Menjadi hal yang menarik, Gubernur Melky Laka Lena tidak berhenti pada sektor desa. Ia mulai memperluas konsep OVOP ke dunia pendidikan melalui program One School One Product (OSOP). Artinya, setiap SMA dan SMK di NTT nantinya diarahkan memiliki produk unggulan sendiri sesuai potensi daerah masing-masing.
Sekolah tidak lagi dipandang hanya sebagai tempat belajar teori, tetapi juga ruang membangun budaya kewirausahaan. Sekolah-sekolah juga harus punya produk unggulan sendiri. Bisa makanan olahan, kerajinan, atau produk lain sesuai potensi daerah.
Gagasan ini menunjukkan bahwa Pemprov NTT sedang mencoba mengubah pola pembangunan dari bawah yakni dari desa, UMKM, hingga sekolah.
Terbentur Soal Pasar
Bupati TTS Eduard Markus Lioe menilai pelatihan dan bantuan alat produksi tersebut menjadi momentum penting membangkitkan ekonomi masyarakat desa.
Menurutnya, selama ini masyarakat sebenarnya memiliki banyak produk unggulan, tetapi selalu terbentur persoalan pemasaran.
“Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan biasa, tetapi tonggak penting kebangkitan ekonomi kerakyatan di desa,” tegas Bupati Lioe.
Ia menegaskan pemerintah daerah kini tidak ingin lagi produk masyarakat gagal masuk pasar hanya karena persoalan legalitas, kemasan, atau izin edar.

“Saya tidak mau ada produk TTS ditolak karena kualitas kemasan atau izinnya belum lengkap. Semua harus dibantu sampai siap masuk pasar,” ujarnya berharap.
Di sisi lain Kepala Satpol PP Provinsi NTT Yohan A. Bunmo Loban menjelaskan pelatihan berlangsung sejak 5 hingga 7 Mei 2026 dan melibatkan empat kelompok UMKM di Desa Nobi-Nobi: Kelompok Anggrek, Melati, Mawar, dan Sinar Kasih.
Pelatihan tidak hanya mengajarkan cara membuat emping jagung, tetapi juga branding, pengemasan, hingga strategi pemasaran. Bagi Yohan, tujuan utama program ialah meningkatkan pendapatan masyarakat melalui sektor produktif berbasis potensi lokal.
“Jagung tidak lagi hanya dijual mentah, tetapi diolah menjadi berbagai produk yang punya nilai jual lebih tinggi,” ujarnya.
Kalimat itu mungkin terdengar biasa. Tetapi bagi desa-desa di NTT, perubahan cara menjual hasil bumi bisa menjadi titik balik penting. Sebab selama ini, persoalan terbesar bukan semata-mata kurangnya produksi, melainkan minimnya kemampuan mengubah hasil pertanian menjadi produk ekonomi modern.
Di Desa Nobi-Nobi, perubahan itu sedang dicoba dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: Emping Jagung. Dan dari Nobi-Nobi desa kecil di TTS itu, Pemprov NTT tampaknya sedang mengirim pesan lebih besar bahwa masa depan ekonomi daerah mungkin tidak lahir dari proyek raksasa, tetapi dari keberanian desa mengolah hasil buminya sendiri. +++ marthen/*













