Iklan Baris :
Ingin Pasang Iklan, Klik disini - Ingin Koreksi, Klik Teks ini

Wagub JOHNY Asadoma Sebut Bangunan GEDUNG 5 Miliar di Pasar Lili TERBENGKALAI

Reporter: Marthen RadjaEditor: Redaksi
CitraNews

“Pasar ini merupakan salah satu sumber penghasilan. Jika dioptimalkan dengan baik, maka perputaran uangnya bagus, PAD juga bagus dan tentu kesejahteraan masyarakat khususnya pedagang akan baik pula,” ucap Johni.

Johni juga mengapresiasi GMIT dalam mengelola pasar Lili sehingga ada peningkatan PAD bagi daerah. Rupanya dibawah pengelolaan oleh GMIT, hasilnya bisa baik, pendapatan meningkat. Ini bisa jadi model dan contoh untuk dikembangkan.

Wakil Bupati (Wabup) Kupang, Aurum Titu Eki pada kesempatan itu mengatakan bahwa pemanfaatan Pasar Lili, termasuk di dalamnya menanggulangi permasalahan kemacetan akibat penataan parkir yang belum baik.

Baca Juga :  RUMAH PANCASILA Lahir Ditengah DEGRADASI Wawasan Kebangsaan

“Semua ini kami sudah bahas dan rapatkan bersama Bupati Kupang serta jajaran Pimpinan Perangkat Daerah. Mulai minggu depan rencananya kami akan relokasi kembali para pedagang ke gedung baru tersebut, kami akan atur baik kembali”, kata Aurum.

Selain merelokasi para pedagang kembali kedalam gedung pasar, lanjut dia, juga penataan parkir yang masih belum baik sehingga menyebabkan kemacetan. Itu juga kami akan atur sehingga tidak mengganggu arus lalu lintas di jalan. Semua fasilitas disini termasuk kebersihan toilet juga menjadi perhatian penting kita bersama jajaran pengurus pasar.

Baca Juga :  DRAINSE Modern Menyongsong KUPANG 2030, Warisan NYATA Kepemimpinan CHRISTIAN Widodo dan SERENA Francis

Alasan Terbengkalai

Pengelola Pasar Lili, Pdt. Jamers Hetmina menjelaskan, gedung pasar Lili yang dibangun tahun 2019 itu menelan dana Rp 5 miliar lebih.

Setelah selesai dibangun minggu-minggu awal para pedagang berjualan di dalamnya. Akan tetapi lama kelamaan para pedagang keluar dan berjualan di luar gedung karena alasan sepi pengunjung atau pembeli.

Baca Juga :  TERBATAS Pengguna Akses Internet di Provinsi NTT

“Jadi tidak optimalnya pemanfaatan gedung pasar tersebut karena sepi pengunjung. Para pedagang lebih memilih berjualan diluar gedung pasar”, ungkapnya.

Senada Pdt.Hetmina, Wakil Ketua Sinode GMIT, Pdt. Saneb Blegur mengakui walau dari segi pendapatan
diakui mengalami kenaikan yang signifikan. Tapi dari segi penataan masih amburadul. Karena para pedagang menempati area pasar sesuai keinginan masing-masing.

Sumber: Siaran Pers
Disclaimer: Artikel Ini Merupakan Kerja Sama CitraNews.Com Dengan Gereja Masehi Injili di Timor, Sumber PAD. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Gereja Masehi Injili di Timor, Sumber PAD.