Integrasi antara iman dan ilmu pengetahuan menjadi pilar penyangga dalam pemikiran Santo Arnoldus Janssen. Penekanan beliau pada studi antropologi, linguistik, dan budaya merupakan bentuk ‘penghormatan intelektual’ terhadap identitas mitra dialog.
Memahami bahasa serta adat istiadat pihak lain adalah langkah metodologis untuk meruntuhkan ‘tembok prasangka’ yang sering kali muncul akibat ketidaktahuan.
Bagi saya, upaya ini merupakan ‘dekonstruksi stereotip’ melalui literasi budaya yang komprehensif. Dengan dan dari posisi ini, perjumpaan antar iman pun bertransformasi menjadi ruang pertukaran gagasan yang setara, bermartabat, dan jauh dari tendensi dominasi ideologis.
Kebajikan utama Santo Arnoldus Janssen bermuara pada inklusivitas yang berpusat pada ‘hati manusia sebagai ruang perjumpaan’. ‘Vivat Deus Unus et Trinus in cordibus nostris’ merupakan doa khas serta motto hidup Santo Arnoldus Janssen.
Sebuah ungkapan yang berarti “Hiduplah Allah Tritunggal Maha Kudus dalam hati kami” ini mengandung konsekuensi sosiologis bagi setiap individu untuk menjadikan batinnya sebagai rumah bagi kemanusiaan.
Kata ‘Vivat’ jauh melampaui ucapan Selamat. Ia merupakan sebuah kerinduan eksistensial agar Allah Yang Esa dan Tritunggal benar-benar menjadi ‘detak utama dalam denyut kehidupan batiniah manusia’.
Dalam pemaknaan ini, Allah tidak lagi dipandang sebagai entitas yang jauh di angkasa, melainkan ‘Sahabat Karib’ yang bersemayam di kedalaman diri, membimbing setiap pikiran dan tutur kata agar selaras dengan frekuensi kasih-Nya yang tak terhingga.
Dalam konteks ini, hospitalitas spiritual menuntut kerendahan hati untuk mendengarkan tanpa ‘interupsi egoistik’, di mana dialog menjadi efektif saat setiap pihak mampu memosisikan diri sebagai pembelajar.
Dalam kaitannya dengan membumikan moderasi beragama di tengah keragaman agama dan etnis hospitalitas ini menjadi titik starnya. Sikap tersebut menjadi fondasi utama dalam menciptakan ruang aman bagi eksistensi serta penghormatan terhadap keyakinan sesama.











