Harapan itu bukan tanpa dasar. Berdasarkan hasil penilaian terbaru, capaian pengelolaan sampah Kota Kupang menunjukkan tren positif, meningkat dari angka 41,93 menjadi 50,8. Meski masih berada dalam kategori pembinaan, lonjakan tersebut dinilai sebagai sinyal awal bahwa perubahan mulai bergerak ke arah yang tepat.
Bahkan pemerintah pusat menargetkan lonjakan yang lebih ambisius. Bukan sekadar memenuhi standar minimal nasional, tetapi melampauinya. Kota Kupang didorong untuk menembus peningkatan hingga 15 poin, sebuah target yang menuntut kerja keras sekaligus kolaborasi lintas sektor.
Perilaku Masyarakat
Dukungan dari pusat pun tidak berhenti pada kata-kata. Pendampingan teknis dijanjikan akan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan edukasi masyarakat, hingga membuka ruang kolaborasi dengan sektor swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan.
Salah satu gagasan yang mengemuka adalah pengembangan proyek percontohan pengelolaan sampah terpadu berbasis kecamatan dengan konsep zero waste (Nol sampah). Dalam konsep ini, sampah tidak lagi dipandang sebagai beban semata, tetapi sebagai sumber energi dan produk bernilai ekonomi.
Menanggapi dukungan tersebut, Walikota Christian Widodo menyatakan kesiapan penuh pemerintahannya untuk menjawab tantangan itu.
Christian mengakui bahwa membangun sistem pengelolaan sampah yang efektif bukan pekerjaan instan, melainkan proses panjang yang membutuhkan kesabaran dan konsistensi.
Menurutnya saat ini Kota Kupang memproduksi sekitar 267 ton sampah setiap hari. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan tantangan nyata yang harus dihadapi setiap hari oleh pemerintah dan masyarakat.
Karena itu, Pemkot Kupang mulai merancang sistem pengelolaan berbasis wilayah, dengan target setiap kecamatan memiliki Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST).












