“Itu masih kasar sekali, untuk satu pulau Flores. Belum studi lebih lanjut seperti sudah uji geologi, geoseismik, dan lainnya,” ujar Lambok saat paparan di Ende Rabu malam (28/11/2019).
Untuk potensi yang riil dan sudah teruji, menurut Lambok yang bisa dioptimalkan dan masuk dalam sistem kelistrikan Flores adalah 115 MW sampai 135 MW di 2028.
Rinciannya adalah; PLTP Ulumbu Manggarai sebesar 620 MW, PLTP Sokoria Ende sebesar 30 MW, PLTP Mataloko Ngada 2×10 MW, PLTP Oka Ili Ange Flores Timur 10 MW, dan PLTP Atadei Lembata.
Menurut Lambo, ini secara perlahan, pembangkit energi terbarukan akan menggantikan pembangkit diesel yang saat ini masih mendominasi kelistrikan Flores.
Lambok menjelaskan, Flores akan mengandalkan pembangkit-pembangkit rendah emisi. PLTD akan digantikan oleh PLTMG yang berbahan bakar gas untuk mengisi beban puncak.
“Memang untuk PLTP akan kita gunakan sebagai base loaded, tapi untuk beban puncak pada pukul 7 malam sampai 10 malam akan gunakan PLTMG. Saat ini bauran energi baru di Flores sudah mencapai 18,9%. Porsinya 20 Megawatt (MW) dari total 112 Megawatt yang sudah terpasang saat ini,” ujar Lambok.
Bauran energi baru akan melonjak jadi 23% di Flores mulai Februari 2020 mendatang, yakni dengan masuknya listrik dari Pembangkit Listrik Panas Bumi (PLTP) Sokoria sebanyak 5 MW.
Dengan begitu, lanjut dia, Flores akan lebih dulu mencapai target energi baru yang ditetapkan oleh pemerintah. Secara nasional, pemerintah menargetkan porsi bauran energi baru dan terbarukan bisa mencapai 23% di tahun 2025.
Lambo menambahkan, PLTP Sokoria merupakan Independent Power Producer (IPP) atau dibangun oleh investor swasta berasal dari Islandia, yakni PT Sokoria Geothermal Indonesia. +++ marthen/*












