Selain itu, pemerintah juga memutuskan pembentukan Pokja Pengelola Car Free Day (CFD) sebagai upaya menghidupkan kembali ruang publik yang sehat dan produktif. Tidak hanya sebagai ajang olahraga, tetapi juga ruang interaksi sosial dan ekonomi masyarakat.
Langkah lain yang tidak kalah menarik adalah rencana penyelenggaraan event budaya perdana Kota Kupang, sebuah gagasan yang diproyeksikan menjadi identitas baru kota sekaligus penggerak sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Di sektor kesehatan, perhatian diarahkan pada penguatan layanan berbasis Posyandu, yang diharapkan mampu memperluas jangkauan pelayanan kesehatan masyarakat hingga tingkat paling bawah.
Tak hanya itu, inovasi digital juga menjadi perhatian serius. Bahwa pengembangan sistem informasi harga pasar dirancang untuk memberikan transparansi harga kepada masyarakat sekaligus membantu pengendalian inflasi daerah.
Lemah Implementasi
Dalam arahannya, Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo menegaskan bahwa keberhasilan rapat ini tidak diukur dari jumlah keputusan yang dihasilkan, melainkan dari seberapa jauh keputusan itu dijalankan di lapangan.
Ia mengingatkan bahwa terlalu banyak program gagal bukan karena kurang ide, tetapi karena lemahnya implementasi. Karena itu, setiap keputusan yang dihasilkan harus memiliki indikator keberhasilan yang jelas dan dapat diukur.
“Setiap output yang kita hasilkan hari ini tidak boleh berhenti di atas kertas. Harus ada bukti nyata di lapangan, harus ada dampak yang dirasakan masyarakat,” tegasnya di hadapan peserta rapat.
Nada optimisme juga terasa ketika Wali Kota menutup kegiatan tersebut. Ia menyebut forum ini sebagai sebuah peristiwa yang tidak biasa dalam sejarah pemerintahan Kota Kupang.












