Salah satu contoh yang ia angkat adalah pengembangan kawasan Saboak di Taman Nostalgia Kupang. Kawasan ini, menurutnya, menjadi gambaran nyata bagaimana sebuah program membutuhkan kerja sama banyak pihak. Mulai dari penataan ruang, kebersihan, keamanan, hingga pengaturan lalu lintas.
Di tengah diskusi, Walikota Christian berulang kali menegaskan pentingnya keterbukaan. Ia mengajak seluruh peserta untuk tidak menyembunyikan persoalan yang ada di lapangan.
Baginya, masalah yang diungkap adalah pintu menuju solusi, bukan bahan untuk saling menyalahkan. “Jangan sembunyikan masalah. Sampaikan apa adanya supaya bisa kita bantu,” pesan Christian dengan nada yang tegas namun mengajak.
Ia juga menyoroti pentingnya fokus pada program prioritas, terutama yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Program koperasi, penguatan UMKM, hingga beasiswa bagi masyarakat kurang mampu disebut sebagai contoh yang harus dikelola secara tepat dan berbasis data yang akurat.
Menurutnya, data yang terintegrasi antar perangkat daerah adalah fondasi penting agar bantuan benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan. Tanpa data yang kuat, program berisiko hanya terlihat baik di atas kertas.
Dalam satu pernyataan yang paling membekas, Walikota Christian mengibaratkan proses evaluasi seperti membedah masalah dengan “pisau kejujuran.” Sebuah metafora yang menggambarkan bahwa keberanian membuka persoalan adalah awal dari perubahan yang lebih besar.
Wali Kota Kupang Christian Widodo juga mengingatkan bahwa laporan administratif yang rapi saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah bagaimana setiap program benar-benar berjalan di lapangan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.












