Bagi Pemerintah Provinsi NTT, Jamda X menjadi momentum untuk memperkuat kembali peran Gerakan Pramuka sebagai salah satu instrumen pendidikan nonformal yang strategis. Sementara bagi pemerintah kabupaten dan kota, kehadiran para peserta dari seluruh NTT menjadi ruang untuk membangun jejaring dan memperkenalkan potensi daerah masing-masing.
Di sinilah politik pembangunan menemukan wajahnya yang lebih humanis. Pembangunan tidak selalu berbicara tentang jalan, gedung, anggaran, atau infrastruktur. Tetapi juga berbicara tentang bagaimana pemerintah menyiapkan manusia yang akan mengisi masa depan daerah. Dan di Bumi Perkemahan Fatubena, masa depan itu sedang belajar hidup bersama.
Mereka datang dari pulau-pulau yang berbeda. Berbicara dengan logat yang berbeda. Membawa budaya dan pengalaman yang berbeda. Namun, mereka duduk di bawah langit yang sama, membangun tenda dibawah kaki langit yang sama, mengikuti aturan yang sama, dan belajar tentang arti kebersamaan.
Dari Fatubenalah Gerakan Pramuka NTT kembali tumbuh. Ia menyemaikan harapan bukan hanya sebagai organisasi kepanduan, tetapi sebagai rumah besar bagi pembentukan karakter generasi muda Nusa Tenggara Timur.
Fatubena tidak sekadar menjadi lokasi perkemahan. Ia sedang dicatat sebagai ruang baru tempat pemerintah, masyarakat, dan generasi muda bertemu untuk membicarakan masa depan NTT dengan cara yang sederhana. Di area Fatubena mereka belajar bersama hidup mandiri dan tumbuh bersama.
Karena dipahami bahwa sebuah daerah jika ingin bergerak maju maka keberaamaan itu kunci utama. Kemajuan pembangunan tidak cukup hanya dimulai dari kemegahan gedung pemerintahan. Itu terjadi kalau dimulai dari sebuah kebersamaan di tenda kecil.
Dari tumpukan kayu jadi api unggun dan dari nyala api unggun itu akan membakar semangat barisan anak-anak muda untuk belajar meraih masa depan daerah mereka. Karena masa depan sesungguhnya berada di tangan generasi muda. +++ marthen/*













