Emping jagung Nobi-Nobi diproyeksikan menjadi contoh bagaimana desa bisa membangun identitas ekonomi sendiri melalui produk lokal yang memiliki ciri khas. Karena itu, pengemasan dan pemasaran menjadi fokus utama program.
Gubernur Melky bahkan memastikan produk-produk UMKM desa nantinya masuk dalam jaringan NTT Mart agar memiliki akses pasar yang lebih luas.
“Emping jagung dari Desa Nobi-Nobi ini nanti bisa dijual di NTT Mart supaya dikenal lebih luas sebagai makanan khas Timor Tengah Selatan,” ujarnya.
Di titik inilah program OVOP mulai terlihat bukan sekadar proyek pelatihan biasa, melainkan strategi membangun rantai ekonomi baru dari desa ke pasar modern.
Pola Usaha Bersama
Selama ini banyak program bantuan desa berhenti pada pembagian bibit, pupuk, atau alat produksi tanpa pendampingan bisnis yang jelas. Akibatnya, masyarakat tetap kesulitan menjual produk dan desa tidak mengalami perubahan ekonomi signifikan.
Model yang sedang dicoba di Nobi-Nobi bergerak berbeda. Pemerintah provinsi tidak hanya memberi alat, tetapi juga membangun pola usaha bersama, branding produk, hingga akses distribusi.
Gubernur Melky bahkan mengusulkan agar sebagian keuntungan usaha UMKM nantinya disisihkan untuk membantu pembangunan desa. Gagasan itu memperlihatkan arah baru pembangunan desa di NTT yaitu Ekonomi warga dan pembangunan desa harus tumbuh bersamaan.
“Saya usul keuntungan usaha ini juga dibagi sedikit untuk desa supaya desa ikut berkembang bersama masyarakat,” kata Melky.
Konsep tersebut menjadi bagian dari pendekatan OVOP yang kini didorong Pemprov NTT. Setiap desa (one village) diarahkan memiliki satu produk (one product) unggulan yang menjadi identitas ekonomi lokal.
Jika desa-desa di NTT memiliki produk khas masing-masing, pemerintah berharap terbentuk ekosistem ekonomi desa yang tidak lagi bergantung sepenuhnya pada bantuan pemerintah.
“Kalau Desa Nobi-Nobi sudah punya emping jagung sebagai produk unggulan, maka itu harus terus didorong sampai orang kenal emping jagung Nobi-Nobi,” ujar Melki.
Bagi Pemprov NTT, Kabupaten Timor Tengah Selatan bukan wilayah biasa. Daerah ini memiliki lahan pertanian luas, produksi jagung besar, serta masyarakat dengan tradisi usaha rumah tangga yang kuat.
Namun potensi itu selama ini belum sepenuhnya tersambung dengan sistem pasar modern. Karena itu, Gubernur Melky menyebut perubahan di TTS akan berdampak langsung terhadap perubahan ekonomi NTT secara keseluruhan. “Kalau TTS berubah, maka NTT ikut berubah,” ujarnya.
Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Bahwa TTS selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah dengan tantangan kemiskinan cukup tinggi di NTT. Tetapi di sisi lain, daerah ini menyimpan kekuatan besar pada sektor pertanian, tenun, serta produk olahan lokal.














