NTT Sentra Pengembangan GARAM Nasional

Program nasional menjadikan Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai salah satu wilayah sentra pengembangan  garam di Indonesia, mengingat NTT adalah wilayah potensial garam.Juga dipandang mampu menjawab permintaan pasar dan kebutuhan garam secara nasional yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Kupang, citra-news.com –PROVINSI Nusa Tenggara Timur memiliki potensi garam yang berlimpahrua dan  tersebar hampir di semua kabupaten/kota. Hal ini mendorong minat investor baik asing maupun domestic untuk berinvestasi membangun industry garam.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan PTSP Provinsi NTT, Ir. Semuel Rebo, M.Si di ruang kerjanya, Selasa 7 Agusuts 2018.

Beberapa kawasan potensial pengembangan garam dimaksud, sebut  Rebo, diantaranya di Kabupaten Malaka dengan luasan lahan lebih kurang 1000 hektar. Saat ini sedang diuji coba sekitar 700 hektar. Di Wini Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dan di Bena Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) sedang dalam tahapan pembebasan lahan.

“Berbicara soal lahan usaha apapun dan dimanapun d NTT ini, investor seringkali menghadapi permasalahan soal status tanah ulayat (tanah suku). Sehingga Kemenko Maritim mengingatkan agar pemerintah daerah dan pihak Badan Pertanahan Nasional segera melakukan pemetaan dan sertifikasi lahan pengembangan garam. Juga selalu melakukan sosialisasi dan pendekatan dengan tokoh adat dan tokoh masyarakat setempat,”kata Rebo.

Di Mbay Kabupaten Nagekeo investor membangun pabrik pengolahan dan menyerap garam yang dihasilkan masyarakat. Sementara industri garam di Kabupaten Sabu Raijua dibangun oleh Pemda. Hasil produksinya sudah dipasarkan dan diekspor ke luar negeri. Di Kabupaten Rote Ndao lahan garam yang tenga dikembangkan seluas 50 hektar.

Dari semua kabupaten yang ada, kawasan pengembangan garam yang lebih luas, tegas Rebo,  adalah Kawasan Teluk Kupang di Kabupaten Kupang. Luasannya  hingga mencapai 3000-an hektar. Di dalamnya ada beberapa investor dan pengembangannya melalui pola BAGI HASIL. “Artinya hasil produksi garam dibagi sekian persen untuk warga masyarakat pemilik lahan. Pola ini semestinya menjadi contohbagi kabupanten lainnya di NTT. Penerapan pola ini juga akan mampu meredam gejolak tuntutan masyarakat akan status lahan usaha tersebut,”jelas dia.

Rebo menambahkan, Pemda Kabupaten Kupang dan masyarakat meneken kesepakatan Bagi Hasil bersama investor ini lantaran sebelumnya PT Panggung Guna Ganda dipandang telah membohongi masyarakat. Bahwa akan membangun pabrik pengolahan garam rakyat. Namun pada kenyataannya setelah mengantongi izin usaha perusahaan ini gagal melakukan.

Oleh karena itu PT Pucuk Kemasan Garam Dunia dalam memanfaatkan lahan garam sekitar 300-an Hektar (eks dari PT Panggung Guna Ganda) ini sudah secara optimal menerapkan Pola Bagi Hasil ini. Sementara investor lainnya yakni PT Garam Indonesia (GIN) juga menerapkan pola yan sama. Dengan kapasitas produksi garam yang dihasilkan sebanyak 40.000 ton pertahun.

“Ini baru satu lokasi usaha. Dengan asumsi jika dari semua kabupaten potensial garam dengan hasil produksi garam yang sebanding dengan PT GIN maka layak secara nasional menetapkan NTT menjadi Sentra Garam Nasional,”tandasnya. +++ cnc1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *