Harga MINYAK Indonesia TURUN USD 2,10 per Barel

Walaupun harga bahan bakar minyak (BBM) Indonesia turun namun harga minyak di wilayah perbatasan NKRI, salah satunya di Provinsi Nusa Tenggara Timur meningkat tajam sekitar 80-an persen dari harga normal nasional per liter per jenis BBM. Pihak siapakah berspekulasi?

Jakarta,citra-news.com – TIM Harga Minyak Indonesia menyebutkan, rata-rata harga minyak Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) mencapai USD 70,36 per barel pada Juni 2018. Harga ini turun USD 2,10 per barel dibandingkan Mei 2018 yang sebesar  USD 72,46 per barel.

Dikutip dari situs resmi Ditjen Migas Kementerian ESDM, Kamis 5 Juni 2018, hasil perhitungan Formula ICP SLC pada Juni 2018, tercatat sebesar USD 70,73 per barel. Angka ini turun USD 2,42 per barel dari bulan sebelumnya yang sebesar USD 73,15 per barel.

Tim Harga Minyak melaporkan, perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar internasional pada Juni 2018 lebih rendah dibandingkan Mei 2018. Tercatat, Dated Brent turun sebesar USD 2,60 per barel dari USD 76,93 per barel menjadi USD 74,33 per barel. Sementara Brent (ICE) turun sebesar USD 1,07 per barel dari USD 77,01 per barel menjadi USD 75,94 per barel.

Adapun WTI (Nymex) turun sebesar USD 2,66 per barel dari US$ 69,98 per barel menjadi USD 67,32 per barel. Sedangkan Basket OPEC turun sebesar USD 1,10 per barel dari USD 74,11 per barel menjadi USD 73,01 per barel.

Penurunan harga minyak mentah utama di pasar internasional disebabkan beberapa factor. Diantaranya permintaan minyak mentah global 2018. Ini mengacu pada laporan OPEC dan International Energy Agency (IEA) bulan Juni 2018. OPEC memperkirakan terjadi penurunan permintaan di negara-negara Non-OECD, Timur Tengah dan Amerika Latin akibat penurunan permintaan akan minyak mentah OPEC. Berikut,  gejolak politik dan penurunan subsidi di Timur Tengah dan melemahnya perekonomian di Amerika Latin.

IEA memperkirakan penurunan permintaan pada semester kedua 2018, selain akibat potensi peningkatan produksi dari negara-negara OPEC dan Rusia sebagai kompensasi atas turunnya produksi minyak mentah dari Iran dan Venezuela.

Penyebab lain seiring peningkatan harga minyak mentah global, perang kebijakan proteksi perdagangan diantaranya negara-negara Eropa dan Kanada, serta penguatan nilai tukar Dolar Amerika Serikat yang berpotensi menciptakan perlambatan ekonomi yang akan berdampak pada konsumsi minyak. Faktor lain, kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi peningkatan pasokan minyak mentah global, setelah OPEC memutuskan untuk meningkatkan produksi minyak mentah dengan tambahan produksi sebesar 600 ribu barel per hari. Potensi pengenaan pajak sebesar 25 persen atas impor minyak mentah AS yang akan diterapkan oleh pemerintah China, sebagai tanggapan atas kebijakan perdagangan AS terhadap China. Serta perlambatan aktifitas ekonomi dunia akibat penguatan nilai mata uang Dolar AS yang membebani sejumlah negara berkembang dan beberapa negara OECD.

Acuan Brent Menguat Imbas Pasokan AS Turun

Harga minyak acuan Brent menguat didorong penurunan persediaan minyak Amerika Serikat (AS) untuk minggu kedua berturut-turut dan ada ancaman dari pimpinan Iran. Harga minyak Brent naik di atas USD 78 per barel usai Komandan Pengawal Revolusi Iran menyatakan siap untuk cegah ekspor minyak mentah jika penjualan minyak Iran dilarang oleh AS.

Harga minyak berjangka Brent untuk pengiriman September naik 48 sen menjadi USD 78,24 per barel. Sedangkan harga minyak berjangka AS naik 19 sen menjadi USD 74,33 per barel. Pasar AS tidak akan memiliki harga penutupan karena libur hari kemerdekaan AS.

Presiden Iran Hassan Rouhani mengancam untuk ganggu pengiriman minyak dari negara tetangga jika AS terus menekan semua negara untuk berhenti membeli minyak Iran.

Sanksi AS terhadap ekspor minyak mentah Iran, force majeure di Libya dan penutupan pipa yang tidak direncanakan di Nigeria telah mengaburkan pasokan meski hasil produksi minyak meningkat oleh the Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC).

“Idealnya, peningkatan produksi minyak global atau regional akan memiliki tekanan ke harga. Namun, ini tidak ada waktu normal karena pemadaman pasokan hampir terjadi setiap minggu,” ujar Analis PVM Oil Associates Tamas Varga, seperti dikutip dari laman Reuters, Kamis 5 Juli 2018.

Persediaan minyak mentah turun 4,5 juta barel dalam sepekan hingga 29 Juni 2018 menjadi 416,9 juta. Analis perkirakan penurunan 3,5 juta barel. Sementara itu, stok minyak mentah di pusat pengiriman Cushing, Oklahoma turun 2,6 juta barel. Stok minyak mentah di fasilitas penyimpanan minyak di Cushing turun usai terjadi pemadaman di fasilitas minyak Syncrude sekitar 360 ribu barel per hari di dekat Fort McMurray, Alberta. +++ cnc/tirto.id

Gambar : Antrian BBM di Sabu Raijua, salah satu kabupaten yang menjadi titik tapal batas Provinsi Nusa Tenggara Timur- INDONESIA dengan Negara AUSTRALIA. Doc. CNC/kolobunga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *