TIDAK Urus PROYEK Fisik Tapi Mendatangkan WISATAWAN

Marius Jelamu : Kita tidak urus proyek fisik. Tugas kita Dinas Pariwisata adalah mempromosikan obyek-obyek pariwisata dan mendatangkan wisatawan. Meskipun ada beberapa item pekerjaan fisik dari DAU kita Swakelolakan ke pihak ketiga. Namun admistrasinya tetap ada di pihak kita.

Kupang, citra-news.com – KEPALA Dinas Pariwisata Provinsi NTT, Dr. Marius Ardu Jelamu, M.Si mengatakan, pada 10 (sepuluh) tahun terakhir ini dunia kepariwisataan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berkembang maju secara signifikan. Jika dibandingkan dengan kondisi di tahun-tahun sebelumnya.

“Dulu mana ada pesawat yang lalu lalang setiap harinya. Hotel-hotel jumlahnya tidak seberapa. Juga berapa sih jumlah orang yang menginap di satu hotel. Tapi sekarang wouw…luar biasa. Hotel terbangun dimana-mana dan selalu full dengan tamu-tamunya. Penerbangan lalu lalang setiap hari. Landasan pacu pun diperluas. Itu indicator-indikator kemajuan pariwisata yang secara fakta tidak kita pungkiri, ”kata Marius di Kupang, Senin 02 Juli 2018..

Menurutnya, setelah Sail Komodo tahun 2013 dunia kepariwitasaan di NTT semakin maju saja. Salah satu contohnya Labuan Bajo yang secara nasional ditetapkan sebagai salah satu destinasi (obyek) dari 10 destinasi baru di Indonesia. Tinggal sekarang bagaimana upaya pengembangan dan peningkatan infrastruktur dan fasilitas yang dibutuhkan.

“Untuk membangun fasilitas dan sarana prasarana itu bulan tugas kami di dinas pariwisata. Tapi itu tugas dinas pekerjaan umum (PU). Sehingga tidak benar kalau anggota DPRD NTT menyoroti dinas pariwisata soal minimnya sarana prasarana fisik di obyek-obyek pariwisata. Karena kita tidak membangun jalan dan jembatan juga fasilitas fisik lainnya. Tugas kita mempromosikan dan mendatangkan wisatawan ke NTT,”paparnya.

Ditemui di ruang kerjanya kepada citra-news.com Marius menjelaskan, ada beberapa indikator yang membuktikan kepariwisataan berkembang maju di Provinsi NTT, terutama pada 10 (sepuluh) tahun belakangan ini. Bahwa penerbangan ‘Ke’ dan ‘Dari’ NTT setiap harinya ramai lancar. Yang pasti setiap penerbangan ada bule (turis/wisatawan asing) dan wisatawan domestic. Karena yang namanya wisatawan itu baik wisatawan domestic Indonesia dan regional juga mancanegara. Itu konsep wisatawan, terang Marius.

Hal kemajuan lain, tambah Marius, adalah banyakya tamu di setiap hotel artinya karena permintaan tinggi. Kemudian lalu lalang manusia  (lalu lintas orang) dari satu tempat atau kota ke kota yang lain di NTT. Ini menunjukan dinamika orang tinggi. Apalagi didukung dengan penerbangan domestic langsung dari Kupang ke beberapa ibukota kabupaten di Flores. Atau dari Kupang ke Atambua pergi pulang (vice versa); Kupang – Rote, Kupang – Sabu, meski baru satu pesawat SUSI AIR. Dan Kupang – Tambolaka di Sumba Barat Daya, dan Kupang – Waingapu Sumba Timur. Serta penerbangan langsung Kupang – Lombok via maskapai WINGS AIR.

“Ini semua menunjukkan kalau NTT setiap harinya tidak pernah sepi dengan wisatawan. Dan ini adalah tugas kita. Tugas dinas ke-PU-an dan atau dinas perhubungan membangun sarana prasarana yang dibutuhkan. Guna memperlancar aksesibilitas di semua destinasi yang menjadi daerah tujuan wisatawan. Demikian juga tidak kalah pentingnya menjadi tugas Dinas Kominfo dalam memfasilitas kebutuhan informasi public. Jika di salah satu destinasi signal kurang lancar (lelet/ngadat) itu tugasnya Dinas Kominfo untuk mengkomunikasikan dengan pihak Telkomsel. Dengan model pembangunan yang sinergis seperti inilah yang dibutuhkan dalam mendukung pembangunan sector kepariwisataan di Provinsi NTT,”jelas dia.

Swakelola Artinya Kelola Sendiri

Berkaitan dengan pengelolaan dana alokasi umum (DAU), Marius mengakui, DAU puluhan miliar yang dialokasikan setiap tahunnya adalah untuk belanja kebutuhan dinas. Mulai dari kebutuhan belanja ATK (alat tulis kantor), belanja pegawai, juga belanja pengadaan barang dan jasa untuk item kerja-kerja fisik atau pekerjaan proyek, dan lain-lainnya.

Didalam belanja pengadaan barang dan jasa ini, jelas Marius, secara administrasi dilakukan oleh dinas melalui bidang-bidang dan bagian-bagian. Sehingga kalau mau dikatakan Swakelola DAU oleh dinas kami ini, iya juga. Swakelola kan artinya kelola sendiri.

Ada beberapa pekerjaan fisik yang dikerjakan oleh pihak ketiga. Ada yang kita tenderkan melalui system pelelangan tapi ada juga pekerjaan PL (Penunjukan Langsung). Tapi intinya pihak instansi/dinas yang swakelola dana. Itu pasti. Karena secara admisnitrasi pertanggungjawaban keuangan ada di pihak instansi/dinas selaku pengelola kegiatan.

“Namanya juga swakelola yang artinya kelola sendiri. Meskipun item pekerjaan fisik akan tetapi secara adminisitrasi tetap menjadi tanggung jawab kami dinas pariwisata. Jadi bukan swakelola lalu harus ada tenaga teknis ke-PU-an. Tapi dinas ini diswakelola oleh bidang-bidang sesuai dengan Tupoksinya. Sehingga kalau instansi/dinas lain Swakelola itu harus ada tenaga teknis itu, maka tidak untuk dinas kami. Karena tanggung jawab secara administrasi adalah bidang-bidang atau bagian sesuai dengan Tupoksi masing-masing,”tegasnya berulang.

Menjawab besaran DAU, kata mantan Pejabat Bupati Manggarai Barat ini, besar kecilnya DAU dalam setiap tahun anggaran berbeda-beda jumlahnya. Pemanfaatan dana-dana tersebut diantaranya kegiatan TDF dan TDT (Tour de Flores dan tour di Timor). Juga beberapa kegiatan Festival semisal Festival Tenun Ikat, Festival Sandlewood, Festival Seni dan Budaya di Ende pada bulan Soekarno (Soekarno Moon), kegiatan Expo, Surving, dan lain-lain.

“Semua kegiatan dari dana alokasi umum (DAU) ini kita kelola sendiri (Swakelola). Yang pertanggungjawaban secara adminsitrasinya ada di masing-masing bidang dan bagian. Cara swakelolanya ada yang melalu tender atau pelelangan. Contohnya pengadaan baju kaos. Percetakan buku, pamflet/baliho, kalender event, dan lain-lain di-Swakelola-kan,”bebernya.

 

Sementara Kepala Sub Bagian (Kasubag) Keuangan Dinas Pariwisata Provinsi NTT, Rence R. Liu  yang turut hadir saat itu menambahkan, DAU tahun anggaran (TA) 2017 sebesar Rp 23 miliar. Sedangkan DAU untuk TA 2018 sebesar Rp 15 miliar. “Jadi bukan Rp 14 miliar, bapak,”ucap Liu.

“Iya, kalau item pekerjaan dengan nilai proyek diatas Rp 200 juta kita tenderkan ke pihak ketiga. Sedangkan nilai dibawah Rp200 juta kita PL-kan saja. Yang bertanggungjawab untuk PL (Penujukan Langsung) ke pihak ketiga  dan semua administrasinya adalah bidang-bidang dan bagian di dinas ini,”tegas Marius yang diamini Liu. +++ cnc1

Gambar : Dr. Marius Ardu Jelamu, M.Si. (Doc. marthenradja/CNC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *