“Monumen ini harus menjadi milik bersama masyarakat. Bukan hanya destinasi wisata dan sejarah, tetapi juga ruang edukasi dan penggerak ekonomi warga Kota Kupang dan Kabupaten Kupang,” tutur dr. Christian Widodo dengan nada penuh makna.
Terima Kasih Untuk Keluarga Besar Theo Widodo
Letaknya yang strategis—tepat di batas Kota dan Kabupaten Kupang—menjadikan monumen ini seperti jembatan persatuan. Dari satu titik di ibukota Provinsi NTT ini, ia diharapkan menyatukan wilayah, ide, dan masa depan Nusa Tenggara Timur untuk Indonesia Raya.
Monumen Flobamora Rumah Pancasila berdiri di atas lahan hibah dari orang tua Sang Wali Kota Kupang, yakni Bapak Theo Widodo kepada Pemerintah Provinsi NTT.
Sebuah pemberian yang kini dimaknai lebih dari sekadar aset tanah, melainkan wujud gotong royong dan kecintaan pada daerah.
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, menegaskan bahwa dirinya, Wali Kota Kupang, dan Bupati Kupang memiliki satu kesepahaman bahwa Monumen Flobamora Rumah Pancasila ini harus dituntaskan.

“Monumen Flobamora Rumah Pancasila adalah simbol kebanggaan Flobamora. Dari NTT, nilai-nilai Pancasila ingin kita kumandangkan ke seluruh Nusantara, karena daerah ini memiliki keterkaitan sejarah dengan lahirnya gagasan Pancasila,” ujarnya.
Ia tak menampik bahwa pembangunan monumen sempat terhenti dan belum dapat difungsikan secara optimal. Peninjauan lapangan ini menjadi langkah awal untuk memastikan arah pembangunan ke depan lebih jelas, realistis, dan terukur.













