Ayo DUKUNG Kain TENUN Sumba LOLOS ke UNESCO

Bunda NTT 1 dan 2 , JULIE Sutrisno Laiskodat dan MERY Jogo. Doc. istimewa

Kain Tenun Sumba-NTT kini tengah berarak menuju ke UNESCO sebagai warisan budaya dunia.

Citra News.Com, KUPANG – DEWAN KERAJINAN Nasional Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur (Dekranasda NTT) yang dinahkodai JULIE Sutrisno Laiskiodat, telah gigih berjuang menghantar kain tenun ikat NTT hingga menembus pasar global.

Kali ini giliran kain tenun ikat Sumba selangkah lagi lolos ke UNESCO. Setelah selesai berproses (seleksi) di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. yang hasil  seleksinya telah diumumkan pada Jumat 18 Pebruari 2022.

Bahwa hasil tidak mengkianati proses. Dan hasilnya sangat menggembirakan juga membanggakan bagi orang NTT khususnya bahwa kain tenun Sumba adalah kekayaan intelektual Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (Intangible Cultural Heritage of Indonesia), ia kini tengah berarak menuju ke UNESCO sebagai warisan budaya dunia.

Demikian Julie Laiskodat kepada wartawan, Jumat 25 Pebruari 2022.

Anggota DPR RI dari Partai Nasdem ini menjelaskan, UNESCO merupakan Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Perjuangan Kain Tenun Ikat Sumba ke UNESCO sebelumnya pernah diajukan pada tahun 2013 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Namun perjuangan itu tidak membuahkan hasil.

Baru kini perjuangan itu berbuah manis berkat tangan dingin Julie Laiskodat, kain tenun Sumba melejit ke UNESCO setelah bergabung bersama tenunan seluruh Indonesia.

“Waktu tahun lalu pada acara nasional di Dekranasda NTT bersama Ibu Wakil Presiden, ada ide kita bersama Dekranasda NTT dan Dekranasda Nasional untuk membawa tenun NTT ke UNESCO. UNESCO itu setiap tahun dari tiap negara mengajukan 1 (satu) item. Dan yang terpilih cuma satu. Maka dalam pertemuan bersama orang-orang UNESCO dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah kasih persyaratan dan sudah dilakukan survey,” kata Julie Laiskodat menjelaskan ihwal pengajuan tenun Ikat Sumba ke UNESCO.

Oleh karena demikian banyaknya tenun ikat di NTT sehingga tenun ikat Sumba yang menjadi perwakilan dari NTT.

“Tenun ikat Sumba dalam pengajuannya ke UNESCO harus digabungkan dengan kain tenun se-Indonesia.
Sehingga judulnya Kain Tenun Indonesia yang akan diajukan ke UNESCO untuk didaftarkan. Kan ada juga Tempe, Reog Ponorogo, Budaya Sehat Jamu, Ulos, Kain Tenun Sumba Timur dan Kolintang,” bebernya.

Tempe, Reog Ponorogo dan Budaya sehat jamu, lanjut dia, sebagai nominasi tunggal, Tenun Ikat Sumba Timur dan Ulos diusulkan sebagai Tenun Indonesia dan Kolintang diusulkan sebagai nominasi multinasional dengan negara lain.

“Proses itu untuk Tenun ikat Sumba sudah final. Jadi secara nasional kita sudah lolos. Nah nominasi inilah yang akan dimasukan ke UNESCO, “tuturnya.

Ketua Dekranasda NTT ini mengatakan, pengajuan tenun ikat Sumba ke UNESCO, memiliki banyak dampak yang luar biasa. Yaitu melindungi kekayaan intelektual kain tenun yang dimiliki oleh daerah penghasil dari pemalsuan dan penggunaan tanpa ijin dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

Dampak lainnya, sebut Istri Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat ini, akan mendorong pelestarian kebudayaan dan industri kreatif wilayah penghasil yang bermuara pada peningkatan perekonomian masyarakat.

Lebih dari itu, memperkuat diplomasi perlindungan kekayaan intelektual di dunia internasional melalui world intellectual property organization dan trade intellectual property rights aggremet di WTO. Serta meningkatkan kebanggaan masyarakat penghasil tenun akan warisan kebudayaan.

“Hal itu akan meningkatkan apresiasi dari pemangku kepentingan, masyarakat umum dan konsumen akan tenun ikat sebagai warisan budaya secara turun temurun,”ungkapnya.

Mohon Dukungan Masyarakat NTT

Patut diberi apresiasi akan perjuangan bunda Julie -sapaan akrab Julie Sutrisno Laiskodat. Dia begitu konsen mendukung serta menjaga kekayaaan intelektual milik dari masyarakat NTT ini tidak disabotase pihak lain. Jiwa patriotnya terus bergelora hingga menggelorakan dukungannya itu melalui platform digital.

Salah satunya adalah Twibbon, sebagai media untuk promosi, pamflet, banner, dukungan, dan sebagainya. Twibbon merupakan bentuk frame atau border yang didesain dan diedit sedemikian rupa sehingga terlihat menarik dan bagus.

Bunda Julie bahkan getol mengajak masyarakat di berbagai aplikasi social media untuk mendukung kain tenun ikat Sumba sebagai warisan budaya ke UNESCO.

“Saya minta dukungan seluruh masyarakat NTT untuk mendukung kain tenun ikat Sumba sebagai warisan budaya tak benda ke UNESCO. Ini link https://twb.nz/tenunikatsumbagoestounesco. Mohon dukungan dengan buka link diatas dan disebarkan,” pintanya.

Seperti dikutip dari Wikipedia, Tenun Ikat Sumba merupakan jenis kain yang berasal dari Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Jenis dan corak kain itu sudah lama terkenal karena unik berdasarkan bahan yang digunakan, motif dan proses pembuatan yang memerlukan waktu relatif lama, yakni 4 sampai 6 bulan untuk sehelai kain tenun berukuran lebar.

Pulau Sumba sendiri sangat indah dan terkenal di dunia sebagai salah satu pulau terindah. Tetapi tentang keindahan pulau itu merupakan penilain tahun 2000-an.

Sedangkan daya pikat tenun ikat tradisional terkenal sejak berabad-abad yang lalu, dan terus dijaga oleh para wanita Sumba. Mereka menangani seluruh proses tenun ikat mulai dari memilih motif, mempersiapkan bahan-bahan (benang, pewarna), proses penenunan sampai menghasilkan selembar kain.

Satu lembar kain lebar memerlukan 42 langkah. Persiapan dan proses pembuatan yang sekian lama membuat harga kain tenun menjadi relatif mahal. Mahalnya harga kain tenun ikat Sumba dipengaruhi juga oleh jumlah orang yang bekerja, yaitu satu helai tenun ikat Sumba biasa dikerjakan oleh 3 sampai 10 orang.

Ada orang yang mencari bahan, memintal benang, mewarnai benang, menenun, dan juga membuat motif. Sehingga 42 proses penyelesaian satu helai kain tenun bukanlah angka mengada-ada.

Pekerjaan dimulai dari proses lamihi, yaitu proses memisahkan biji dari kapas hingga proses wari rumata atau proses penyelesaian.  +++ marthen/tim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.