Tallo : SOPHIA Menurunkan Angka Keresahan Bahkan Kejahatan

Drs. KIRENIUS Tallo saat diwawancarai di Kantor Dinas Perindag Provisi NTT, Kupang,Senin 27 Januari 2019. Doc.CNC/marthen radja-Citra News.

Salah satu akibat berlebihan menengak minuman keras (Miras) bisa menambah angka kriminalitas atau kejahatan. Mirisnya, pemerintah bukannya memberantas tapi malah Gubernur Viktor melegalkan peredaran minuman tradisional berakohol bernama SOPHIA – Sopi Asli khas NTT, melalui Pergub Nomor 44 Tahun 2019. Begini penjelasannya….

Citra-News.Com, KUPANG – MINUMAN Tradisional Berakohol bernama SOPHIA satu-satunya di Indonesia hanya ada  NTT. Tapi kalau minuman berakohol tradisional hampir semua daerah di Indonesia memiliki minuman tersebut.

Demikian Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Nusa Tenggara Timur (Dinas Perindag Provinsi NTT, NAZIR M. Abdullah melalui, Drs. KIRENIUS Tallo, Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan,  saat ditemui Portal Berita Citra-News.Com di Kupang, Senin 27 Januari 2020.

“Tidak ada satupun minum berakohol dilarang peredarannya. Tapi harus sesuai dengan ketentuan dan syarat-syarat yang berlaku umum. Serta harus memiliki perijinan lengkap sesuai aturan yang berlaku. Lantaran tidak mengikuti syarat dan ketentuan serta tidak memiliki ijin makanya dinyatakan illegal oleh pihak yang berwenang. Hal-hal semacam inilah berakibat fatal bagi konsumen,”ungkap Tallo.

Ketika proses awal kajian (draft) tentang peredaran minuman berakohol yang diproduksi para pengrajin NTT dengan berbagai nama dan rasanya, entah sopi, moke, atau arak, beber Tallo, banyak kalangan yang menantang. Dari kelompok akademisi, LSM, dan tokoh masyarakat, serta tokoh pemuda  berharap agar minuman berakohol harus diberantas peredarannya. Karena data dan fakta menunjukkan angka korban jiwa dan kejahatan meningkat.

Saya (Kirenius Tallo, red) lalu berpikir kalau hasil usaha masyarakat ini dilenyapkan lalu darimana sumber pendapatan mereka. Padahal kesempatan untuk berusaha merupakan hak asasi manusia. Jika pemerintah melarangnya itu sama artinya memotong hak hidup orang banyak. Makanya ketika saya diminta untuk berargumen oleh Rektor UNKRIS dan Ketua Sinode GMIT, sayapun menjelaskannya dari sisi pemerintahan. Karena saya ini orang pemerintahan.

Saya menjelaskan, ditelisik dari sisi aturan tidak ada satupun aturan yang melarang peredaran minuman berakohol. Hanya saja perlu diawasi proses pembuatannya hingga urusan perijinannya. Untuk proses pembuatannya, kadar methanolnya harus diturunkan prosentasenya hingga Nol (zero). Karena tinggi prosentase methanolnya makanya memabukan bagi yang mengkonsumsinya. Juga menimbulkan tingginya angka kejahatan dan korban berjatuhan. Tapi kalau tinggal saja kadar ethanolnya (alcohol asli) maka jadi minuman sehat.

“Nah, yang kita mau tonjolkan ini adalah minuman tradisional yang asli dan khas NTT. Tradisional karena produk minuman ini sudah ada sejak turun temurun. Asli karena dari bahan dasar dari nira lontar, enau, dan lain-lain dimana tanaman itu banyak tumbuh di alam NTT. Khas karena rasanya berbeda dengan minuman berakohol lainnya. Tinggal saja kita mau beri nama apa minuman tradisional berakohol khas NTT ini. Makanya dari hasil kajian itu oleh bapak Gubernur NTT VIKTOR Bungtilu Laiskodat memberi namanya SOPHIA,”demikian Tallo yang mengaku Drafter Sophia ini.

Untuk itu, lanjut dia, setelah draft disetujui semua elemen termasuk Sekda NTT, Ir. BENEDIKTUS Polo Maing dan disetujui Gubernur NTT dengan nama SOPHIA. Lebih lanjut Dinas Perindag Provinsi NTT mengurus prosedur perijinannya hingga dilakukan launching tepat di Hari Ulang Tahun Provinsi NTT (HUT NTT) yang ke-61 tanggal 20 Desember 2019 di Waingapu, ibukota Kabupaten Sumba Timur.

Drs. NAZIR M. Abdullah dan label kemasan SOPHIA yang beredar di pasaran domestik dan mancanegara. Doc.CNC/marthen radja-Citra News.

Sehingga SOPHIA – Sopi Asli khas NTT atau minuman tradisional berakohol satu-satunya di Indonesia. Dengan kadar Zero Methanol dan peredarannya terbatas serta hanya dikonsumsi dengan batas usia diatas 21 tahun.

“Artinya konsumsi dan peredarannya diawasi oleh aparat berwajib. Sehingga saya mau katakan bahwa minuman tradisional berakohol SOPHIA dapat menurunkan angka keresahan dan angka kejahatan (kriminalitas). Karena SOPHIA minuman sehat berenergi dan membangkitkan stamina bagi yang mengkonsumsinya,”ujar Talllo berpromosi.

Ditetapkan Melalui Pergub Nomor 44 Tahun 2019

Seperti diberitakan sebelumnya Kepala Dinas Perindag Provinsi NTT, Drs. NAZIR M. Abdullah menegaskan, pemerintah Provinsi NTT di era kepemimpinan Gubernur Viktor baru terealisasi soal hak paten ijin usaha minuman tradisional berakhol bernama SOPHIA.  Yakni melalui Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 44 tahun 2019 tentang Pengawasan Distribusi dan Kontrol Produksi.

“Pergub Nomor 44 tahun 2019 sifatnya mengawasi dan mengontrol produk miras (minuman keras) dengan kadar alcohol yang bebas atau zero methanol. Jadi kita pemerintah mengontrol produk Sophia dari kadar alkoholnya. Karena selama ini hasil industri masyarakat ini dikonsumsi dengan kadar alcohol dimana unsur methanolnya sangat tinggi tinimbang unsure ethanol. Sehingga produk yang bernama SOPHIA ini sudah zero methanol,”jelas Nazir.

Menjawab Citra-News.Com soal Pergub tersebut bersifat monopoli pasar. Nazir yang mengaku sudah akrab dengan aneka jenis Miras khas NTT ini menyatakan, justru produk Sophia melipatgandakan hasil usaha ekonomi masyarakat yang sudah terun-temurun itu.

Ditilik dari produksi Miras, produsen sangat rugi kalau hanya dihargakan 25-30 ribu sebotol. Padahal prosesnya sangat membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dari proses hingga mendapatkan nira entah dari gewang, enau, atau pohon lontar saja sudah sulit. Setelah ada nira kemudian disuling, ada yang setengah jadi yakni gula air dan jadi miras sangat memakan waktu. Hanya karena ini usaha untuk menyambung hidup dan ekonomi keluarga maka biar dapat hasil sedikit yang penting ada uangnya.

“Pola pikir (mainset) apa adanya seperti ini yang pak Gubernur Viktor tidak inginkan. Sebagai pemerintah punya tanggung jawab moril untuk mensejahterakan rakyatnya. Dari hasil yang biasa-biasa saja dibuat jadi luar biasa dengan lompatan-lompatan inovasi dan kreasi dari para pihak penyelenggara negara. Saya selaku unsure penyelenggara negara yang membidangi perindustrian dan perdagangan harus menterjemahkan kebijakan Gubernur NTT ini. Sehingga bermanfaat ganda bagi masyarakat NTT secara keseluruhan,”beber Nazir.

Untuk produk SOPHIA ini, Nazir menyatakan sudah dilakukan uji laboratorium (Uji Lab) oleh pihak Universitas Nusa Cendana (Undana)  Kupang. Yang diuji Undana adalah soal standar Miras yang bermutu. Setelah lolos uji lab Dinas Perindag NTT berupaya agar produk ini punya nilai jual yang tinggi. Sehingga  produsen mendapatkan keuntungan dari usaha ini.

Oleh karena itu kita lakukan pengadaan mesin Revine miras di rumah produksi. Sambil mengidentifikasi produk dan hasilnya kita dapatkan. Mulai dari sopi, moke, atau arak entah dari Maumere, Alor, Aemere-Ngada, moke Detuwulu/DW dari Ende, Sopi Rote, moke dari TTU yang orang kenal dengan sebutan TNI (Tua Nasu Insana), dan beberapa miras dari wilayahnya lainnya di NTT.

Kepada para produsen kita data, kata Nazir, untuk kita terbitkan ijin produksi dan ijin edar. Jadi kepada produsen yang tidak memiliki Surat Ijin pastinya ditangkap petugas kepolisian. Karena dianggap usaha illegal. Demikian juga kepada anak dibawah umur 21 tahun yang mengkonsumsi miras dianggap illegal sudah tentu ditangkap polisi. Karena telah melanggar syarat dan ketentuan yang berlaku. +++ marthen/citra-news.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *