Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo menganalogikan pemimpin itu seperti seorang tukang bangunan yang harus membutuhkan banyak alat (tools).
Citra News.Com, KUPANG – JELANG akhir masa jabatan Fahrensy Funay sebagai Sekretatis Daerah (Sekda) Kota Kupang, bergulir sejumlah nama pengganti Funay. Nama-nama mereka itu diantaranya Ignasius Repelita Lega, Jefrey Pelt, Linus Lusi, dan Bernadinus Mere.
Konon penggodokan sejumlah nama itu adalah calon kuat menuju kursi defenitif Sekda Kota Kupang. Persisnya di era kepemimpinan Wali Kota Kupang, Christian Widodo dan Wakilnya Serena Corsgrova Francis.
Dengan memunculkan nama Ignas Lega jadi Penjabat Sekda Kota Kupang tidak juga berarti mulus mengelinding menuju kursi Sekda defenitif nantinya. Karena masih ada tiga figur lain yang dengan caranya masing-masing berupaya merebut “tiket” defenitif Sekda Kota Kupang dimaksud.
Di sisi lain sederet teka teki itu bisa berubah manakala ada intervensi “kepentingan”. Entah kepentingan politik yang kerap jadi dominan dalam kedudukan sebuah jabatan politik, entah juga unsur politik lainnya seperti sosial, ekonomi, budaya, dan Kamtibmas. Unsur-unsur ini menjadi pertimbangan para pemangku kepentingan, apalagi jabatan Sekda.
Menyimak isi sambutan Ketua DPRD, Elvis Richard Odja dan Wali Kota Kupang Christian Widodo, publik Kota Kupang tentunya punya teka teki beragam jiia mengacu pada sejumlah kepentingan tersebut diatas.
Mengungkap fakta, saat pelantikan Penjabat Sekda Kota Kupang Ignasius Repelita Lega, SH pada Rabu (9/4). Dalam sambutannya Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo menggarisbawahi peran strategis seorang Sekda sebagai motor koordinasi administrasi pemerintahan daerah sekaligus pelaksana berbagai kebijakan.
Mantan anggota DPRD Provinsi NTT ini mengibaratkan, seorang pemimpin seperti tukang bangunan yang tak cukup hanya memiliki satu alat (tool). Tapi harus memiliki banyak alat (tools).
“Pak Ignas, dalam menyelesaikan masalah, harus punya banyak tools. Jangan seperti tukang bangunan yang hanya punya palu. Kalau hanya punya palu, semua masalah akan dianggap sebagai paku,” ungkap Christian Widodo, seraya menekankan pentingnya pendekatan yang adaptif dan solutif.












