Suwarno menjelaskan Tim Visitasi terdiri atas jajaran KONI Pusat dan delegasi teknis dari induk organisasi cabang olahraga yang bertugas melakukan penilaian sekaligus finalisasi venue untuk PON 2028.
Menurutnya, Visitasi tidak hanya berlangsung di Kota Kupang, tetapi juga di sejumlah daerah lain di NTT. Lokasi yang dikunjungi mencakup Rote untuk cabang selancar ombak, Labuan Bajo untuk layar, Alor untuk aeromodeling, Ende untuk arung jeram, serta sejumlah wilayah di Sumba dan kabupaten lainnya.
Hasil finalisasi tersebut akan menjadi dasar untuk menentukan kelayakan venue sesuai kebutuhan masing-masing cabang olahraga. “Tidak mungkin kita melakukan PON mempertandingkan cabang-cabang olahraga dengan venue yang boleh dikatakan tidak standar,” tegas Suwarno.
Selain fasilitas pertandingan, Suwarno mengingatkan pentingnya menyiapkan akomodasi dan pelayanan sejak dini. Dengan perkiraan 5.000–6.000 atlet dan total rombongan yang dapat mencapai 12.000–15.000 orang, koordinasi dengan hotel dan berbagai pihak terkait perlu dilakukan lebih awal agar kebutuhan peserta dapat terpenuhi.

Ia meminta seluruh potensi daerah di NTT dilibatkan dalam persiapan PON 2028. Catatan yang disampaikan sejak awal, menurutnya, dimaksudkan agar pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan memiliki waktu yang cukup untuk melakukan perbaikan.
Bagi Kota Kupang dan NTT,
visitasi venue menjadi lebih dari sekadar pemeriksaan teknis. Agenda ini merupakan ujian koordinasi, ketepatan perencanaan, serta kemampuan menerjemahkan komitmen menjadi kesiapan nyata.
Tantangannya bukan hanya memastikan arena memenuhi standar, tetapi juga menghadirkan infrastruktur pendukung, akomodasi, dan pelayanan yang memadai.
Sebab, keberhasilan PON 2028 tidak hanya ditentukan oleh meriahnya pembukaan, melainkan oleh kesiapan pemerintah daerah dalam memberikan pengalaman pertandingan yang aman, layak, dan bermartabat bagi para atlet. +++ marthen/*











