Ke depan, kata Gubernur Melky, monumen ini dirancang menjadi destinasi wisata sejarah dan ideologi Pancasila—ruang belajar terbuka bagi generasi muda, sekaligus pengungkit ekonomi masyarakat sekitar.
Pengelolaannya akan melibatkan Pemerintah Provinsi NTT, Pemerintah Kota Kupang, dan Pemerintah Kabupaten Kupang secara kolaboratif.
Apresiasi pun disampaikan Gubernur Melky kepada keluarga besar Theo Widodo atas hibah lahan yang menjadi fondasi monumen ini.

“Itu adalah wujud nyata semangat gotong royong dan cinta terhadap daerah. Target kami, monumen ini bisa diselesaikan tahun ini,” tegas Gubernur.
Untuk pembiayaan, Pemerintah sepakat mencari skema pendanaan alternatif tanpa membebani APBD, agar Monumen Flobamora Rumah Pancasila benar-benar menjadi milik dan kebanggaan bersama.
Ditinggal merana dalam satu dekade kepemimpinan Gubernur Viktor Laiskodat dan Wakilnya Josef Nae Soi, Patung burung Garuda di Desa Nitneo itu masih berdiri menatap Laut Sawu.
Namun kini, ia tak lagi sendiri. Ada tekad, kolaborasi, dan harapan kini datang dari Gubernur Melky Laka Lena, Wali Kota Kupang Christian Widodo, dan Bupati Kupang Yosef Lede.
Bahwa monumen ini kelak tak hanya megah secara fisik, tetapi hidup sebagai ruang edukasi, sejarah, dan pemersatu masyarakat Nusa Tenggara Timur. +++ marthen/*













