“Target besar di PON 2028 dan persaingan antarprovinsi yang begitu ketat membuat langkah berani ini harus saya ambil. Saya tahu risikonya besar, terutama dari sisi biaya. Namun, harga diri, martabat, dan nama NTT jauh lebih mahal dari semua yang akan kita buat,” tegasnya.
Optimisme kebangkitan Kempo NTT didukung potensi sekitar 23.900 kenshi, dengan lebih dari 9.000 orang di antaranya tercatat aktif. Mereka tersebar mulai dari lingkungan pendidikan hingga kalangan pekerja.
Bagi Julie, jumlah tersebut merupakan modal penting untuk memperkuat regenerasi atlet. Namun, Kempo tidak boleh hanya berorientasi pada kemenangan dan medali, melainkan juga menjadi wadah pembentukan karakter melalui disiplin, kerja keras, ketangguhan, dan integritas.
NTT sendiri memiliki catatan prestasi membanggakan pada PON XIX 2016 di Jawa Barat dengan raihan tujuh medali emas, satu perak, dan lima perunggu. Prestasi tersebut menjadi motivasi sekaligus tantangan bagi kepengurusan baru untuk mengembalikan kejayaan Kempo NTT.
Agenda besar telah menanti, mulai dari Pra-PON 2027, Kejuaraan Dunia di Nagoya pada Oktober 2027, hingga PON XXII 2028. NTT juga dipercaya menjadi tuan rumah cabang olahraga Shorinji Kempo pada ajang PON yang direncanakan berlangsung di NTT, NTB, dan DKI Jakarta.
Kepercayaan tersebut menghadirkan tanggung jawab ganda, yakni menyukseskan penyelenggaraan sekaligus mempersiapkan atlet agar mampu menunjukkan prestasi di hadapan masyarakat sendiri.













