“Manusia boleh berkembang, teknologi boleh semakin maju, tetapi akar budaya jangan sampai kita tinggalkan. Sebab, masyarakat yang maju bukanlah masyarakat yang melupakan masa lalunya, melainkan masyarakat yang mampu membawa nilai-nilai baik dari masa lalu untuk menjawab kebutuhan masa kini dan masa depan”, tegasnya.
Dalam perspektif pembangunan Kota Kupang, pesan tersebut memiliki arti strategis. Bahwa pemerintah tidak hanya dituntut membangun kota secara fisik, tetapi juga membangun kualitas manusia melalui pameran budaya.
Manurut Amsi sebuah kota bisa bertumbuh secara baik membutuhkan masyarakat yang memiliki karakter, mampu menghargai perbedaan, dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap lingkungan sosialnya.
Karena itu, Festival Budaya Manulai 2 dapat dilihat sebagai bagian dari proses membangun “Rumah Bersama”. Sebuah kota tidak akan benar-benar menjadi rumah apabila hanya menyediakan ruang fisik, tetapi tidak memberikan ruang yang sama bagi seluruh etnis, budaya, agama, serta generasi muda untuk tumbuh dan berkembang secara aman, damai, dan penuh persaudaraan.
Pesan pembangunan itu juga dikaitkan dengan sejumlah capaian Pemerintah Kota Kupang. Bahwa Kota Kupang beberapa waktu lalu meraih Terbaik III kategori Akses dan Kualitas Layanan Kesehatan dengan insentif fiskal sebesar Rp1 miliar.

Kota Kupang juga meraih Terbaik II Program Tiga Juta Rumah dengan dukungan 250 unit Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS), serta Terbaik I TP2DD untuk kawasan Nusantara, Maluku, dan Papua (Nusampua).
Bagi Pemerintah Kota Kupang, berbagai penghargaan tersebut bukanlah garis akhir. Penghargaan justru menjadi pengingat bahwa masih terdapat pekerjaan pembangunan dan pelayanan publik yang harus diselesaikan bersama.
Ukuran keberhasilan pemerintah bukan sekadar banyaknya penghargaan, melainkan seberapa jauh kebijakan dan pelayanan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Dalam konteks ini, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting.
Camat Amsi menegaskan, berbagai prestasi yang diraih Kota Kupang tidak semata-mata merupakan hasil kerja pemerintah. Ada kontribusi ASN, masyarakat, swasta, BUMN/BUMD, dunia usaha, tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga berbagai elemen lainnya yang secara bersama-sama ikut membangun kota.











