Ia menjelaskan bahwa inflasi Februari 2026 yang mencapai 4,01 persen berada di atas target nasional 2,5±1 persen, terutama dipicu oleh tarif listrik dan harga emas perhiasan.
“Tanpa komponen tarif listrik, inflasi Kupang masih di kisaran 2,19 persen dan relatif terkendali,” jelasnya.
BI juga memetakan potensi kenaikan harga beras, telur, bawang, dan cabai menjelang musim perayaan. Untuk itu, direkomendasikan penguatan operasi pasar, sidak gudang, kampanye belanja bijak, serta pengembangan dashboard pangan interaktif berbasis data real time.

Kolaborasi Lintas Sektor
High Level Meeting ini turut menghadirkan paparan dari berbagai mitra strategis, antara lain Perum Bulog terkait stok beras, PT Pelindo Cabang Kupang tentang aktivitas bongkar muat, serta aparat kepolisian melalui Satgas Pangan Polda NTT.
Pandangan akademis juga disampaikan oleh perwakilan Universitas Nusa Cendana, yang menekankan pentingnya kebijakan berbasis data dan riset.
Secara interpretatif, HLM ini tidak hanya merefleksikan upaya responsif pemerintah daerah menghadapi tekanan musiman inflasi, tetapi juga menunjukkan arah kebijakan jangka panjang menuju tata kelola digital dan ekonomi yang lebih adaptif.
Dengan menempatkan stabilitas harga dan transformasi digital sebagai dua pilar utama, Pemkot Kupang berupaya memastikan bahwa momentum hari raya tidak menjadi sumber gejolak, melainkan peluang memperkuat kesejahteraan masyarakat.

Forum ini diharapkan menjadi titik temu antara kebijakan, data, dan aksi lapangan—sebuah ikhtiar kolektif agar pembangunan ekonomi Kota Kupang tetap tangguh di tengah dinamika nasional dan global. +++ marthen/*













