Menyoal nasib 265 mahasiswa yang tIdak punya PIN alias berstatus tidak jelas, Hans Rumat menuturkan, persoalan yang sama kemungkinan besar juga dialami mahasiswa yang baru wisuda September 2024 ini.

”Ribuan mahasiswa ini memang benar mereka diwisuda tapi coba lacak nomor PIN-nya ada tidak. Kami berharap mahasiswa yang baru diwisuda harus jeli me-recheck apakah cocok dan sesuii nomor PIN-nya. Sehingga tidak mengalami nasib serupa dengan angkatan-angkatan sebelumnya. Iya mudah-mudahan tidak ada persoalan,” ujarnya.
Lagi lagi Hans Rumat menyebut amburadulnya manajemen Undana sebagai “Bencana SDM” di lingkungan Rektorat. Pasalnya para professor anggota senat universitas tidak menjalankan fungsi pengawasan akademik secara baik.
“F-PKB DPRD NTT menduga pihak Undana tidak melaksanakan tugas dan fugsinya dengan baik. Sehingga mereka tidak punya kepedulian terhadap persoalan yang menimpa sekitar 265 alumini yang terpaksa tidak bisa mengikuti tes CPNS tahun 2024. Inikan konyol”, ungkap Hans Rumat.
Dilansir mediantt.com, untuk mensinkronkan data kembali antara SIAKAD dengan SINDIKNONA, dan PDPT membutuhkan waktu berjam-jam. Sedangkan ada sekitar 2000-an orang yang belum terima ijazah sampai saat ini.
SINDIKNONA juga menyebabkan juga ada ribuan mahasiswa Undana yang tidak membayar uang kuliah tetapi mendapatkan pelayanan kuliah.
Ini menjadi temuan inspektorat dan BPK sebagai piutang dan berpotensi kerugian keuangan Negara belasan miliar rupiah.
Sekarang lagi diaudit khusus di Undana. Konon sudah ada surat dari Kementerian Dikbudristek agar kembali ke sistem SIAKAD. Namun hingga sekarang Undana belum menindaklanjutinya. +++ marthen/CNC













