Merayakan sukacita tahbisan uskup ini adalah titik awal pergumulan menuju pergulatan panjang. Yang mana didup dengan situasi yang miskin tertindas dan terbatas dengan kekurangan. Harus kita akui bahwa masyarakat kita serba dalam lingkaran ketidakadilan, kemiskinan dan kekerasan dan kita tetap terpanggil untuk memutuskan lingkaran setan itu.
Juga tahbisan suci ini akan menjadi sempurna ketika iman kita tidak begitu menjadi elitis, tertutup dan diskriminatif. Perayaaan ini hendaknya membawa sukacita injil dalam hidup.
Sementara Uskup Denpasar Mgr. Silvester Suri dalam kotbahnya menyebut motto Mgr. Ewaldus Martinus Sedu adalah ‘Duc In Altum’ bisa ditafsirkan sebagai panggilan kegembalaan. Menjadi uskup adalah kehormatan untuk dapat melayani umat dengan sungguh-sungguh. Ini menjadi tugas dan tanggung jawab yang maha berat, kata Mgr.Silvester. Mewartakan Injil, melayani sakramen, dan melaksanakan tugas kegembalaan.
“Ini tanggung jawab yang berat karena di depan ada serigala yang akan mengaum umat. Ada pengajar palsu yang akan menyesatkan umat. Apalagi di era sekarang. Karenanya ‘Duc In Altum’ yang menjadi motto panggilan kegembalaan ini juga menunjukkan kesungguhan menjadi seorang uskup, menjadi penjala manusia. Memberikan pelayanan secara mendalam dari program Sinode (peayanan) sebelumnya,”beber Mgr. Silvester. +++ amor/cnc
Reporter : Armando WS/CNC
Editor : marthen radja
Gambar : Mgr. Ewaldus Martinus Sedu, disambut tarian JA’I dari Kabupaten Ngada di Gelora Samador Maumere, Rabu 26 September 2018
Foto : doc.CNC/dinas kominfo kab.sikka











