Dikatakanya SERAMBI 2026 juga menjadi ruang perjumpaan antara edukasi, teknologi, dan kepedulian sosial. Melalui penguatan QRIS, sosialisasi aplikasi PINTAR, hingga kegiatan donor darah, Bank Indonesia ingin menghadirkan rupiah dalam makna yang lebih luas.
“Ini bukan hanya tentang uang, tetapi tentang kepercayaan, kepedulian, dan masa depan ekonomi,” kata Adidoyo.
Ia mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan layanan digital serta merawat uang rupiah sebagai simbol kehormatan bangsa.
Merawat Harmoni di Kota Kasih
Di balik agenda ekonomi, Serena Francis melihat SERAMBI sebagai sarana memperkuat nilai sosial. Dan merawat Harmoni di Kupang Kota Kasih. Ramadan dan Idulfitri, menurutnya, adalah waktu terbaik untuk menumbuhkan toleransi, kebersamaan, dan empati.
“Kegiatan ini menghadirkan suasana yang aman, nyaman, dan penuh kasih di tengah keberagaman Kota Kupang,” ujarnya.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, mulai dari Bank Indonesia, perbankan, hingga panitia penyelenggara. “Sinergi hari ini adalah fondasi keberhasilan SERAMBI hingga puncak Idulfitri nanti,” tutupnya.
Ketika acara berakhir, para tamu perlahan meninggalkan lobi. Namun, semangat yang dibangun pagi itu tetap terasa: semangat untuk menjaga rupiah, memperkuat literasi, dan merawat kebersamaan.
Di bawah langit Provinsi Nusa Tenggara Timur, SERAMBI 2026 tak sekadar menjadi agenda tahunan. Ia menjelma menjadi ikhtiar kolektif—menyemai harapan, meneguhkan identitas, dan menguatkan ekonomi masyarakat di bulan yang penuh berkah. +++ marthen/*












