Menurutnya, di tengah derasnya arus digitalisasi, kegiatan seperti ini menjadi “oase” yang membantu anak-anak bertumbuh secara mental dan emosional. Ia menekankan bahwa pembangunan tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga pada pembentukan karakter.
Lebih jauh, Gubernur Melky menggambarkan proses di balik pentas seni sebagai perjalanan belajar yang bermakna. Mulai dari latihan gerakan, menghafal dialog, hingga memperbaiki kesalahan, semuanya menjadi bagian penting dalam membentuk disiplin, kerja sama, dan rasa tanggung jawab.
“Di sini anak-anak belajar menyatukan perbedaan menjadi harmoni. Mereka belajar kapan memimpin, kapan mengikuti, dan bagaimana saling menguatkan,” ujarnya.
Kehangatan kebersamaan juga terasa ketika anak-anak dari berbagai latar belakang tampil tanpa sekat. Perbedaan status sosial maupun asal daerah seolah melebur, digantikan oleh rasa kekeluargaan yang kuat di atas panggung.

Senada dengan itu, Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni, melihat pentas seni ini sebagai wujud nyata Gereja yang hidup dan dinamis. Ia menilai anak-anak SEKAMI tidak hanya menampilkan bakat, tetapi juga menyampaikan pesan kasih dengan cara yang sederhana dan menyentuh.













