Andriko juga mengingatkan warga desa setempat untuk membuang jauh-jauh pola pikir perang antar desa yang tidak sepatutnya terjadi sehingga malah akan menimbulkan kerugian dan kemunduran bagi masyarakat setempat dan juga berdampak buruk bagi generasi muda.
Istilah perang antar desa itu, tegas Andriko, seharusnya tidak ada. Yang seharusnya terjadi itu adalah hidup damai antar desa. Jika ada permasalahan, itu wajar dan itu dinamika kita dalam kehidupan bermasyarakat.
Namun permasalahan itu harus kita selesaikan dengan kepala dingin, dengan baik dan damai. Apapun persoalannya, kita selesaikan dengan duduk diskusi bersama sesuai aturan, bukan dengan tindakan anarkis seperti ini.
Tindakan-tindakan anarkis hanya akan menimbulkan penyesalan dan persoalan baru seperti korban jiwa dan materil. Justru dengan berbagai potensi hasil bumi di desa yang kita miliki, harusnya kita bekerja sama. Kita kelola sebaik-baiknya, agar dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan bagi warga desa.
Kasihan generasi muda kita ke depan, jika kita memberi contoh hal-hal buruk. Mereka justru akan terpapar dengan segala sesuatu berbau kekerasan. Hal-hal buruk itu yang akan buat kita jauh tertinggal dengan daerah lain.

” Buang jauh-jauh mindset yang dapat timbulkan konflik. Karena pertikaian, kekerasan dan anarkisme tidak akan membawa kemajuan bagi daerah kita”, demikian Pj.Gubernur NTT Andriko.
Pemprov NTT Beri Bantuan
Pada kesempatan itu Pj. Gubernur Andriko meminta kepada Pemerintah Kabupaten Flores Timur dan jajaran untuk secepatnya segera menangani dan melakukan upaya-upaya rekonsiliasi dan mediasi dengan terus melakukan koordinasi bersama Forkopimda dan pihak-pihak terkait agar permasalahan konflik ini dapat segera teratasi.













