Serikat misi Gereja yang lahir di Spanyol dan Portugal misalnya sangat kuat devosi-devosi termasuk devosi kepada santu santu. Patung-patung didirikan di mana-mana. Sedangkan misi di bidang sosial ekonomi dengan beli tanah, buka sawah, buka sekolah tukang kayu, sekolah peternakan itu kurang dapat penekanan.
SVD yang lahir di Jerman, sangat berbeda dengan tarekat-tarekat lain di dalam Gereja Katolik.
SVD didirikan oleh pendiri orang Jerman di negara Jerman yang SDA dan SDM-nya sudah tinggi dari dulu, dan umatnya sangat dermawan dari kelimpahan mereka.
Bapa Arnoldus Janssen, sambil tetap berprinsip “untuk keperluan misi uang ada di saku umat”, juga telah didik tarekat SVD sejak awal supaya kuat ”self-suffience” alias harus tetap kuat usaha sendiri juga (kemandirian).
Karena etos inilah, tidak sperti tarekat-tarekat lain dalam Gereja Katolik, Bapa Arnoldus Janssen selalu dirikan pusat biara atau pusat misi SVD di TENGAH HUTAN dimana tanah masih murah dan luas untuk tanam ubi sendiri, tanam sayur sendiri, tanam jagung sendiri, piara babi sendiri, sapi sendiri, kambing, ayam sendiri dan telur ayam sendiri untuk biaya Misi Penginjilan. Termasuk untuk makan minum para calon misionaris tarekatnya.
Itu sebanya, pusat misi di Jerman St Arnoldus Janssen tidak dirikan di tengah Kota Berlin, di Kota Bonn atau Kota Koln. Tapi ia pilih HUTAN di antara Kota Bonn dan Kota Koln yaitu tempat yang saat ini menjadi SANK AGUSTIN.
Hal yang sama dengan Techny sebagai pusat rumah misi SVD di AS tidak pilih kota Chicago (kota besar kedua di AS setelah New York. Tapi pilih TECHNY sebuah tempat hutan saat itu yang letaknya 30 Km di luar kota Chicago.
Lalu Seminari Tinggi pertama di Flores tidak pilih kota Bajawa tapi pilih Hutan Mataloko, tidak pilih Maumere tapi pilih Nita di Ledalero. Untuk Seminari menengah tidak pilih kota sumpek Larantuka tapi pilih Hutan luas di Hokeng, tidak pilih Atambuat tapi pilih hutan Lalian/ Nenuk, tidak pilih kota Ruteng tapi pilih hutan lembah Kisol dstnya.
Tujuannya apa? Jawabannya adalah untuk dapat tempat luas untuk buka kebun dan bisa tanam ubi dan piara babi, sapi serta ayam sendiri untuk biaya karya misi Allah sambil harapkan hati dermawan dari umat.
Tanah Nangahale dan Patiahu, sebelum menjadi tanah HGU setelah Indonesia merdeka tahun 1945, dibeli oleh SVD dengan uang GULDEN (mata uang Belanda waktu itu) dari perusahaan Belanda untuk kepentingan Missio Dei / Misi Allah.
Tanah Nangahale dibeli untuk tanam ubi dan piara babi, sapi dan ayam untuk suplai sendiri makan minum bagi para calon missionaris imam Diosesan Se-Nusa Tenggara di RITAPIRET Kecamatan Nita.













