Lagi-lagi, Lebu Raya BANTAH Terima FEE Proyek NTT Fair

Saksi Benediktus Polo Maing (berdiri) saat memberikan kesaksian di Pengadilan Tipikor Kelas IA Kupang, Kamis 28 November 2019. Doc.CNC/marthen radja-Citra News.

Kata-kata ‘tidak pernah’ berulangkali dikemukan saksi Drs. Frans Lebu Raya. Sang mantan Gubernur NTT ini hanya mengaku mengingatkan Yuli Afra agar menyelesaikan pekerjaan proyek NTT Fair dengan baik.

Citra-News.Com, KUPANG – SIDANG LANJUTAN  kasus korupsi pekerjaan proyek pembangunan gedung pameran, NTT Fair kembali digelar di pengadilan Tipikor Kelas IA Kupang, Kamis 28 November 2019. Sidang dengan agenda penyampaian (keterangan) saksi soal aliran fee proyek yang dikabarkan jatuh ke tangan Frans Lebu Raya selaku Gubernur NTT saat itu.

Dalam sidang tersebut JPU menghadirkan saksi fakta, Ferry Jons Pandie (tersangka) untuk memberikan keterangan terkait aliran fee proyek NTT Fair. Namun ketika dikonfrontir ke Lebu Raya, dia mengatakan tidak pernah menerima uang fee proyek NTT fair.

Ketika ditanya penuntut apakah pernah meminta sesuatu dari Yuli Afra (tersangka), mantan Kepala Dinas (Kadis) Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman(PRKP) Provinsi NTT. Lebu Raya menjawab tidak pernah. Lebu Raya mengatakan ia hanya mengingatkan kepala Dinas PRKP Provinsi NTT Yuli Afra untuk penyelesaian proyek pembangunan kawasan pameran NTT Fair dalam rapat evaluasi bulanan bersama.

Demikian juga ketika ditanya apakah pernah menyampaikan pada Yuli Afra untuk mengingatkan rekanan terkait komitmen fee, lagi-lagi Lebu Raya menyatakan tidak pernah.

Jawaban yang sama ini juga Lebu Raya berikan ketika ia ditanya soal apakah pernah disampaikan oleh ajudannya (Yanto) terkait titipan dari Kadis Yulia Afra, ia kembali mengaku tidak pernah.

Dalam sidang yang dipimpin oleh Ketua Majelis hakim Ikrarniekha Elmayawati Fau, SH, MH tersebut, Jaksa Penunut Umum (JPU) kembali menghadirkan Frans Lebu Raya (mantan Gubernur NTT) dan Benediktus Polo Maing (Sekda NTT saat ini)  sebagai saksi fakta. Juga Thobias Lanoe (staf Yulia Afra); Ariyanto Rondok (Ajudan gubernur Lebu Raya) dan Yohanis Tanggupati (Ajudan Sekda Ben Polo Maing) untuk dikonfrontir.

Pagelaran sidang tersebut dilaksanakan dalam dua sesi, yakni sesi mendengarkan kesaksian dua saksi fakta. Dan sesi kedua mengkonfrontir tiga saksi lainnya. Sementara Frans Lebu Raya dan Benediktus Polo Maing –biasa disapa BEN- mendapat kesempatan pertama untuk memberikan kesaksiannya.

Ben menjelaskan dirinya memang pernah meminta bantuan Yuli Afra untuk urusan pemutihan mobil operasional Gubernur NTT. Hal itu dikatakannya secara langsung kepada Yuli Afra dalam kapasitas sebagai teman. Setelah lebih dari satu bulan, permintaan tersebut ditanggapi Yuli dengan memberikan uang sebesar Rp 100 juta kepadanya melalui staf. Uang tersebut diserahkan oleh staf Yulia melalui ajudannya di rumah jabatan Sekda.

“Uang itu sudah digunakan untuk pelunasan mobil tersebut. Namun hal itu tidak disampaikan kepada Gubernur NTT yang saat itu,” katanya.

Terhadap pertanyaan penuntut terkait mobil dinas, Ben menyatakan saat itu hanya membantu proses pemutihan mobil dinas. Ben juga mengaku tidak mengetahui asal uang tersebut yang disebut Yuli sebagai fee. Dalam perjalanan, ketika kasus tersebut diproses baru ia mengetahuinya, sehingga dirinya langsung mengembalikan uang itu.

Soal pemutihan mobil dinas dan diberikan ke Frans Lebu Raya, Ben Polo mengatakan,  pemutihan itu dilakukan pada tahun 2018. Sebagai teman dia hanya menyampaikan hal itu. Dan hal tersebut disambut baik oleh Yuli dengan memberikan uang senilai Rp 100 juta.

Walaupun Ben mengaku demikian namun Lebu Raya tetap membantah menerima titipan dari Yuli Afra melalui ajudannya. Sebagai Gubernur, kata Lebu Raya, ia memang sering mendapatkan banyak sekali dokumen. Baik berupa blocknote, buletin, kelender atau dokumen lainnya. Tapi tidak pernah ada yang berkaitan dengan uang.

Mangkrak Gedung NTT Fair di Kota Kupang NTT. Doc.CNC/marthen radja-Citra News.

Terhadap proyek NTT Fair tersebut Lebu Raya mengakui direncanakan bersama lalu dibahas bersama DPRD Provinsi NTT. Setelah disetujui sehingga dibangunlah gedung NTT Fair tesebut.
Yanto (ajudan Gubernur Frans Lebu Raya saat itu) ketika dikonfrontir JPU, Yanto mengaku pernah menerima titipan dari Thobias Lanoe (staf Yuli Afra) dan diantar ke gubernur sesuai dengan perintah Yulia Afra

“Saat saya antar saya memberitahukan bahwa ada titipan dari ibu Yuli Afra. Lalu bapak (Frans Lebu Raya) bilang simpan saja di situ. Saat itu bapak sementara mendisposisikan surat,” ujarnya.

Demikian pula saksi Thobias Lanoe, ia mengaku pernah mengantar titipan kepada Gubernur melalui ajudan (Yanto) sebanyak dua kali. Serta satu kali diantar kepada Ben Polo Maing (Sekda NTT,red) melalui ajudannya, Yohanes.

Dalam sidang mendngarkan keterangan saksi kunci tersangka Ferry Jones Pandie tersebut, menghadirkan tiga jaksa penuntut umum (JPU). Masing-masing, Hendrik Tip, Emerensiana Djemahat, dan Herry Franklin. Sementara tersangka Ferry Jones Pandie didampingi kuasa hukumnya, Deddy Jahapai, SH dan Mario Kore Mega, SH, M.Hum. +++ tim/citra-news.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *