Harapannya sederhana namun berdampak besar. Bahwa hanya residu yang benar-benar tidak dapat diolah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Targetnya, tidak lebih dari 15 persen sampah yang akhirnya dibuang ke TPA.
Berbagai inovasi pun telah mulai digerakkan. Dari pembentukan satuan tugas penanganan sampah, pengaturan jam buang sampah, hingga penyediaan ratusan kontainer di berbagai titik.
Bahkan, lomba kebersihan antar kelurahan dengan insentif hingga Rp1 miliar digelar sebagai cara kreatif menumbuhkan semangat kolektif menjaga kebersihan.
Namun di balik semua upaya itu, Walikota Christian Widodo tidak menutup mata terhadap tantangan terbesar yang masih harus dihadapi, yakni perubahan perilaku masyarakat.
Pendampingan Berkelanjutan
Walikota Christian Widodo mengatakan. persoalan sampah bukan semata soal infrastruktur, tetapi soal kebiasaan dan kesadaran bersama. Edukasi pun terus digencarkan, menyasar berbagai lapisan masyarakat, mulai dari sekolah, rumah ibadah, hingga lingkungan RT. Pemerintah percaya bahwa perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Pertemuan hari itu akhirnya ditutup dengan kesepahaman untuk memperkuat koordinasi dan pendampingan berkelanjutan. Sebuah komitmen bersama untuk memastikan setiap rencana tidak berhenti di atas kertas, tetapi benar-benar diwujudkan di lapangan.

Kini, di tengah tumpukan tantangan yang masih menanti, Kota Kupang berdiri di sebuah persimpangan penting. Jika langkah-langkah ini terus dijaga, bukan mustahil Kota Kupang ini akan menjadi contoh nyata bahwa perubahan menuju kota bersih dan berkelanjutan bisa dimulai dari mana saja. Bahkan dari sebuah kota di ujung timur Indonesia. +++ marthen/*













