Jika peserta Tour de EnTeTe tidak keluarkan uang secara signifikan semisal untuk penginapan, transportasi, konsumsi, dan kebutuhan lainnya maka tujuan pariwisata yang diharapkan tidak akan tercapai.
“Kalau uang dari APBD hanya habis untuk beli tali rafia, tenda, bayar polisi, atau ojek, lalu uang itu tidak kembali dalam bentuk pemasukan mak sepatutnya pemerintah perlu menhevaluasi besar-besaran,” tandasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, idealnya kita sedang berupaya mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya. Peserya touring ini juga adalah wisatawan yang datang melihat panorama dan keindahan alam NTT. Sudah pasti datang bawa duit dan berbelanja segala keperluannya selama touring.
Ini tentunya dalam evaluasi kita, giat Tour De EnTeTe selama beberapa hari ini, berapa besar pemasukan atau berapa besar uang yang dibawa oleh peserta tur ini. Karena dimana-mana yang namanya tur, itu artinya wisatawan mengeluarkan sejumlah uang.

Pemerintah hanya memfasilitasi bukan membiayai semua kebutuhan peserta touring. Jadi pemerintah jangan salah kaprah untuk hal ini. Walaupun judulnya melalui kegiatan Tour De EnTeTe akan memberi dampak bertambahnya jumlah wisatawan ke NTT. Tapi itu jadinya tidak terukur.
“Dugaan saya penyelenggaranya masih orang-orang Tour de Flores tahun 2016 itu. Saat itu saya menolak keras karena tidak berdampak apa-apa. Lebih baik uang yang ada pemerintah perbaiki jalan rusak di spot-spot destinasi yang ada”, tegasnya berulang. ++-+ marthen/CNC













