Marak PENCURIAN Kayu JATI Kawasan Hutan BIPOLO, Ini Reaksi BBKSDA

Ir.ARIEF Mahmud, M.Si – Kepala BBKSDA Provinsi NTT. Doc. marthen radja/citra-news.com

Arief : Pemanfaatan kayu dari lokasi TWA Bipolo Tidak Diijinkan. Baik untuk kepentingan sosial maupun untuk kepentingan lain. Kecuali……

Citra-News.Com, KUPANG – KEPALA BALAI Besar Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Nusa Tenggara Timur, Ir. ARIEF Mahmud mengakui bencana angin topan/ badai seroja yang terjadi pada tanggal 5 April 2021 telah menumbangkan ratusan pohon jati di kawasan hutan Bipolo Kabupaten Kupang.

Akan tetapi di lokasi Taman Wisata Alam (TWA) Bipolo kayu-kayu jati terutama yang sudah tumbang tersebut, sampai saat ini masih dalam kondisi utuh. Atau tidak diangkut keluar dari lokasi TWA Bipolo.

“Sejauh ini kayu jati di lokasi TWA Bipolo yang tumbang dihantam badai Seroja masih kondisi utuh. Tidak ada yang dicuri atau diangkut keluar dari lokasi,” kata Arief saat diwawancarai awak portal berita citra-news.com di Kupang, Senin 11 Oktober 2021.

Perlu diketahui oleh masyarakat, jelas Arief, lokasi TWA Bipolo sebelumnya berfungsi sebagai Hutan Produksi. Di kawasan yang sama ada dua lokasi yang berbeda pengelola kawasan. Salah satunya lokasi Taman Wisata Alam (TWA).

Arief juga tidak menampik adanya informasi masyarakat bahwa terjadi pencurian kayu jati dari kawasan hutan Bipolo pasca badai seroja.

Namun perlu diketahui fungsi dan pwngelolaan hutan kawasan , jelas Arief, apakah pencurian terjadi di lokasiTWA ataukah di lokasi yang menjadi kewenangan Dinas Kehutanan Provinsi NTT. Dalam hal ini dikelola oleh UPT KPH Kabupaten Kupang.

“Dua lokasi ini letaknya bersebelahan saja (berbatasan langsung,red). Saya tidak ingin berkomentar terkait Hutan Prosuksi yang bukan menjadi ranah dan kewenangan kami di BBKSDA NTT,” tegas Arief.

Akan tetapi, lanjut dia, untuk hutan TWA Bipolo pada dua minggu lalu kita sudah recheck ke lokasi. Kayu-kayu jati yang tumbang tersebut masih ada di lokasi. Jadi tidak ada pencurian atau jual beli ilegal.

Kami dari BBKSDA NTT saat itu bersama dengan kepala desa setempat melakukan pengecekan lokasi.

Dari hasil recheck ini, tambah dia, dalam waktu dekat kami akan melakukan sosialisasi ke masyarakat sekitar. Untuk tidak mengambil atau memanfaatkan kayu-kayu jati yang berasal dari lokasi TWA Bipolo.

“Karena ini melanggar aturan dan melanggar hukum. Jika ada masyarakat yang melanggar tentu ada konsekwensinya,” kata Arief.

Hal senada juga dikatakan Plt. Kabid Teknis, IMANUEL Ndun, S.ST.M.Si. Dia mengatakan, Polisi Hutan (Polhut) berwenang menangkap siapapun yang mengangkut secara ilegal kayu jenis apapun dari kawasan hutan manapun di wilayah Provinsi NTT.

“Masalah ilegal loging bisa saja terjadi oleh ulah oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Polisi Hutan punya tugas menangkap pihak siapapun yang mengangkut kayu secara ilegal. Kapanpun dan dimanapun jika tidak memiliki dokumen resmi dari pihak berwenang,” kata Ndun.

Sembari menambahkan jika ilegal loging dari kawasan Hutan Bipolo yang pengelolanya bukan oleh BBKSDA NTT.

“Mrmang ada beberapa oknum pelaku ilegal loging dari hutan produksi Bipolo yang sudah ditangkap. Tapi sejauhmana prosesnya kita tidak tahu. Ini sudah tentu ada dugaan dibackup oleh pihak-pihak tertentu,” katanya.

Menjawab langkah antisipasi yang ditempuh, kata Arief, saat turun recheck lokasi seluas 300 Hektare itu, pada titik dimana ada kayu jati tumbang dikasih tanda. Sehingga kalau ada yang mengambil akan ketahuan juga, timpalnya.

Larangan dari Dirjen KSDAE

Lebih lanjut Arief mengatakan, pihak BBKSDA NTT juga akan meningkatkan intensitas patroli di lokasi TWA Bipolo. Selain menambah petugas jaga di pos-pos penjagaan sehingga selalu siaga mengawasi lokasi.

Kami juga telah menutup beberapa akses lokasi yang dilewati kendaraan. Karena terhitung ada 1.700 batang kayu jati masih utuh tersebar di lokasi TWA Bipolo, tandasnya.

“Terhitung 1.700 pohon jati yang masih utuh, panjang, nggak dipotong-potong. Kami hanya memotong kayu-kayu yang menghalangi jalan ketika dilakukan patroli. Tapi kalau yang nggak menghalangi jalan iya dibiarkan,” ungkap Arief.

Diakunya, terhadap lokasi TWA Bipolo, kami (BBKSDA NTT, red) sudah mendapat arahan dari Dirjen KSDAE bahwa pemanfaatan kayu dari lokasi TWA Bipolo TIDAK Diijinkan. Baik untuk kepentingan sosial maupun untuk kepentingan lain.

Sejumlah gelondongan kayu Jati haail penangkapan Polisi Hutan diamankan di halaman kantor BBKSDA NTT. Doc. marthen radja/citra-news.com

Kecuali, tegas Arief, untuk kepentingan pengelolaan kawasan. Misalkan untuk membangun jembatan di kawasan untuk mempermudah aksesibilitas dari dan ke lokasi TWA. Atau untuk membangun pos jaga.

Tapi untuk dijualbelikan TIDAK Boleh, tambah Arief. Sehingga tidak ada penyalahgunaan kayu jati di lokasi TWA Bipolo.

Silahkan, boleh dicek langsung, pinta Arief. Kayu-kayu jati yang tumbang akibat badai Seroja masih tersebar di dalam kawasan TWA.

“Jadi kalau ada informasi bahwa ada angkutan kayu jati dari TWA Bipolo, itu hanya hoax saja. Saya jamin tidak ada pengangkutan secara ilegal kayu jati dari kawasan TWA Bipolo,” pungkasnya. +++ marthen/citra-news.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *