DESA/Kelurahan Model TOLAK PMT Pangan INSTAN

Kika : Merry Nai Soi Jogo, VIKTOR Manek dan JULIE Sutrisno Laiskodat pose bersama usai RDP dengan Komisi IV DPRD Provinsi NTT, Kupang Rabu 04 Agustus 2021. Doc. marthen radja/citra-news.com

Julie Laiskodat : “Kami PKK menyediakan pangan lokal buatan sendiri. Bukan memberi makan Bumil, Busui, Balita, anak PAUD dan anak SD dengan pangan instan…”

Citra-News.Com, KUPANG – KEGIATAN Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dalam program Desa Model di NTT menyasar pada Ibu Hamil (Bumil), Ibu Menyusui (Busui), Balita, PAUD dan anak Sekolah Dasar.

Program Desa Model ini dilaksanakan oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Provinsi Nusa Tenggara Timur (Prov.NTT) bekerjasama dengan Tim Penggerak (TP) PKK di 22 kabupaten/kita se-Provinsi NTT.

Kepala Dinas (Kadis) PMD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), VIKTOR Manek mengatakan, PMT Desa/Kelurahan Model menggunakan bahan pangan lokal yang dimasak Tim Penggerak Pembinaan Keluarga Sejahtera (TP-PKK Desa/Kelurahan Model). Alias bebas dari makanan siap saji atau pangan instan.

Dia menjelaskn, PMT Desa/Kelurahan Model yang dilaksanakan oleh Dinas PMD Prov.NTT di 22 Desa/Kelurahan Model bertujuan untuk mencegah terjadinya stunting dan gizi buruk. Karena itu kami menyasar pada Bumil, Busui, Balita, anak PAUD hingga anak SD.

“Jadi kalau ada Ibu yang mulai hamil (0 bulan, red), kami langsung intervensi dengan PMT,” ungkap mantan Penjabat Bupati Malaka saat dikonfirmasi awak Portal Berita citra-news.com, di Kupang, Selasa 03 Aguatus 2021.

Viktor mengatakn, PMT adalah salah satu kegiatan yang dilaksanakan di 22 Desa/Kelurahan Model yang dibentuk Dinas PMD NTT. Untuk giat PMT kami bekerjasama dengan TP PKK Provinsi NTT.

Ketua PKK mengusulkan kegiatan dan anggaran (sesuai jenis makan yang akan dimasak, red). Kemudian PKK membeli bahan makanan (bahan lokal, red), lalu dimasak bersama oleh ibu-ibu PKK.

Sejumlah dana untuk penerima manfaat, tambah Viktor, dicairkan melalui koordinator PKK Desa/Kelurahan Model dengan persetujuan Kepala Desa/Lurah. Lalu dibelanjakan untuk kegiatan PMT.

Pada saat kegiatan bersama masing-masing penerima manfaat PMT, beber Viktor, membawa peralatan makan sendiri dan makan bersama di tempat yang disepakati. Jadi kami tidak menggunakan makanan siap saji atau pangan instan, tegasnya.

Menurut Viktor, menu makanan yang dimasak dalam kegiatan PMT di 22 desa/kelurahan, kandungan gizinya sama. Tapi jenis pangannya berbeda, tergantung bahan pangan yang tersedia di desa/kelurahan tersebut.

“Selain itu, bahan makanan yang dipilih untuk dimasak adalah bahan makanan yang segar. Jadi ada karbohidrat dan sayur serta protein seperti: nasi, sayur,daging ayam kampung, ikan, telur ayam kampung dan lain-lain,” jelas dia.

PMT Bukan Instan Perlu Direplikasi

Pada kesempatan terpisah Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi NTT, Julie Sutrisno Laiskodat menyebutkan pihaknya memiliki 16 inovasi.

“Untuk program Desa/Kelurahan Model di Provinsi NTT, kami mempunyai 16 inovasi. Salah satunya adalah PMT berbasis pangan lokal,” kata Julie usai rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi IV dan Komisi II DPRD Provinai NTT, Rabu 04 Agustus 2021.

Menurut bunda Julie-demikian ia disapa, pelaksanaan kegiatan PMT Desa/Kelurahan Model ini, Dinas PMD NTT bekerja sama dengan Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) desa/ kelurahan setempat.

Senada dengan Kadis Viktor Manek, sasaran PMT yakni kepada Bumil, Busui, Balita, anak PAUD/TK, dan anak SD.

Kepada para penerima manfaat ini, setiap hari dikasih sarapan bersama dengan 4 sehat 5 sempurna pangan lokal yang diracik bahan-bahan nya oleh ahli gizi dan diolah sendiri. Jadi bukan makanan siap saji atau makanan instan

Kita di NTT inikan punya potensi pangan lokal yang luar biasa beragam. Kata dia, ada kelor, ikan, sayuran, buah-buahan, telur ayam kampung, daging, dan lainnya. Pangan lokal ini kita manfaatkan untuk mencegah stunting dan gizi buruk.

AFRO Making produsen ayam kampung KUB di Desa Baumata Timur Kabupaten Kupang Provinsi NTT. Doc. marthen radja/citra-news.com

“Masa Bumil dikasih makan biskuit sampai melahirkan, menyusui, dan seterusnya. Makanan instan kayak gitu nggak ada di PKK Desa Model. Yang kita punya itu pangan lokal dimasak sendiri oleh tim PKK dan dikasih untuk penerima manfaat,” ungkap bunda Julie.

Menjawab wartawan soal sumber dana, Bunda Julie  yang saat itu didampingi Ny. Merry Nai Soi Jogo menyatakan, pihaknya bersyukur ada kepedulian dari anggota DPRD NTT. Yang dalam keputusan politik (hak budget)nya menetapkan sejumlah anggaran untuk cegah Stunting dan Gizi Buruk.

Pengadaan bahan makanan pangan lokal itu, lanjut dia, pendanaannya oleh pelaksana program dengan mentransfer sejumlah dana melalui rekening tim PKK penerima manfaat.

Misalkan dana untuk penerima manfaat dijatahkn Rp 7.500. Nanti yang Rp 5000 itu untuk belanja bahan pangan lokal dan sisanya Rp 2.500 untuk perputaran ekonomi di kelompok penerima manfaat itu.

Nah, pelaksanaan program PKK Desa/Kelurahan Model ini, kita mau mewujudkan visi Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, VIKTOR Bungtilu yaitu NTT Bangkit NTT Sejahtera,

Dalam mana kita harus bangkit dari keadaan sebelumnya  Iya stunting, dan gizi buruk.  Dengan PMT pangan lokal bisa menjadikan generasi bangsa yang sehat, kuat dan cerdas.

Kemudian, Sejahtera, lanjut sia, berarti ada unsur pemberdayaan masyarakat sehingga ada perubahan ekonomi bagi keluarga dan masyarakat setempat.

Kita ketahui, maayarakat kuta secara wkonomi masih. Melalui pelaksanan progam PMT ini kita bisa bangkit dari kekurangan-kekurangan itu.

“Jadi pelaksanaan satu kegiatan PMT dampknya ada dua. Iya unsur Bangkitnya dapat, unsur Sejahteranya juga dapat,”ungkap istri Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat ini.

Menurut bunda Julie, untuk mensukseskan program PMT untuk cegah stunting dan gizi buruk di Provinsi NTT, diharapkan ada kolaborasi dan sinergisitas program dari stakeholder yang punya kepentingan yang sama.

“Untuk program PMT PKK Desa/Kelurahan Model dengan pangan lokal bukan instan oleh Dinas PMD NTT, ini perlu direplikasi oleh pihak lain yang juga punya program PMT yang sama. Demikian juga oleh Pemerintah kabupaten/kota,” harap dia.

Jadi dalam intervensi kegiatan PMT, tambah Bunda Julie, pendaannya dari beberapa sumber. Baik dari APBN, APBD, juga dari Dana Desa. Dan penangannya tidak hanya untuk Bumil KEK (kekurangan energi kronis) dan Balita kurus. Namun penanganannya menyeluruh.

Karena konsepnya adalah pencegahan stunting dan pemberdayaan masyarakat. Kita juga ingin cegah stunting sejak dini dan menghasilkan generasi yang bebas dari stunting, tandasnya. +++ marthen/citra-news com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *