Sementara di tingkat guru dengan sisten computer base test (CBT) harus membutuhkan pendampingan. Meskipun adaptif tingkat kesukaran soal-soalnya namun perlu dilatih secara terus menerus. Entah melalui bimbingan teknis (Bimtek) dan pelatihan-pelatihan sejenisnya.
Penilaian Lembaga Bukan Individu
Dikatakan Mathias, bentuk penilaian pada AN juga berbeda dengan UN. Content pembelajaran pada sistem AN yakni mendorong anak untuk berpikir kritis dan analistis. Artinya guru harus mampu membangun nalar anak terhadap sesuatu hal. Contoh, ketika anak terlambat datang ke sekolah. Guru jangan melihat hasilnya akan tetapi prosesnya. Mengapa kamu terlambat, anak menjawab karena rumah jauh. Ikuti dengan pertanyaan-pertanyaan beruntun. Kamu tinggal dimana, berapa jarak dari rumah ke sekolah, ke sekolah menggunakan kendaraan umum atau kendaraan sendiri. Berapa ongkos (biaya)nya. Kalau menggunakan kendaraan sendiri, dengan jarak sekian butuh berapa liter bahan bakar. Dan seterusnya.
Singkatnya, guru harus mampu membangkitkan anak untuk terus berpikir analitis. Jadi tidak hanya melihat akibat akan tetapi proses sampai anak yang bersangkutan terlambat datang ke sekolah. Demikian juga terkait penugasan. Anak ditugaskan memelihara bunga. Setelah ada hasil guru harus bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang saling terkait. Contoh jenis bunga apa, tanam dengan media apa, berapa banyak (pohon), menggunakan pupuk atau tidak (kalau menggunakan pupuk ya pupuk apa). Berapa kali siram. Jadi terhadap sebuah peristiwa guru harus mampu membangkitkan anak berpikir analistis, tandasnya.
Untuk penilaianya, tambah Mathias, AN tidak mengukur capaian individu siswa atau perorangan. Tapi penilaian AN mewakili lembaga. Oleh karenanya digunakan sample. Entah sekolah dengan Rombel (rombongan belajar) besar maupun kecil sama. Yakni sebanyak 45 orang untuk satu lembaga pendidikan sekolah.













