Di sudut-sudut kota, perubahan itu mulai terlihat. Tempat sampah yang tertata, kampung-kampung yang mulai rapi, dan warga yang aktif bertanya: apa lagi yang bisa dibantu?
Christian juga menyinggung pembatasan musik larut malam—kebijakan yang awalnya sensitif, tetapi justru mendapat penjelasan dari warga kepada warga lainnya.
“Mereka berdiskusi sendiri. Wartawan juga bantu menjelaskan bahwa ini untuk menghindari kriminalitas dan kecelakaan. Dukungan mereka luar biasa,” ungkapnya.
Gelombang dukungan itu, menurut Christian, menunjukkan bahwa warga Kota Kupang kini semakin kritis, rasional, dan ikut menjaga kota mereka sendiri.
Christian memberi apresiasi kepada seluruh OPD yang bekerja keras di tengah keterbatasan. “Kalau dengan kondisi seperti ini kita bisa memberi kepuasan publik 80 persen itu luar biasa. OPD sudah mendukung full,” tegasnya.
Namun ia tak mau cepat puas. “Saya masih merasa banyak kekurangan. Pemerintah tidak boleh terlena. Kita evaluasi tiap bulan,” ucapnya
Baginya, survei bukan pengakuan, melainkan kompas untuk memperbaiki kebijakan.
Satu Nafas Perubahan
Pada Sabtu (6/12/2025), FISIP Undana memaparkan hasil survei itu dalam Diskusi Publik bertema : “Kepemimpinan Transformasi Kepala Daerah”.
Survei dilakukan secara independen oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara, menggunakan metode Multistage Cluster Random Sampling.
Dr. I Yoga Putu Bumi Pradana, narasumber pertama, menyebut Kota Kupang dipilih karena merupakan barometer pembangunan NTT.












