Filosofi tersebut dipandang bukan sekadar slogan, melainkan ajakan agar setiap momentum pembangunan, termasuk olahraga, benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat NTT.
Suasana pelantikan pun ditutup dengan semangat yang membakar optimisme seluruh pengurus. Sambil mengepalkan tangan, Beny Nahak memimpin yel-yel kemenangan, “Gatebal… Menang! Menang! Menang! NTT… Juara!”
Yel-yel itu mungkin hanya berlangsung beberapa detik. Namun maknanya jauh lebih panjang. Sebab mulai hari itu, PERGATSI NTT tidak lagi sekadar berbicara tentang sebuah cabang olahraga, melainkan tentang mimpi menjadikan Nusa Tenggara Timur berdiri sejajar dengan daerah-daerah besar melalui prestasi, kerja keras.

Bahwa target tiga medali emas bukan sekadar ambisi seorang ketua organisasi olahraga. Ia adalah simbol perubahan cara berpikir bahwa NTT memiliki kemampuan untuk keluar dari bayang-bayang semu daerah besar.
Ketika mimpi itu diteriakkan bersama dalam yel-yel “NTT Juara”, sesungguhnya yang sedang dibangun Benny bukan hanya semangat bertanding, melainkan juga rasa percaya diri bahwa prestasi lahir dari keberanian bermimpi, kerja keras, dan pembinaan yang tidak pernah berhenti.

“Kami yakin bahwa target tiga medali emas di PON 2028 bahkan lebih, bukanlah angan-angan, melainkan target yang harus diperjuangkan bersama dari semua pihak. Keberhasilan bisa diraih jika ada kolaborasi,” tegasnya. +++ marthen/cnc













