Iklan Baris :
Ingin Pasang Iklan, Klik disini - Ingin Koreksi, Klik Teks ini

Saat JAGUNG Jadi Emas Baru dari TANAH Kering NTT, Tarus Disulap Jadi LABORATORIUM HIDUP

CitraNews

Ngadi : Hampir semua jenis varietas jagung hibrida BTS memiliki ciri khas tahan panas dan suka pencahayaan.

Citra News.Com, Kupang – DI TENGAH lanskap kering NTT yang selama ini identik dengan tantangan pangan, sebuah langkah strategis Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur (Kadis PKP NTT), Joaz Billy Oemboe Wanda, S.P, diam-diam menggandeng 11 produsen (penyedia, red) benih jagung hibrida dari berbagai varietas.

Di lahan Balai Benih Induk (BBI) Tarus Kabupaten Kupang kini disulap jadi laboratorium hidup – lokasi dimana dikembangkan jagung hibrida. Jagung, komoditas yang dulu dianggap biasa, kini naik kelas menjadi “emas baru” yang diperebutkan. Jagung bukan hanya untuk konsumsi, tetapi juga sebagai tulang punggung pakan ternak dan penggerak ekonomi daerah.

Baca Juga :  PAJAK Tulang Punggung PEMBANGUNAN Daerah

Pada Sabtu, 2 Mei 2026, menjadi titik penting dari perubahan arah itu. Di momentum ini Dinas PKP NTT secara resmi meluncurkan Gelar Teknologi dan Penanaman Perdana Jagung Hibrida serta Bawang Merah True Shallot Seed (TSS) – sebuah teknologi baru pengembangbiakan bawang bukan dari siung tapi dari buji bawang.

Namun kegiatan ini bukan sekadar seremoni tanam. Ia adalah penanda dimulainya babak baru pertanian NTT—berbasis teknologi, kolaborasi, dan orientasi pasar.

Di atas lahan seluas satu hektare dari total empat hektare yang tersedia di BBI Tarus, berbagai varietas jagung hibrida ditanam secara berdampingan. Ini bukan tanpa tujuan. Lahan tersebut kini difungsikan sebagai demplot atau “laboratorium terbuka” untuk menguji, membandingkan, sekaligus memperkenalkan benih-benih unggul kepada petani.

Baca Juga :  VICTOR LAISKODAT Masuk Daftar 16 CAGUB Pemenang Pilkada 2018

Semy dari UPT Perbenihan menyebut, kegiatan ini dirancang sebagai ruang temu antara berbagai aktor penting pertanian. Mulai dari pemerintah, produsen benih, penyedia pupuk, akademisi, hingga petani, semua dipertemukan dalam satu ekosistem kerja nyata.

“Ini bukan hanya tanam jagung. Ini tentang bagaimana kita membawa teknologi yang tepat guna ke petani, meningkatkan produktivitas, dan menjawab kebutuhan riil di lapangan,” ujarnya.

Kehadiran berbagai pihak mempertegas bahwa pengembangan jagung di NTT kini tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci.

Tercatat sedikitnya ada 11 produsen dan mitra pertanian terlibat dalam kegiatan ini. Mereka membawa berbagai varietas unggulan, mulai dari BTS 1, BTS 5, BTS 7, hingga Nusa 1 dan varietas 234 serta berbagai varietas unggul lainnya. Setiap varietas diuji langsung di lapangan dengan kondisi iklim khas NTT yang keras.

Baca Juga :  Gubernur MELKY Laka Lena SERIUS Melanjutkan Pembangunan MONUMEN Flobamora RUMAH PANCASILA

Selama ini, jelas Semy dari UPT Perbenihan, BBI Tarus lebih banyak mengembangkan jagung komposit. Namun sejak 2024, arah kebijakan mulai bergeser ke jagung hibrida.

Perubahan ini bukan tanpa alasan. Permintaan jagung di NTT terus meningkat dari tahun ke tahun. Selain kebutuhan pangan (konsumsi) dan industri, lonjakan terbesar justru datang dari sektor peternakan yang membutuhkan pasokan pakan dalam jumlah besar dan stabil.