnya.

40 Ribu Hektar TJPS di Timor dan Sumba

Lukcy mengatakan, pada tahun 2021 program TJPS akan dikembangkan secara besar-besaran. Terutama di wilayah Timor dan Sumba akan dioptimalisasikan lahan-lahan ‘tidur’ menjadi lahan produktif.

“Kita akan kembangkan program TJPS secara besar-besaran pada tahu 2021. Ditargetkan sekitar 40 ribu hektar lahan akan ditanami jagung. Kami punya strategi jitu untuk mendapatkan luasan sesuai target 40 ribu hektar oleh bapak Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat. Dinas ini akan bersinergi dan berkolaborasi kegiatan dengan kegiatan di Dinas PUPR dan Dinas ESDM,” ucap Lucky.

LUCKY F. Koli (kiri) dan JUSUF Adoe (kanan). Doc. marthen radja/citra-news.com

Lucky menyebut beberapa strategi yang bakal dilakukan untuk mendongkrak luasan lahan TJPS dari target yang ada. Diantaranya, mengoptimalisasi lahan-lahan yang berada pada catchmen area aliran sungai. Berikut, mengoptimalisasi lahan-lahan di daerah irigasi. Dan mengoptimalisasi dan memanfatkan lahan menggunakan sistem pompanisasi. Artinya melalui sumur bor air kita manfaatkan  untuk pengaliran lahan jagung yang ada.

“Untuk data cekungan air tanah dalam kita sudah peroleh dari Dinas ESDM. Sambil menunggu penyesuaian anggaran apakah di APBD Murni 2021 atau APBD Perubahan.  Untuk action-nya nanti kita kolaborasikan kegiatan dengan intansi terkait lainnya, seperti Dinas PUPR. Saya yakin melalui upaya kerjasama dan kerja keras kita bisa,”kata Lucky.

Pada tahun 2020 ini, tambah dia, sedang dilakukan semacam ‘uji coba’ program TJPS di lahan milik Pemprov NTT di Besipae TTS. Ada 10 hektar di Besipae oleh Dinas pertanian dan Perkebunan Provinsi NTT membudidaya tanaman Marungga (kelor). Selain itu akan dikembangkan tanaman jagung dan tanaman holtikultura lainnya di atas luasan lahan sekitar 50-100 hektar.

“Dinas kami diberi kewenangan untuk kelola lahan di Besipae. Melalui program TJPS Dinas kami akan menjadikan Besipae kawasan ekonomi baru bagi masyarakat Kabupaten TTS  khususnya dan Timor pada umumnya,”ucap Lucky.

Pada kesempatan terpisah, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi NTT, JUSUF Adoe mengakui, pihaknya telah berkolaborasi kegiatan dengan Distanbun dalam hal geolistrik.

“Untuk mensukseskan program TJPS ini kami bekerjasama dengan Dinas Pertanian. Dimana kawasan yang mau dioptimalisasikan disitu kita survey untuk membantu dengan sumur bor.  Data-soal cerkungan air sudah sebagiannya kami kasih ke dinas pertanian untuk kebutuhan kegiatan di tahun  2021 nanti,” kata Jusuf. +++ marthen/citra-news.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *