PERKARA Lawan ORANG MATI Bank CHRISTA Jaya MENANG? (Seri-1)

MARIANTJI Manafe, Istri WELLEM Dethan (Alnarhum) di kediamannya bilangan Sikumana Kota Kupang, Timor NTT , Kamis 16 September 2021. Doc. marthen radja/citra-news com

Antji Manafe : Aneh, setelah suami saya meninggal baru pihak Bank Christa Jaya sodorkan bukti pinjaman tambahan (suplesi kredit) oleh suami saya. Dan itu dijadikan utang oleh Bank Christa Jaya.  Koq bisa ada?

Citra-News.Com, KUPANG – BANK Perkreditan Rakyat Christa Jaya (Penggugat) dinyatakan Menang oleh Majelis Hakim di Pengadilan Negeri Kelas IA Kupang. Pasalnya, BPR Cj mengajukan Gugatan Biasa. Atau Putusan GS adalah NO/ Tidak Dapat Diterima/Cere/Tidak Memberikan Kemenanangan kepada Sipapun.

Gugatan Biasa dimaksud atas perkara hutang piutang (kredit perbankan) dalam Perkara Nomor 49/PDT.G/2021/PN.KPG. Obyek sengketanya Hutang milik Almarhum Wellem Dethan.

Demikian Risalah yang diterima portal berita citra-news.com di Kupang, Kamis 16 September 2021.

Dalam temu pers di Kantir BPR CJ fi bilangan Jl. Frans Seda Oebobo Kota Kupang, Kamis 16 September 2021, pihak BPR Christa Jaya (BPR CJ) hadirkan Christofel Liyanto; Wilson Liyanto, SE (Direktur); dan Ricky R.M.Manafe, SE (Direktur Kredit). Pihaf BPR CJ juga tusak luput menghadirkan Penasehat Hukum, Bildad Thomas, SH dan Samuel David Adoe, SH.

Christifel Liyanto (ke-3) dari kiri saat temu pers di Kupang, Kamis 16 September 2021. Doc. marthen radja/ citra-news.com

“Saya sudah hadapi kasus yang mirip dengan Mariantji Manafe, ada ratusan nasabah. Saya hargai putusan hakim dalam perkara ini (Nomor 49/PDT.G/2021/PN.KPG, red). Kalau kita tonton apa yang dikatakan pengacara Hotman Paris Hutapea (ditayangan streaming video yutub). Iya saya agak tidak setuju. Tapi dalam perkara ini putusan hakim sudah incrah. Sebagai warga negara saya harus mentaati hukum yang ada,” tegas Chris Liyanto.

Mengutip Risalah ditulis pihak Bank Chrita Jaya setebal lima halaman itu, bahwa PETITUM NO 5 menyatakan hukum bahwa pelunasan atas Suplesi kredit sebesar Rp 110.000.000 (seratus sepuluh juta rupiah) dan Rp 200.000.000 (duaratus juta rupiah) tidak dapat dibebankan kepada Penggugat (hal.16 PUTUSAN Nomor 208 Pdt.G/2019/PN.Kpg). (Permintaan ini oleh ibu Mariantje Manafe ditolak oleh majelis hakim dalam PUTUSAN Nomor 208/Pdt.G/2019/PN.Kpg).

Dalam Risalah hal.3 ….maka Bank CJ mengajukan Gugatan Biasa dengan Putusan Nomir 49/PDT.G/2021/PN.KPG. Gugatan ini disarankan pada pasal dan asas;
(1) Pasal 833 ayat (1) KUHPerdata ditebtukan bahwa, “Para ahli waris dengan sendirinya karen hukum memperoleh hak milikatas segala barang, seggala hak, dan segala piutang dari si pewaris”.

(2) Pasal 1100 KUHPerdata yang menyatakan bahwa, “Para ahli waris yang telah bersedia menerima warisan harua ikut memikul pembayaran utang, hibah, wasiat, dan beban-beban lain, seimbang dengan apa yang diterima masing-masing dari warisan itu.

(3) Asas Saisine serta Yurisprudensi Mahkamah Agung No.1159/K/Pdt/2012, yang pada pokoknya menyatakan bahwa pengguggat berhak untuk mengajukan Gugatan kepada ahli waris agar melunaskan utang pewaris/pewaris yang melakukan Wanprestasi maka ahli warisnya dapat digugat untuk mempertanggungjawabkan hal tersebut.

Bahwa atas hal tersebut Hakim mengabulkan gugatan penggugat/CJ dimana meminta ahli waris dari Almarhum (Alm.) WELLEM DETHAN/ Ibu Mariantji Manafe untuk menanggung hutang Almarhum Wellem Dethan.

Lebih lanjut BPR CJ menulis (dalam risalah hal.4 alinea kedua) bahwa Perkara Nomor 49/PDT.G/2021/PN.KPG. Obyek sengketanya Hutang Milik ALM Almarhum) WELLEM DETHAN. Siapa yang menanggungnya.

Sesuai Hukum Perdata Ahli Waris yang Harus Menanggung/ibu Manafe sebagai Ahli Waris Tunggal, Yang Menanggung (lihat Golongan Ahli Waris dalam KUHPer).

Putusan Hakim Membingungkan

Terhadap putusan perkara Nomor 49/PDT.G/2021/PN.KPG, Ny. Mariantji Manafe pada kesempatan terpisah menyatakan, Saya (Mariantji Manafe, red) selaku pribadi pada tanggal, 21 September 2019 menggugat PT. BPR Christa Jaya Perdana Kupang.

Tindakan yang saya ambil diakibatkan pemberlakuan produk dari Bank tersebut yang bernama “Kredit Longgar Tarik” yang mencairkan kredit tanpa adanya sebuah akat kredit.

“Hal ini terjadi kepada diri saya dimana saya dan suami saya Wellem Dethan (Alm) semasa hidupnya pernah meminjamkan sejumlah uang kepada BPR Christa Jaya dengan berdasar pada sebuah akat kredit,” demikian Antji kepada awak media di Kupang, Kamis 16 September 2021.

Adapun akat kredit yang dibuat selama Wellem Dethan (suami) masih hidup, sebut Antji, yakni dari akat kredit nomor 65 sampai 65F.

“Suami saya (Wellem Dethan, red) semasa hidupnya pernah pinjam uang ke Bank Christa Jaya. Pertama kali pinjam sekitar Maret 2015 sebesar Rp 75 juta. Ada bukti akat kredit. Sebagai isttri saya ikut tanda tangan itu akat kredit,” tuturnya.

Dalam perjalanan di tahun yang sama, lanjut dia, dibuatkan adendum suplesi (tambahkan pinjaman sebesar Rp 75 juta) dengan Nomor akat kredit 65A.

“Sebagai istri sahnya saya ikut tanda tangan atas pinjaman suami saya ini. Waktu itu bulan Juli 2015 dengan jaminan satu unit mobil Avanza,” sebut Antji.

Menurut pihak BPR CJ, kata Antji, bahwa suami saya nasabah prioritas, singkat cerita, suami saya mau pinjam uang bank berapapun pasti dilayani.

Jadi mulai pinjam/ kredit pertama dengan akat kredit Nomor 65 sampai pinjaman selanjutnya saya sebagai isteri diberitahu dan ikut tanda tangan.

Pada akat kredit Nomor 65F tepatnya tanggal 3 Juni 2017 saya lihat rekening koran terbaca sudah NOL. Kemudian pihak BPR CJ bikin adendum keluar untuk beberapa kendaraan yang jadi barang jaminan (agunan) yaitu ganti dengan 2 (dua) Sertifikat Tanah.

Atau Surat Hak Milik (SHM) atasnama Wellem Dethan (Alm), Nomor 166 dengan luas 488 M2 (meter persegi) dan SHM Nomor 168 dengan luas tanah 334M2.

“Kami jaminkn SHM ini karena barang jaminan berupa mobil Rush dan truk masih ada di bank. Jadi kami ganti mobil dengan Dua SHM sebagai jaminannya,” tegas Antji.

Menjawab wartawan soal kemungkinan Welem Dethan (Alm) sebelum meninggal pinjam tambah lgi kw BPR CJ? Antji mengatakan, kalau kalau pinjam antara teman atau kenalannya, itu mungkin saja terjadi.

“Iya kalau suami saya pinjam uang diluar, antar teman ko itu mungkin saya tidak perlu tahu. Akan tetapi ini pinjam uang di Bank masa tidak disertai saksi. Saya kira ini manajemen baku sebuah bank yang memberikan pinjaman ke pihak siapapun ada akat kredit yang juga ditandatangi pihak kedua,” tandasnya.

Tanggal 10 Desember 2018 suami saya Wellem Dethan meninggal dunia. Beliau dikuburkan di depan rumah dan tanah yang olrh BPR CJ jadi barang jaminan, ungkap Antji dengan airnata.

Lalu pada tanggal 16 Juni 2019 pihak BPT CJ datang ke rumah suruh saya bayar hutang dari suami saya Wellem Dettan.

“Saya kaget. Ini suami saya pinjam uang yang mana…untuk apa…. koq saya tidak tahu. Sementara dia masih hidup utang di BPR CJ ada bukti-buktinya. Lalu di rekening pinjaman/jedit terbaca NOL. Begitu juga di Rekening Tabungan almarhum di BPR CJ hanya tersisa sekiam saja karena sudah dipotong karena kami ada pinjaman itu. Ini lho rekening kredit nomir yang ke-20 tercantum Nol,bukan?,” beber Antju sembari sodorkan selembar print out BPR CJ.

Aneh iya, sambung Antji, waktu masih hidup suami saya punya utang tambagan di bank Christa Jaya bernilai ratusan juta. Tapi saya selaku istri sah saya tidak diberitahu oleh suami. Atau paling tidak saya ikut tanda tangan atas pinjaman dan dijadiksn utang oleh Bank Christa Jaya. Setelah suami saya meninggal baru pihak Bank Christa Jaya sodorkan bukti pinjaman oleh suami saya. Itu yang saya rasa aneh, koq bisa ada?

Antji juga mengaku kaget bercampur heran juga aneh, bahwa materi perkara yang sama, diputuskan oleh majelis hakim yang sama di PN Kupang menyatakan Mariantji Manafe (penggugat) Menang.

Ditegaskan, untuk Perkara ini di Pengadilan Negeri (PN) Kupang kami saya dan suami saya Menang. Juga kami menang di tingkat Banding. Ke tingkat Kasasi juga kamu menang (putusannya incrah). Nah dari putusan incrah BPR CJ menggugat kami dengan Gugatan Biasa…. (bersambung) +++ citra-news.com/tim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.